Indonesia Sudah Merdeka Tahun 1942 Dimulai di Gorontalo?

oleh
oleh

Oleh :

Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad

Wakil Ketua MPR RI Periode 2019-2024

Gerakan Patriotik 23 Januari 1942 di Gorontalo yang dipimpin Nani Wartabone bisa disebut cikal bakal Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Yang menarik, peristiwa  penting Nani Wartabone selalu terjadi di hari Jumat, mulai dari Hari Patriotik 23 Januari 1942, hingga wafatnya Nani Wartabone pada 3 Januari 1986. Bahkan Proklamasi RI pun terjadi di hari Jumat.

Sebagai Gubernur Gorontalo 2001-2009 (dua periode), dalam suatu diskusi saya pernah dikritik beberapa teman ketika membanggakan peristiwa Gerakan Patriotik 23 Januari 1942. Mereka bertanya, apa hebatnya Gerakan Patriotik 23 Januari 1942 sampai harus disandingkan dengan Proklamasi 17 Agustus 1945?

Banyak masyarakat Indonesia yang tidak tahu, apalagi generasi milenial, bahwa sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, daerah Gorontalo telah lebih dahulu memproklamasikan kemerdekaannya, lepas dari penjajahan Belanda. Peristiwa itu terjadi pada hari Jumat, 23 Januari 1942, dan pemimpin yang menggerakkan rakyat itu adalah ‘petani-pejuang’ Nani Wartabone (1908-1986).

Setelah berhasil menaklukkan Belanda, pada hari itu Nani Watabone didaulat untuk menyampaikan  ‘pidato kemerdekaan’ didampingi wakilnya R.M. Kusno Danupoyo (semacam ‘dwitunggal’ Gorontalo) di hadapan massa rakyat Gorontalo yang sudah berkumpul di alun-alun kota depan Hotel Saronde kini. Mereka menaikkan bendera Merah-Putih diiringi menyanyikan lagu Indonesia Raya (saat itu belum menggunakan lirik ‘merdeka-merdeka’ tetapi ‘mulia-mulia’). Proklamasi yang disampaikan Nani Wartabone cukup singkat:

 “Pada hari ini tanggal 23 Januari 1942 kita bangsa Indonesia yang berada di sini sudah merdeka bebas lepas dari penjajahan bangsa manapun juga. Bendera kita yaitu Merah-Putih, lagu kebangsaan adalah Indonesia Raya.  Pemerintahan Belanda sudah diambil-alih oleh Pemerintah Nasional.  Mari kita menjaga keamanan dan ketertiban.”

Para sejarahwan menyebutkan, ‘proklamasi kemerdekaan’ tersebut mirip atau menyerupai Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Soekarno – Hatta pada 17 Agustus 1945 (yang juga jatuh pada hari Jumat). Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai “Gerakan Patriotik 23 Januari 1942 di Gorontalo”. Sedangkan Nani Wartabone yang meninggal pada Jumat, 2 Januari 1986, kemudian  mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2003. Beliau meninggalkan nama harum tidak hanya bagi warga Gorontalo, tetapi juga bangsa Indonesia yang tentu saja patut dikenang oleh generasi penerus.

Selesai upacara, seluruh kota mengibarkan bendera merah-putih, bendera yang sejak lama secara diam-diam diperintahkan GAPI (Gabungan Politik Indonesia) Cabang Gorontalo agar para anggotanya menyimpannya. Sore hari langsung dilanjutkan dengan konsolidasi. Nani didaulat menjadi Ketua Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG). Selain itu dibentuk pula Pasukan Pengawal Kota yang dipimpin Ibrahim Mohammad dengan kepala stafnya Ali Baladraf dan anggotanya meliputi seluruh kepanduan (pramuka). Sementara Pendang Kalengkongan, putra Minahasa, ditunjuk untuk memimpin Bagian Keamanan Rakyat dengan anggota para polisi (veld politie dan stad politie) yang sudah bergabung. Para polisi pribumi itu, baik veld politie (polisi lapangan) maupun stad politie (polisi kota), sebelumnya ditawan namun kemudian menyatakan bergabung menjadi pejuang. Untuk konsolidasi kekuatan, pada 27 Januari 1942 diadakan apel besar dan unjuk kekuatan (show of force) segenap pasukan tersebut dengan Inspektur Upacara Nani Wartabone, didampingi R.M. Kusno Danupoyo dan Komandan Upacara Pendang Kalengkongan.

Yang menarik dari peristiwa ini – yang oleh masyarakat Gorontalo hanya dinamakan “Peristiwa  Patriotik”agar tidak menyaingi kemerdekaan Indonesia – kejadiannya menyerupai Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Diskusi bisa berkembang, bila kita hanya menyoroti dari sudut pandang “ruang” yang memang masih bersifat lokal kedaerahan, akan tetapi dari sudut pandang waktu ‘proklamasi kemerdekaan’ ini jelas mendahului Proklamasi 17 Agustus 1945. Dan dari aspek substansi dan konten proklamasinya bukanlah proklamasi kemerdekaan lokal, tetapi menyebutkan kemerdekaan ‘bangsa Indonesia’ dengan pemerintahan nasional, bendera Merah-Putih, dan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Kenapa Nani Wartabone dan kawan-kawan begitu tinggi jiwa nasionalismenya?  Rupanya latar belakang pendidikan mereka sangat berpengaruh. Nani Wartabone mengenyam pendidikan di MULO Tondano dan kemudian ke Surabaya yang mempertemukannya dengan Soekarno (1923), Cokroaminoto, Agus Salim, dan Dr. Sutomo yang menggelorakan semangat nasionalismenya. Ia kembali ke Gorontalo (1928) membawa ide nasionalisme dengan menggembleng para pemuda tani binaannya agar berjiwa nasional. 

Perebutan atau Pengisian Kekosongan Kekuasaan?

Ada teori yang mengatakan peristiwa semacam itu adalah pengisian kekosongan kekuasaan (vaccum of power theory). Dikatakan bahwa Belanda pada saat itu tidak lagi berkuasa dan Jepang akan segera datang. Jadi, peristiwa itu terjadi tanpa ada perjuangan fisik kemerdekaan dan perebutan kekuasaan.  Namun, benarkah demikian?

Saya mendapat jawaban dari literatur sejarah bahwa ternyata Gerakan Patriotik 23 Januari 1942 tersebut terjadi “perebutan kekuasaan (coup d’tat)” terhadap pemerintah Hindia Belanda di Gorontalo. Aksi perebutan kekuasaan dimulai hari Jumat setelah Subuh tanggal 23 Januari 1942. Namun sejak tengah malam telah dilakukan pelucutan senjata para anggota Vernieling Corps yang dibentuk Belanda untuk membumihanguskan objek-objek vital di Gorontalo.

Nani Wartabone, bersama massa rakyat pemuda tani kemudian bergerak dari kecamatan Suwawa, melewati kecamatan Kabila, hingga masuk wilayah kota Gorontalo, di mana sambil bertakbir sepanjang jalan pasukan rakyat ini terus bertambah jumlahnya karena banyak pemuda yang ikut bergabung (dari Tamalate, Padebuolo, Ipilo dan bergabung pula massa dari kampung Bugis, Tenda, Siendeng, Biawao, dll). Gerakan rakyat itu mencapai puncaknya setelah kantor Post, Telegraph and Telephone (PTT) dikuasai dengan menangkap Komandan Stad Politie E. Couper dan bergabungnya para anggota polisi bangsa Indonesia (Gorontalo dan Minahasa) yang menjaga objek vital di kantor PTT itu. Sekretaris GAPI Cabang Gorontalo U.H. Buluati memajang merah-putih yang bertuliskan “Indonesia Berparlemen” di gerbang kantor PTT itu.

Pasukan yang dipimpin Nani Wartabone pada pukul 8 pagi melakukan penangkapan terhadap semua pejabat Hindia Belanda, mulai dari Komandan Stad Politie W.C. Romer, yang diminta untuk memerintahkan pasukan polisi dalam asrama depan rumahnya menyerahkan diri. Selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap Controleur Dancona dan pejabat lainnya, dan terakhir Asisten Residen Corn yang pistolnya dilucuti tanpa perlawanan, dan ia pun dimasukkan ke dalam penjara. Total pejabat Hindia Belanda yang ditangkap/ditawan berjumlah 15 orang ditambah seluruh pasukan veld politie yang menyerahkan diri, dan akhirnya bergabung dengan PPPG.

Selesai penangkapan segera digelar pertemuan dengan pejabat pemerintah bawahan  pemerintah Hindia Belanda yaitu para Jogugu yang segera membentuk Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG) yang diketuai Nani Wartabone dan wakilnya R.M. Kusno Danupoyo dan anggota intinya berasal dari Komite Duabelas dan wakil-wakil partai dan organisasi yang ada di Gorontalo (GAPI Cabang Gorontalo). Badan pemerintahan militer dipimpin oleh Nani Wartabone yang berkedudukan sebagai Panglima Angkatan Perang atau Komandan Militer bagi daerah Indonesia Gorontalo merdeka.

Dapat ditarik kesimpulan, bahwa Gerakan Patriotik 23 Januari 1942 ini adalah gerakan perebutan kekuasaan dan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia skala lokal dengan simbol nasional(lagu kebangsaan dan bendera Merah-Putih).

Pembumihangusan menghadapi invasi Jepang

Peristiwa 23 Januari 1942 di Gorontalo itu terjadi setelah meletusnya Perang Pasifik pada Desember 1941. Ketika itu Jepang telah terjun ke kancah perang dengan menyerang Pearl Harbour 8 Desember 1941. Pemerintah Hindia Belanda di Gorontalo yang dipimpin Assisten Residen Corn dan Controleur Dancona dan Komandan Veld Politie W.C. Romer khawatir akan invasi Jepang dan membentuk Vernielings Corps (VC) untuk melakukan bumi hangus objek-objek vital apabila mereka terpaksa harus mengundurkan diri dari tanah jajahan.

Pembumihangusan yang pertama dilakukan pada 28 Desember 1941, yaitu Gudang kopra dan minyak BPM masing-masing di Pabean dan Talumolo beserta bahan sandang pangan yang merupakan persediaan kebutuhan rakyat dibakar habis. Pada saat itu pasukan Jepang sudah masuk di Filipina (Teluk Lamon), hampir mendekati Indonesia.

Dengan adanya pembumihangusan tersebut tokoh pergerakan Nani Wartabone atas nama seluruh rakyat mengirim surat protes kepada Asisten Residen Corn serta Controleur Dancouna pada tanggal 10 Januari 1942 disertai ancaman. Kalau pemerintah Hindia Belanda akan tetap mengadakan pengrusakan, maka rakyat siap mengadakan perlawanan. Di samping Nani Wartabone, Pendang Kalengkongan yang berjiwa nasional, selaku aparat Hindia Belanda telah bergerak di bawah tanah mencegah tindakan pengrusakan dan pembumihangusan itu. 

Kekhawatiran Pemerintah Hindia Belanda di Gorontalo memuncak setelah Jepang mendarat di Manado pada 11 Januari 1942. Untuk menghadapi penyerbuan dan pendaratan tentara Jepang di Gorontalo, pemerintah Hindia Belanda mengadakan persiapan. Para pejabat pemerintah Hindia Belanda dipersenjatai dengan pistol. Kaum pergerakan nasional terus diawasi dan dimata-matai. Penduduk tidak boleh berkumpul lebih dari dua orang.

Dalam menghadapi kegiatan pengrusakan oleh Vernielings Corps, pada Jumat tengah malam 16 Januari 1942 atas inisiatif dari wakil-wakil partai dan organisasi, dilangsungkan suatu rapat rahasia di rumah Kusno Danupoyo. Maksud rapat itu adalah mempersatukan langkah tokoh-tokoh partai beserta tokoh pejuang Nani Wartabone. Hasil kesepakatan malam itu terbentuklah badan perjuangan yang diberi nama ‘Komite Duabelas’, dengan Ketuanya Nani Wartabone, Wakil Ketua R.M. Kusno Danupoyo, Sekretaris Oe. H. Buluati, Wakil Sekretaris A.R. Ointu, dengan anggota-anggotanya Usman Monoarfa, Usman Hadju, Usman Tumu, A.G. Usu, M. Sugondo, R.M. Danuwatio, Sagaf Alhasni, dan Hasan Badjeber.

Pada 19 Januari 1942 masyarakat digemparkan lagi dengan pembumihangusan yang kedua. Kapal motor KM Kololio yang sedang berlabuh di Pelabuhan Gorontalo dibakar oleh petugas Vernieling Corps. Demikian juga gudang kopra dan sejumlah harta milik rakyat di Pelabuhan Kwandang juga turut dibakar. Hal inilah yang membuat para pejuang makin matang mempersiapkan diri hingga empat hari kemudian terjadilah peristiwa yang kini diberi nama “Hari Patriotik 23 Januari 1942”.

Tanggapan Tokoh Nasional

Jenderal A.H. Nasution menulis, khusus sebagai kenang-kenangan ketika meninggalnya Nani Wartabone (Maret 1986): “Dengan pimpinan Nani Wartabone dan kawan-kawan menggeser kekuasaan Belanda dengan gilang gemilang, adalah hari yang pantas dicatat di dalam rangkaian ukiran sejarah perjuangan fisik, dan perlu kiranya diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia, agar sesuatu yang berharga di tubuh Ibu Pertiwi ini tidak hilang ditelan waktu begitu saja. Perlu disadari bahwa di masa lampau dalam situasi dan kondisi waktu itu adalah langka untuk mencari seorang pimpinan yang berani, jujur dan cerdas seperti yang dilahirkan oleh bumi Gorontalo. Semangat 23 Januari 1942 adalah pencerminan watak manusia merdeka yang ikhlas mengorbankan segala-galanya demi untuk kemerdekaan”.

Saat Jepang menguasai Manado pertengahan Januari 1942, pemerintahan PPPG dan bendera merah-putih masih berkibar di Gorontalo, namun pada 16 Juni 1942 pasukan Jepang meminta merah-putih diturunkan dan mengakhiri PPPG pimpinan Nani-Kusno. Nani Wartabone pun sempat dipenjarakan Jepang karena difitnah jadi mata-mata Sekutu. Ia berhasil dibebaskan seorang pembesar Jepang temannya di Makassar.

Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia baru tiba di Gorontalo menjelang pertengahan September 1945. Nani Wartabone kembali mengambilalih kekuasaan dengan membentuk pemerintahan nasional di Gorontalo bersama Komite Nasional Daerah sampai masuknya pemerintahan NICA menguasai kembali Gorontalo (1946). Nani Wartabone diajak berunding di atas kapal laut bersama anggota Dewan lainnya. Ternyata Nani Wartabone ditawan dan dibawa ke Manado. Ia dihukum 6 tahun karena mempekerjakan para tahanan orang Belanda di jalanan. Terakhir ia menjalani hukumannya di penjara Cipinang Jakarta, sampai dibebaskan sebagai tahanan politik setelah KMB (pengakuan kedaulatan RI) awal Januari 1950, dan ia kembali ke Gorontalo. Setiba di Gorontalo ia menggelorakan semboyan “Sekali ke Yogya tetap ke Yogya” untuk membubarkan NIT (Negara Indonesia Timur). Dan ia tampil kembali merebut kekuasaan dari pemerintahan PRRI/Permesta dengan bantuan TNI dari Operasi Saptamarga II di bawah pimpinan Mayor Agus Prasmono pada 18 Mei 1958.

Konsistensi perjuangan dan nasionalisme Nani Wartabone sangat diakui oleh Jend. TNI A.H. Nasution. Dalam tulisannya beliau mengatakan (ditulis Maret 1986): “…. Nani Wartabone adalah teladan pejuang yang konsisten. Tak banyak pejuang kita yang demikian, karena itu perjuangannya haruslah disejarahkan kepada generasi-generasi mendatang, karena konsistensi adalah prinsip ke 1 dalam ilmu strategi pejuang”. Di bagian akhir tulisannya beliau menyatakan : “Saya tak menduga bahwa saya akan jadi teman seperjuangan dekat dengan tokoh historis ini, yakni di masa terjadinya pemberontakan PRRI/Permesta yang dibarengi intervensi tertutup Amerika Serikat tahun 1958-1961. ……… Maka kesekian kalinya tampillah pejuang patriot perwira Nani Wartabone dengan prakarsa yang amat saya hargai selaku KASAD/ Penguasa Perang yang dewasa itu dapat tugas memulihkan keutuhan dan keamanan seluruh RI”.

Kutipan tulisan A.H. Nasution ini, berikut dokumen dan foto-foto peristiwa Gerakan Patriotik 23 Januari 1942 disimpan oleh Zain Badjeber di Arsip Nasional (ANRI) dan salinannya diberikan kepada saya.  Zain Badjeber adalah mantan hakim, mantan Anggota DPR/MPR-RI, yang beberapa kali mewancarai langsung Nani Wartabone dan R.M. Kusno Danupoyo (yang sempat menjadi Gubernur Lampung pertama) dan beberapa pelaku sejarah lainnya kala itu. (Penulis adalah Wakil Ketua MPR-RI 2019 – 2024,  Ketua Organisasi Masyarakat Gorontalo Rantau LAMAHU 2020-2025)

Tentang Penulis: hps

Gambar Gravatar
Wartawan senior tinggal di Jakarta. hps@reporter.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *