Bekas Karantina Haji Pulau Cipir dan Onrust Dikunjungi 400-an Wisatawan

oleh
Rumah dokter RS Karantina Haji Pulau Onrust (kiri). Meriam abad 18 di Pulau Cipir mengarah ke daratan Banten.

JAKARTA, REPORTER.ID- Selama dua hari setelah Idul Adha banyak wisatawan dari Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor dan sekitarnya mengunjungi Taman Arkeologi Onrust di Kepulauan Seribu. Banyak mereka yang berlayar dari dermaga Tanjung Pasir, Tangerang atau Muara Kamal, Jakarta Utara dengan perahu motor.

Tercatat Sabtu (1/8/2020) pengunjungnya 432 orang, dan Minggu (2/8/2020) ada 411 orang.
Kepala Satuan Pelayanan Taman Arkeologi Yetni Mulprayetni mengungkapkan hal itu Minggu (2/8/2020). “Ya lumayan banyak pengunjungnya dua hari ini sekitar empatratusan orang,” kata Yetni.

Jumlah pengunjung tersebut merupakan lonjakan luar biasa dibandingkan sehari-hari di bulan Juni dan Juli berkisar 150 sampai 160 orang tiap hari. Apalagi bila dibandingkan Kamis (30/7/2020) yang hanya 17 orang wisatawan.

Dermaga Pulau Cipir (Atas). Salah satu lokasi bekas karantina haji Onrust

Tepat Idul Adha Taman Arkeologi Onrust (TAO) yang meliputi pulau-pulau Cipir, Onrust, dan Kelor itu tutup. Meskipun pengunjungnya sebanyak itu mereka tak sadar bahwa sedang berziarah ke tempat bersejarah dalam kegiatan perhajian di Nusantara ini.

Menurut arkeolog H.Candrian Attahiyat dan H Husnison Nizar, Taman Arkeologi Onrust ditambah Pulau Bidadari pada tahun 1911- 1933 dijadikan Rumah Sakit Karantina Haji oleh pemerintah Hindia Belanda. Hal itu juga dibenarkan oleh Mulprayetni. Untuk mengetahui sejarahnya, pengunjung dapat melihat foto foto dokumentasi dan reproduksi serta benda benda cagar budaya yang menjadi koleksi Museum Onrust yang dahulunya merupakan rumah dokter.

“Namun tanpa penjelasan pemandu wisata, pengunjung tidak akan menyadarinya bahwa sedang melakukan napak tilas para haji Nusantara di zaman itu,” kata H Abu Galih pengamat budaya dan pariwisata Jakarta yang sering ke Onrust.

Namun sayang pengunjung tak dapat mendarat di Pulau Kelor yang ada benteng kuno tahun 1850.”Soalnya tanggul sebelah selatan rusak terkena rob bulan purnama yang lalu,”kata Yetni selaku pengelola pulau tersebut. Tapi pengunjung masih dapat melihatnya dari perahu, berkeliling pulau.

Salam, petugas yang berada di Pulau Cipir di sebelah selatan Pulau Onrust mengakui Minggu itu lumayan pengunjungnya. “Banyak pengunjung hari ini. Sebentar saya kirim fotonya Pak,” kata Salam yang masih membantu bertugas di pulau itu meskipun sejak tahun lalu sudan pensiun dari PNS Dinas Kebudayaan DKI.

Tercatat pengunjung Pulau Cipir hari Minggu itu sampai pukul 16.00 mencapai 233 orang. Sehari sebelumnya 314 orang. Pulau Cipir seluas sekitar 4 hektare itu banyak peninggalan rumah sakit karantina haji tahun 1911-1933. Ada bekas asrama perawat, namun di pantainya banyak tempat memancing dan beberapa gazebo tempat kita bersantai sambil menikmati pemandangan laut dengan perahu perahu nelayan. Tidak jarang lewat perahu motor dan kapal pesiar kecil dari maupun ke arah Pulau Tidung, Untung Jawa atau Kepulauan Seribu Utara.

Sementara Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta Berkah Shadaya, Minggu malam menjelaskan banyaknya pengunjung Taman Arkeologi Onrust itu dapat dimaklumi. “Wajarlah setelah sekian lama terkungkung pandemi Covid 19 mereka ingin rekreasi,” kata Berkah Shadaya. Namun pengunjung itu datangnya tidak pada waktu yang bersamaan. Berwisata ke pulau diakuinya banyak keseruan yang dialami, termasuk tantangan diombangambingkan ombak dalam pelayarannya.

Sejarah Pulau Onrust tahun 1613 mulai dibangun oleh VOC untuk galangan kapal. Karena itu penduduk Kepulauan Seribu menyebut pulau seluas 12 Ha (dulu) itu sebagai Pulau Kapal. Tahun 1674 dibangun kincir angin untuk penggergajian kayu dan gudang barang maupun rempah yang akan dikirim ke Eropa. Pembangunan gudang merembet ke Pulau Cipir dan ke Pelabuhan Sunda Kelapa sisi barat yang kini menjadi Museum Bahari.

Mengenai jumlah pengunjung, sebagai perbandingan Museum Bahari di Jl Pasar Ikan dekat Pelabuhan Sunda Kelapa pengunjungnya Minggu itu 71 orang. Hampir sama dengan hari kemarinnya 68 orang

“Tadi saya tahu dari instagram, Museum Bahari mendapat kunjungan Pesepeda. Itu para ibu, perempuan perkasa bersepeda,” ujar Berkah Shadaya sambil tertawa. Namun sepedanya mahal- mahal. Mereka diizinkan masuk dengan sepedanya dan berfoto ria di plaza Museum Bahari dengan spot spot yang menarik. “Kan hanya di plaza tidak ke ruang pamernya,” kilah Berkah.

Perlu diketahui TAO, Museum Bahari dan Situs Marunda Rumah Si Pitung di Cilincing merupakan satu Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta. (PRI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *