Masa Depan Pelindo Pasca Merger Sedikit Banyak Terpengaruh dengan Situasi Geopolitik

oleh
Webinar KMI bekerjasama dengan Pelindo bertajuk 'Prospek Ekonomi Nasional dan Masa Depan Pelindo Pasca Merger'.

JAKARTA, REPORTER.ID – Masa depan Pelabuhan Indonesia (Pelindo) pasca merger terkait dengan kondisi faktual ekonomi nasional saat ini, sedikit banyak juga terpengaruh dengan situasi geopolitik perang Rusia dan Ukraina. Kondisi ini bisa menjadi hambatan sekaligus juga kesempatan baik yang bisa dimanfaatkan.

Demikian dikemukakan Direktur Center of Economic and Law Studies/CELOS, Bhima Yudhistira saat menjadi narasbumber webinar Kaukus Muda Indonesia (KMI) bekerjasama dengan Pelindo bertajuk ‘Prospek Ekonomi Nasional dan Masa Depan Pelindo Pasca Merger’, Selasa (15/3/2022).

Namun demikian, Bhima Yudhistira meyakini kalau kondisi pandem Covid-19i di Indonesia yang mulai membaik, dimana aturan mulai banyak dilonggarkan serta aktivitias masyarakat mulai kembali hampir normal, maka pertumbuhan ekonomi nasional juga akan terus membaik. Meski saat ini rakyat dihadapkan dengan situasi langka minyak goreng atau mahal, kemudian tahu tempe yang juga sempat langka dan mahal.

“Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sudah mulai membaik. Bahkan perdagangan Indonesia surplus sekitar 3 Miliar USD. Ditambah lagi, ekspor batu bara meningkat dan artinya ekspor kita saat ini sangat diuntungkan,” sebut dia.

Dengan kondisi ekonomi yang membaik ini, menurut Bhima, adalah kesempatan baik bagi Pelindo pasca merger ini. Artinya, bisnis logistik sangat prospek, dan tinggal lagi dengan merger begini terus Pelindo harus bisa meningkatkan infrastruktur pelabuhan supaya bisa semakin berkualitas, termasuk kapasitasnya juga perlu ditambah.

“Pelindo harus bisa menggunakan kondisi ekonomi nasional yang mulai membaik ini untuk bisa melakukan percepatan penambahan dan meningkatkan kualitas pelabuhan berkualitas. Standarisasi layanan pelabuhan harus ditingkatkan.
Tapi, kami juga perlu menagih nih, sesuai janji Pelindo untuk menurunkan biaya logistik,” ujarnya.

Kesempatan sama, Dosen Universitas Indonesia (UI), Muhammad Fadli Hanafi berharap merger Pelindo, jangan sampaik hanya menyatukan fisik saja, tapi harus dioptimalkan agar bisa menopang pada produktivitas kinerja kedepannya. Merger ini harus bisa mengoptimalkan peluang yang ada, dan bisa mengkatalisasi peluang menjadi keuntungan.

“Selain itu, yang terpenting harus didukung dengan budaya korporasi yang baik. Pasalnya berdasarkan catatan saya, kinerja historis Pelindo selama ini belum baik. kemudian cashflow keuangan juga menurun,” tutur Fadil Hanafi. ***