Ketua KPK : Para Calon Koruptor Selalu Berinovasi Agar Tidak Tertangkap

oleh
Ketua KPK, Firli Bahuri.

JAKARTA, REPORTER.ID – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri mengaku prihatin terhadap banyaknya insan koperasi yang tergoda lakukan korupsi.

“Sangat disayangkan, tidak sedikit insan koperasi zaman ini yang kehilangan ‘ruh’ pejuang koperasi tempo dulu. Mengejar kilau gemerlap fana yang menggoda dengan berbagai cara dan memanfaatkan situasi, seperti melakukan tindak pidana korupsi,” kata Firli Bahuri dalam keterangannya menyambut Hari Koperasi Nasional ke-73 yang jatuh pada 12 Juli 2020, Minggu (12/7/2020) kemarin.

Ketua lembaga anti rasuah ini mengatakan, memang perilaku korupsi memiliki daya pikat yang luar biasa bagi orang-orang yang putus asa. Para calon koruptor itu juga berinovasi agar tidak mudah tertangkap.

“Selain memiliki daya pikat kuat bagi setiap jiwa yang penat dengan kejujuran serta kebenaran mulai terasa getir dan kegelapan terlihat indah, korupsi juga dapat menciptakan fantasi, mendorong kreativitas calon-calon koruptor untuk berinovasi, memodifikasi modus-modus baru kejahatan korupsi, agar tidak terungkap apalagi tertangkap saat mereka beraksi,” sebutnya.

Firli mengaku KPK telah menyiapkan 3 strategi pendekatan dalam upaya pemberantasan korupsi. Ketiga pendekatan itu ialah pendekatan pendidikan, pencegahan dan penindakan.

“Law enforcement yang dilakukan profesional, akuntabel, berkeadilan, kepastian hukum dan menjunjung tinggi HAM di dalam pendekatan penindakan (law enforcement approach), Insya Allah akan menyadarkan kita semua, seluruh anak bangsa khususnya insan koperasi untuk tidak berpikir, coba-coba, apalagi berani mengikuti jejak para koruptor di negeri ini,” tambah dia.

Firli mengatakan para pejuang koperasi nasional tempo dulu membentuk koperasi bertujuan membantu sekaligus memajukan perekonomian rakyat, bangsa, dan negara. Karena itu, ia berharap di peringatan Hari Koperasi Nasional ke-73 menjadi pelecut kebangkitan koperasi, sehingga tak hanya jadi ‘penggembira’ dalam perekonomian nasional.

“Mari, kita jadikan peringatan Hari Koperasi Nasional ini sebagai momentum pelecut kebangkitan koperasi, sekaligus mengembalikan marwah koperasi sebagai Soko Guru Ekonomi Indonesia, yang sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa, untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia serta memajukan ekonomi dan kesejahteraan umum serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Selamat memperingati Hari Koperasi Nasional ke-73, Salam Koperasi Anti Korupsi,” ujarnya.

Di bagian lain keterangannya, Firli mengapresiasi Pemprov Sumsel yang mengalokasikan dana bansos untuk menyelamatkan 17.843 mahasiswa dan mahasiswi yang terancam putus kuliah akibat dampak Covid-19.

Menurutnya, langkah yang telah diambil oleh Gubernur Sumsel Herman Deru tidak hanya berinovasi dan kreasi dalam menyalurkan bantuan sosial, tapi juga menyalurkan hak masyarakat secara transparan dan tepat sasaran.

“Pemprov Sumsel membayar SPP selama 2 semester yang nilainya Rp 1 juta, total yang sudah dibantu sebanyak 17.843 orang, belum lagi mahasiswa yang berasal dari Sumsel sekolah di luar negeri atau Kairo,” ujarnya.

“Bansos ini berdasarkan inovasi dan kreasi. Saya kira bansos dari pemprov tetap jalan, bansos dari pemerintah terkait penanganan dampak COVID-19 tetap jalan, ada juga bansos lain, yaitu pemberian untuk mahasiswa ini luar biasa,” imbuhnya.

Firli mengatakan KPK mengawal dan mengawasi langsung dana penanganan COVID-19 agar dana bansos sampai kepada masyarakat yang tepat dan memastikan hak seluruh warga negara diberikan serta tidak ada yang dikurangi.

“Bansos yang masuk dalam program jaring pengaman sosial merupakan satu dari sejumlah fokus pengawasan KPK. Apabila ada penyimpangan, kami sudah buat aplikasi ‘jaga bansos’, dari sana lah ada 661 keluhan tersebut dan sudah kami tindaklanjuti,” ujar Firli.

Sementara itu, menurut Gubernur Sumsel Herman Deru, dalam menghadapi Covid-19 ini, setiap kepala daerah membutuhkan ilmu-ilmu baru ataupun jurus-jurus baru. Ia menerangkan mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari keluarga kurang mampu hanya 8.000, tapi yang terancam putus sekolah ada 17.843 orang.

“Nah ini belum lagi di Kairo untuk sekolah agama ada 280 mahasiswa, sekarang datanya dari PTN/PTS bantuan penerimanya langsung by name tapi di PTS dan PTS tersebut yang menerimanya,” ujar Herman. ***

Tentang Penulis: hps

Gambar Gravatar
Wartawan senior tinggal di Jakarta. hps@reporter.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.