Jangan Sampai New Normal Jadi New Problem dan New Discrimination

  • Bagikan
Politisi PAN yang Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Zita Anjani.

JAKARTA, REPORTER.ID – Politisi PAN yang Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Zita Anjani kembali mengkritik kebijakan Mendikbud Nadhiem Makarim soal belajar dari rumah. Ia menyebut, bebijakan belajar dari rumah baik tapi tanpa solusi.

“Apa yang salah dengan pola berpikir belajar di rumah? Gagasannya baik, tapi tanpa solusi. Sudahkan Kemendikbud membuat inovasi kurikulum untuk menerapkannya? Oke, kita mau belajar di rumah. Bagaimana caranya? Bagaimana dengan anak-anak yang tidak memiliki gadget di rumahnya? Itukan nggak ada solusinya,” kritik Zita, kemarin.

Di tempat terpisah, Wakil Ketua MPR dari NasDem Lestari Moerdijat meminta pemerintah segera membuat panduan berdasarkan materi ajar. Panduan tersebut untuk menindaklanjuti keputusan bersama empat menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19).

“Pada pengumuman panduan penyelenggaraan pembelajaran tahun ajaran baru Senin (15/6/2020) lalu hanya mengatur teknis pelaksanaan, belum ada panduan berdasar materi ajar. Jadi pemerintah harus segera mempersiapkan panduan berdasarkan materi ajar,” katanya.

Zita menyinggung soal kebijakan membuka sekolah di zona hijau Covid-19. Ia pun mempertanyakan nasib sekolah yang berada di zona nonhijau. Mengingat, saat ini DKI Jakarta masih termasuk ke dalam zona merah.

“Intinya itu yang paling penting hanya zona hijau yang boleh tatap muka. Permasalahannya, sebenarnya nggak ada yang salah, justru kita senang aturan sudah ada sudah jelas. Tapi, yang belum ada bagaimana kita aplikasikannya. Bagaimana dengan zona merah, zona kuning? Kalau sampai zonanya nggak hijau-hijau bagaimana nasib pendidikannya? Jangan sampai mengarah diskriminasi, edukasi harus untuk semua,” ujarnya.

Zita mengungkapkan bahwa selama ini Kemendikbud membuat kebijakan pendidikan di Indonesia dengan menyamaratakan kondisi setiap daerah. Padahal, kata dia, setiap daerah memiliki problem pendidikannya masing-masing.

“Banyak sekali masalah yang terjadi karena solusinya one solution fit to all, semuanya masuk ke satu solusi kan gabisa di Indonesia itu kondisi pendidikan macam-macam, ada yang nggak mampu, yang sedang, yang di pedalaman, yang di kota itukan harus ada solusinya. Makanya saya bilang jangan sampai menuju new normal jadi new problem dan new discrimination,” tandasnya.

Zita pun menemukan sejumlah permasalahan terkait sistem pembelajaran selama pandemi corona di DKI Jakarta. Salah satunya, banyak anak-anak yang tidak belajar secara maksimal.

“Di DKI sendiri saya masih banyak melihat anak-anak enggak belajar. Yang nggak belajar gitu loh dan gurunya juga nggak tahu konsep belajar online. Ada juga belajar cuman dikirimin Youtube, nggak jelas,” tegasnya.

Memasuki new normal, Zita menolak pendidikan Indonesia yang mengarah pada diskriminasi. Ia pun menunggu inovasi-inovasi yang diberikan Mendikbud.

“Sekali lagi saya menolak pendidikan di Indonesia harus mendiskriminasi. Semuanya berhak mendapatkan pendidikan. Saya menolak untuk merdeka belajar dan new normal education dan inovasi pendidikan jadi saya tunggu kebijakan. Jadi jangan lagi mas menteri bilang nggak ada solusi. Sudah ada solusi, sudah ada strategi terpampang nyata jadi mudah-mudahan ini bisa diaplikasikan. Sekali lagi saya kritik dan berikan solusi,” tegasnya. ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *