Kramat Jati dan Hek, Sejarahnya Terkait Dato Tonggara dan Peternakan Sapi

oleh
Kantor Kelurahan Kramat Jati
Kantor Kelurahan Kramat Jati

JAKARTA, REPORTER.ID- Seperti telah dituturkan sesepuh Kelurahan Makasar, Jakarta Timur, Saimih (80) melalui anaknya Santoso, bahwa peninggalan sejarah kelurahan itu berada di Kramat Jati tepatnya di belakang Kantor Kecamatan Kramat Jati. Hal itu diakui Lurah Kramatjati Husni Abdullah ketika dihubungi di kantornya, Jumat (10/7/2020).

Makam Dato Tonggara di Kramat Jati.(Foto: Warta Kota)
Makam Dato Tonggara di Kramat Jati.(Foto: Warta Kota)

“Betul, peninggalan itu makam Dato Tonggara ada di RT 14, RW 11,” kata Lurah Husni. Ada lagi tempat yang namanya memiliki rentetan sejarah panjang sejak zaman Hindia Belanda yaitu Hek. Kata Husni , Lapangan Hek itu masuk RT 07/11 Kramat Jati.

 

Lurah Kramat Jati meninjau kampung rawan banjir. (Ist).
Lurah Kramat Jati meninjau kampung rawan banjir. (Ist).

Berdasarkan buku Asal Usul Nama Tempat di Jakarta yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tahun 2004, tempat yang disebut Hek terletak antara Kantor Polsek Kramat Jati dan Kantor Kecamatan Kramat Jati sekitar pertigaan Jl Raya Bogor dan jalan menuju TMII dan Pondok Gede.
Kata Hek dari bahasa Belanda artinya pagar, atau pintu pagar.

Walikota Jakarta Timur meninjau rapid test gratis di Kramat Jati
Walikota Jakarta Timur meninjau rapid test gratis di Kramat Jati

Dari keterangan penduduk setempat, dahulu di tempat itu ada pintu pagar dari kayu bulat (dolken) yang ujungnya diruncingkan. Pintu tersebut berengsel besi besar bercat hitam. Gerbang inilah sebagai pintu keluar masuk kompleks peternakan sapi perah pada zaman Hindia Belanda. Dari peternakan itu dihasilkan susu segar yang dikonsumsi warga Batavia. Namun kini telah menjadi Kompleks Damkar dan Kompleks Polsek Kramat Jati.

Orang Berilmu
Menurut sejarah maupun legenda yang dituturkan dari mulut ke mulut, wilayah Jakarta Timur dari kecamatan Pasar Rebo, Kramat Jati, Makasar, Pondok Gede, ke utara sampai Kecamatan Duren Sawit, Cakung dan Kecamatan Pulogadung dahulunya merupakan hutan jati. Makanya banyak tempat atau kelurahan yang bernama Jati. Di antaranya Pangkalan Jati, Kali Jatikramat, Kelurahan Jatinegara (Kecamatan Cakung), Jatinegara Kaum dan Kelurahan Jatirawangun (Kecamatan Pulogadung) yang kemudian mekar menjadi 2 kelurahan yaitu Kelurahan Rawamangun dan Kelurahan Jati.

Di sekitar Stasiun Klender dulu penimbunan kayu jati. Inipun berkembang menjadi sentra industri kerajinan mebel kayu jati sampai radius 1 km. Seperti di Jl Pahlawan Revolusi, Jl Bekasi Raya dan Jl Jatinegara Kaum.

Penulis juga masih ingat antara tahun 1970- 1980-an masih ada pohon pohon jati di pinggir Jalan Raya Bogor. “Sekarang pohon jatinya sudah di toko dan jadi mebel,” ucap Lurah Husni Abdullah berseloroh.

Menurutnya RW 11 ini sering menjadi sasaran berbagai gerakan gotong royong masyarakat terutama untuk kebersihan dan bantuan kepada warga yang kurang mampu.

Baik Walikota Jakarta Timur M Anwar maupun Wakil Gubernur DKI Jakarta pernah berkunjung ke situ
Di RW 011 itu pula ada rumah panggung hasil bedah kawasan oleh Baznas Bazis DKI pada 7 rumah warga RT 010/011 bulan April silam. Ketujuh rumah itu tadinya rusak berat diterjang banjir dari luapaan Kali Cipinang awal tahun 2020.

Ketua RW 011 Hadiyar mengakui, sekitar 2/3 wilayahnya termasuk daerah banjir. “Hanya sepertiga wilayah saja tempatnya tinggi termasuk RT 14 lokasi kantor Kecamatan Kramat Jati dan makam Dato Tonggara,” kata Hadiyar yang berprofesi guru itu.

Dikatakannya, kisah Dato Tonggara ini diketahui dari penuturan sesepuh setempat bahwa tokoh itu dari Makasar yang memiliki ilmu yang tinggi. Suatu saat dihadang para preman pasar dan terjadi perkelahian yang dimenangkan Dato Tonggara. Sejak itu ia menjadi tokoh yang disegani hingga meninggal dunia di situ.

Namun dari tulisan Riyan Hidayat, alumnus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang diposting 2 Januari 2012 disebutkan Dato Tonggara adalah penyebar Agama Islam dari Makasar yang berdakwah dari wilayah timur Nusantara yaitu Nusa Tenggara Timur sampai ke Pulau Jawa dan menetap di Tanah Betawi. Akhirnya tokoh tersebut meninggal dalam kesendirian di hutan jati sebelah timur Ciliwung yang sekarang dinamakan Kramat Jati.

Tulisan Riyan tersebut bersumber dari Muhammad Saman atau Samad, tokoh masyarakat setempat. Saat itu Bu Cucun menjadi penjaga makam Dato Tenggaro.  Makam tersebut telah dipugar sebagai bangunan cagar budaya dan diresmikan Camat Kramat Jati pada 10 Mei 2013.

Dari penuturan Rapijali selaku penjaga cagar budaya tersebut yang dikutip Warta Kota tahun 2016, peziarah yang datang ke makam itu agak berkurang.

Kusaudi Kasie Kesra dan Pemberdayaan Ekonomi Kelurahan Kramat Jati mengatakan kepada Reporter.id, jumlah pengunjung tak diketahuinya karena pada umumnya datang pada hari libur.

Sementara dari laporan Ketua RW 011 Hadiyar kebanyakan peziarah dari sekitar Jabodetabek. “Khususnya dari Tanjung Priok dan Bekasi,” tambahnya.

Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI dalam bukunya tahun 2004 menyebut Dato Tonggara sebagai Pengeran Tenggara yang dikaitkan dengan terjadinya nama Kampung Condet Batu Ampar dan Condet Bale Kambang.

Profil Kelurahan Kramat Jati dengan luas wilayah 151, 58 Ha, terbagi dalam 10 RW dengan 108 RT.
Jumlah penduduknya 42.048 jiwa dari 13.890 KK.  “Tadinya ada 11 RW, tetapi RW 07 tidak ada lagi karena sudah menjadi Kompleks Ditbekang TNI AD,” pungkas Husni Abdullah.  (Suprihardjo).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *