Inilah Jawaban Dirut Pertamina Soal Tidak Turunnya Harga BBM

oleh
SPBU Pertamina.

JAKARTA, REPORTER.ID – Dirut Pertamina, Nicke Widyawati menjawab kritikan soal harga BBM yang tak kunjung turun di tengah melemahnya harga minyak dunia. Menurut dia, sebenarnya bisa saja Pertamina menurunkan harga BBM atau menjualnya dengan harga yang lebih murah, namun ada hal yang akan dikorbankan untuk itu.

“Sebetulnya bagi Pertamina kalau ingin, simpel saja harga itu murah, tentu cost of production-nya kita cari yang semurah mungkin, kita beli saja yang murah, kita tutup semua kilang, kita tutup hulu migas yang ada,” tegasnya dalam diskusi virtual yang disiarkan via Facebook, kemarin.

Nicke mengakui bahwa faktanya hari ini, harga minyak yang dihasilkan Pertamina lebih mahal daripada yang djual oleh Amerika Serikat. Hal itu disebabkan negara Paman Sam sedang kelebihan pasokan alias oversupply.

“Mereka di sana itu sudah kelebihan produksinya, karena menutup produksi itu jauh lebih mahal dibanding membuang minyaknya itu sendiri. Makanya mereka itu bilang ‘ambil deh ini minyak di sini, saya tidak bisa setop dan saya tidak punya tempat penyimpanan, gratis tapi ambil ya ke Amerika’. Kira-kira begitu karena mereka nggak mau setop (produksi) juga,” katanya.

Menurut dia, bisa saja Pertamina berfungsi layaknya trader, kerjaannya hanya membeli minyak dari negara lain ketika harganya murah.

“Tapi kemudian, kalau hulu migas ditutup, kilang-kilang ditutup, kita ini akan kembali lagi ke zaman dulu, tergantung dengan impor, dan ketika harga minyak (dunia) naik lagi, ini kan akan merangkak naik, terus kita terlambat lagi, terus kita teriak-teriak lagi ‘ini mafia nih mafia sukanya impor’ gitu,” ujarnya.

Lalu, kalau negara pemasok minyak ke Indonesia tiba-tiba lakukan lockdown di tengah pandemi Covid-19, Indonesia bisa kehabisan pasokan.

“Jadi maksud saya begini, dalam situasi ini kita kan juga harus tetap melihat ke depan secara jangka panjang tentang kemandirian energi, ketahanan (energi),” ujarnya.

Nicke mengatakan, pihaknya tidak bisa selalu membandingkan harga minyak di negara lain yang lebih murah dengan di Indonesia.

‘’Kecuali kalau kita memang ini trader ya, trading company. Trading company mudah sih beli jual beli jual. Tapi apa kabarnya dengan ketahanan dan kemandirian energi? Ya kan, Pertamina kan BUMN, dan harus meng-create job, meningkatkan ekonomi nasional, menghasilkan ekosistem dan segala macam,” katanya menambahkan.

Di bagian lain penjelasannya, Nicke menjawab nyinyiran pihak-pihak tertentu yang mengkritik tidak cepat kelarnya pembangunan kilang minyak yang digarap oleh Pertamina. Ia mengatakan, pembangunan kilang minyak tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh waktu untuk menyelesaikannya.

“Banyak juga kalangan yang tetap nyinyir mengatakan ‘ini kilang kok nggak jadi-jadi’. Ya semua harus tahu juga bahwa membangun kilang itu bukan seperti membalikkan tangan ya. Perlu waktu 3-4 tahun untuk membangun kilang,” katanya.

Ia mengaku, menggarap proyek di Indonesia tidak mudah, apalagi yang berurusan dengan pembebasan lahan. “Harus tahu juga, nggak simpel ya membangun proyek di negara ini. Apalagi kalau itu terkait dengan pembebasan lahan. Tetapi Alhamdulillah, so far (sejauh ini) ini bisa kita jalankan,” ujarnya.

Nicke memastikan sejumlah proyek yang digarap Pertamina tetap berjalan, sekalipun ada pandemi Covid-19. Ia bersyukur karena sejauh ini tidak ditemukan kasus positif virus Corona di area proyek Pertamina.

“Jadi untuk pembangunan kilang kita tetap jalankan. Jadi walaupun pandemi Cobid, kita kan sudah mulai membangun kilang yang di RDMP Balikpapan. Sejak tahun lalu kan sudah kita mulai. jadi progres di lapangan walaupun masa pandemi Covid ini tetap berjalan,” ujarnya.

Dia meyakinkan bahwa proyek kilang Balikpapan penyelesaiannya tidak terlambat, sesuai target akan rampung pada 2023. “Ada yang menarik nanti bulan Oktober akan ada, mulai ada installation dari equipment 700 ton. Mulai ada nanti pemasangan equipment di lapangan. Dan kalau dilihat kegiatan di lapangan juga sudah mulai masif. Dan alhamdulillah ini bisa kita selesaikan sesuai target itu, akan selesai di Juli 2023 untuk yang RDMP Balikpapan,” ujarnya.

Kemudian untuk proyek kilang di Tuban, dia menyebut pembebasan lahannya sudah 95 % selesai, sisanya akan diselesaikan melalui reklamasi. Pemerintah sudah memberikan izin terkait hal tersebut, namun saat ini berhenti sementara karena ada PSBB. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *