Sampah DKI 7.600 Ton/Hari, Pecahan Kaca dan Plastik Dikeluhkan

  • Bagikan

JAKARTA, REPORTER.ID- Tiap hari warga DKI Jakarta menghasilkan sampah sekitar 7.600 ton yang dibuang ke TPA Bantargebang, Bekasi. Dari jumlah itu 60,5% merupakan sampah rumah tangga, 2,8% sampah pasar dan sisanya sampah dari industri maupun tempat usaha dan perkantoran.

Hadian, pengelola bank sampah RW 03 Cempaka Putih, Jakarta Pusat selaku penyuluh masalah sampah mengungkapkan hal itu dalam Sosialisasi Pergub DKI nomor 77/2020 di Aula Kantor Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (1/12/2021).

Acara tersebut dibuka Camat Duren Sawit Musa Syafruddin yang diikuti 70 peserta dari Lurah, anggota LMK, Ketua RT/RW mapun pengurus.

Sebagai narasumber tampil juga Sari Kartini dari Sudin LH Jakarta Timur dan Kiki dari LH Labtanya yang dipandu Kepala Satpel Lingkungan Hidup Kecamatan Duren Sawit, Amid.

Lebih lanjut Hadian menjelaskan dengan produksi sampah 7.600 ton/hari dibutuhkan sekitar 1.500 truk/hari untuk mengangkut dari DKI ke Bantargebang.

“Di sana sampahnya menggunung sampai setinggi 40 meter, lebih tinggi daripada Candi Borobudur,” ujar Hadian seperti diungkapkan Camat Duren Sawit Musa Syafrudin dan Staf Ahli Sudin LH Jakarta Timur Sari Kartini.

Diungkapkannya, keberhasilan RW 03 Cempaka Putih dalam pengelolaan sampah berkat Hardian mengajak warga belajar ke TPA Bantargebang. “Sebelum sampai tempat tujuan tercium baunya. Hampir urung karena protes peserta. Tetapi akhirnya berhasil membuka pemikiran kita bagaimana mengatasi sampah,” kata Hadian sambil tersenyum.

Dalam sesi tanya jawab Lurah Pondok Kopi Siska Leonita mengeluhkan adanya pelaku usaha sampah di wilayahnya. Sedangkan Sugeng dari RW 02 Malaka Jaya komplain banyaknya pecahan kaca dan sampah kantong plastik beterbangan di sekitar tempat pembuangan sementara (TPS) sampah di wilayahnya.

Mengenai hal tersebut Hadian mengingatkan pecahan kaca termasuk sampah bahan berbahaya. Karena itu cara membuangnya harus dibungkus dengan kertas tebal atau kain bekas agar tak mencelakai petugas kebersihan.

“Soal plastik, Indonesia ini menduduki nomor 2 penghasil sampah plastik. Karena itu kalau belanja bawa kantong sendiri dari rumah. Tentunya yang ramah lingkungan,” tambahnya.

Dari usulan Zainudin ketua RW 03 Malaka Jaya, Slamet dari RW 03 dan Belly dari RW 15. Rusun Nuansa Samawa Pondok Kelapa serta Bambang RW 07 Klender, Kasatlak LH Duren Sawit Amid menjajikan untuk penanganan masalah sampah agar bernilai ekonomi maka akan ada penyuluhan dan pelatihan.

“Seperti sampah botol plastik dapat dijadikan eqobrick untuk bangku dan lainnya,” ujar Amid.

Hadian menganjurkan warga DKI belajar ke Bantargebang agar sadar perlunya mengatasi sampah sendiri dari sumbernya. Karena itu diperlukan bank sampah.

Bagi RW yang tidak punya lahan untuk menampung sampah anorganik, dapat bergabung dengan RW lain.

Lurah Malaka Jaya M Hardi Ananda usai menyaksikan terpilihnya H Nawawi sebagai anggota LMK di RW 03 Rabu (1/12) malam menyatakan, 13 RW di Malaka Jaya sebenarnya sudah memiliki bank sampah.

“Masalahnya ada yang aktif dan ada yang tidak. Nah RW 04 dan RW 12 termasuk yang aktif,” kata Lurah Hardi.

Ia juga setuju perlunya studi banding ke TPA Bantargebang bagi Pengurus RW. “Seperti RW 12 sudah mengajukannya. Tapi menunggu izin dari Sudin LH Jakarta Timur,” katanya.

Kasatlak LH Duren Sawit Amid ketika dihubungi Reporter.id Jumat (3/12) menyatakan kunjungan ke Bantargebang saat ini memang bermanfaat. Tetapi belum dapat dilaksanakan terbentur belum tersedianya anggaran.
“Yang pernah kami lakukan selama ini swadaya. Mudah-mudahan ke depannya ada anggaran seperti tahun tahun yang lalu,” pungkasnya. (PRI).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *