Saatnya Direvisi, Sriwijaya Bukan Kerajaan Tapi Kedatuan

oleh
Balai Arkeologi Sumatera Selatan (WAHYU)

PALEMBANG, REPORTER.ID — Sriwijaya itu sebuah kedatuan, bukan kerajaan. Sedangkan kepala negaranya pun bukan raja melainkan datu sebagaimana ciri budaya Melayu. Kesimpulan ini didasarkan pada isi prasasti prasasti Sriwijaya yang ditemukan di sekitar Palembang dan Bangka.

Demikian diungkapkan DR Wahyu Risky Andhifani, peneliti muda Balai Arkeologi Sumatera Selatan pada Bincang Pusaka Sriwijaya dalam Googlemeet di Palembang, Kamis (25/6/2020).

Googlemeet yang berlangsung di Palembang (REPORTER)

Acara ini diselenggarakan komunitas Sahabat Cagar Budaya pimpinan Robby Sunata yang diikuti sekitar 150 peserta. Mereka ini berasal dari Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Arkeologi Nasional Jakarta, dari Yogya, bahkan dari Jepang yaitu Riela Diandra seorang dosen pada Waseda University, Tokyo.

Lebih lanjut Wahyu menegaskan dari tujuh prasasti yang sebagian besar berhuruf Palawa dengan bahasa Melayu Kuno itu tak satupun menyebut Sriwijaya sebagai kerajaan dari abad ke-6 sampai abad ke-11 itu. Prasasti- prasasti tersebut adalah Kedukan Bukit, Bukit Siguntang, Kota Kapur 1 dan 2 , Baturaja serta prasasti Boom Baru.
Karena itu Wahyu mengharapkan ada revisi penyebutan Sriwijaya yang berpuluh tahun sebagai kerajaan menjadi kedatuan.

Namun bila ada pihak yang ingin membantah dipersilakan asal memiliki dasar kuat dengan bukti- bukti yang ada.
Lebih lanjut Wahyu menegaskan , ada dua prasasti yang menyebut masalah “datu”. Pertama Prasasti Kota Kapur 1 yang ada di Museum Nasional yang menyebut “kedatuan”. Dan kedua prasasti Baturaja yang ditemukan di Baturaja di tepi Sungai Komering yang menyebut “datu”.

Foto-foto: Sahabat Cagar Budaya

Menanggapi beberapa daerah lain bahkan negeri jiran mengklaim Sriwijaya sebagai miliknya, Wahyu menegaskan Sriwijaya milik bersama. “Milik semua,” tandasnya.

Beberapa pihak yang mengklaim Sriwijaya sebagai miliknya selain Sumatera Selatan juga Jambi, Lampung, Riau, Malaysia, bahkan Thailand.

Peneliti muda arkeologi sejarah dan epigrafi Balai Arkeologi Sumsel ini menyebutkan selain prasasti batu ada pula prasasti logam dari jenis tembaga. Yaitu prasasti yang ditemukan di Sungai Batanghari dekat kompleks candi Muaro Jambi.

Acara paparan yang disampaikan Wahyu Risky Adhifani alumnus Arkeologi Epigrafi Universitas Udayana itu dilanjutkan sesi tanya jawab yang dipandu Anita Rahajeng dan Robby S.

Atas pendapat peserta Wahyu menepis adanya hubungan Kedatuan Sriwijaya dengan Kerajaan di Bali. Sebab zamannya berlainan. Bila Sriwijaya hanya sampai abad 11 sedang Bali baru abad 13.

Mengenai banyaknya prasasti Sriwijaya yang bercerita soal kutukan, Wahyu menjelaskan waktu itu sering terjadi pembangkangan. Sebab kedatuan Sriwijaya terdiri dari kedatuan kecil yang rakyatnya bebas memeluk agama dan keyakinannya masing masing. Maka dari itu meskipun Sriwijaya pemerintahan Buddha rakyatnya masih penganut Hindu tidak menjadi masalah. Itu ditunjukkan pada Prasasti Kota Kapur yang Buddha namun terdapat arca Wisnu. (Pri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *