Mahathir, Singapura, Kepri.

oleh

Prof. Amir Santoso (net)

 

Oleh : Prof. Amir Santoso

 

Dalam Kongres Survival Melayu di Selangor tgl 19 Juni 2022 yang lalu, mantan PM Malaysia Mahathir Muhammad dikabarkan menyatakan bahwa seharusnya Malaysia mengambil alih Singapura dan Kepulauan Riau menjadi milik dan bagian dari Malaysia.

Mahathir menyitir kesuksesan Malaysia memenangkan sengketa Sipadan dan Ligitan atas Indonesia di Mahkamah Internasional beberapa tahun lalu. Rupanya dia ingin mengulangi lagi kemenangan seperti itu.

Memang beliau menyampaikan keinginannya itu dalam forum sebuah kongres dan bukan pernyataan di dalam forum pemerintahan yang resmi. Walaupun demikian, karena beliau adalah mantan PM yang pernah lama berkuasa, maka pernyataannya itu boleh dianggap penting juga.

Sebab pernyataan seorang tokoh bisa mengilhami banyak pendengarnya. Bagaimana jika tokoh-tokoh pemerintahan di Malaysia lalu ingin mewujutkan gagasan Mahathir tersebut? Bisa runyam hubungan antar negara tetangga ini.

Jika boleh berseloroh, seharusnya Mahathir jangan hanya minta Singapura dan Kepulauan Riau tapi juga seluruh wilayah Indonesia untuk dimasukkan sebagai wilayah Malaysia. Kan tanggung jika hanya mau menganeksasi Singapura dan Kepri.

Mantan PM yang sudah berusia 95 tahun itu rupanya mulai terkena penyakit khayalan. Penyakit ini biasa menghinggapi orang di usia senja yang terkena sindrom kehebatan diri dan negerinya di masa lalu. Saya yang tadinya bersimpati kepada beliau mulai kehilangan simpati saya.

Sejatinya sebagai negarawan beliau harus tahu bahwa justru ras Melayu yang berdiam di Malaysia sekarang, dulunya sebagian besar datang sebagai migran dari Minangkabau dan Kepulauan Riau, kemudian disusul oleh migran dari Jawa dll.

Bahasa Melayu yang digunakan saat ini mirip bahasa lokal di Kepri, bukan karena warga Kepri berasal dari Malaysia melainkan sebaliknya. Seperti ditulis diatas sebagian warga Malaysia adalah migran dari Jawa. Kesenian Reog yang dulu pernah mau diakui sebagai kesenian Malaysia itu jelas berasal dari Ponorogo.

Tari piring itu berasal dari Minangkabau bukan dari Selangor, jangan salah. Batik itu berasal dari Jawa bukan dari Malaysia. Untunglah batik sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya Jawa. Rendang itu adalah makanan asli Padang, bukan asli Malaysia. Tapi tentu ada saja ada rendang bikinan orang Malaysia keturunan Minangkabau.

Belum lagi banyak jenis makanan lainnya di Malaysia yang mirip dengan makanan-makanan di Kepri dan Minangkabau. Apa lalu mau dikatakan bahwa orang Kepri dan Minangkabau berasal dari Malaysia? Jika berpikir demikian, pikiran itu mesti dibalik.

Apalagi jika kita melihat sejarah lama Kepulauan Nusantara yang wilayahnya mulai terbentuk setelah ekspansi Majapahit dari Jawa Timur terus Ke Sumatra hingga ke Patani di Thailand. Singapura yang dulu bernama Temasek adalah bagian dari Kerajaan Riau Lingga yang berpusat di Pulau Penyengat Kepri.

Karena itu pikiran Mahathir sebaiknya dibalik, bukan sebagian wilayah Indonesia dalam hal ini Kepri yang harus diserahkan kepada Malaysia melainkan Malaysia yang mesti menyerahkan seluruh wilayahnya kepada Indonesia. Atau menggabungkan diri dengan kita.

Itu tentunya jika kita mau. Sebab dalam pikiran saya, untuk apa menambah beban dan urusan. Silakan saja Malaysia jalan terus dengan budaya dan bahasanya. Jangan utak atik wilayah Indonesia dan mengklaim hasil seni dan budaya milik kita.

Juga jangan coba-coba meng klaim bahasa Indonesia sebagai Bahasa Melayu. Meskipun asal muasalnya memang dari Bahasa Melayu. Tapi dalam perkembangannya dua bahasa dari satu rumpun ini menjadi sangat berbeda baik dalam cara pengucapan maupun beberapa kosa kata yang berbeda arti. Amati saja bahasa dalam film Upin dan Ipin yang terasa aneh di telinga sebagian besar orang Indonesia.

Untunglah Kemenlu sudah memberikan tanggapan terhadap ucapan Mahathir. Dalam pemahaman saya, wilayah Indonesia ini kan yang dulunya ex wilayah Hindia Belanda yang di merdekakan melalui Revolusi 1945, kemudian diakui oleh dunia internasional. Andaikata wilayah Indonesia yang kita klaim bukan ex wilayah Hindia Belanda melainkan wilayah ex Majapahit tentu Malaysia akan menjadi bagian Indonesia.

Karena itu sebaiknya Mahathir beristirahat saja. Tapi kalau ingin tetap melakukan aktifitas ya monggo tapi jangan sampai menyentuh persoalan wilayah.

Karena jika demikian akan menjadi seperti kata pepatah “membangkit batang terendam”. Hal-hal yang sudah selesai tidak perlu diungkit lagi.

Sebab jika masalah wilayah dan batas negara masih dipersoalkan, jangan salah jika nasionalisme dan rasa perlawanan bangsa Indonesia bangkit kembali. Jika ini terjadi mungkin akan muncul lagi pekik “Ganyang Malaysia” seperti tahun 1963-1965. Apa mau kita yang sudah ber tetangga baik ini berseteru lagi seperti dulu hanya karena hasutan satu orang Mahathir ?

Saya akan tetap berjalan kaki, menyetir mobil sendiri, memberi kuliah, bertamasya dan beraktifitas meniru Mahathir supaya sehat dan panjang usia. Tapi saya insyaAllah tidak akan minta wilayah Singapura dan Malaysia sebagai bagian Indonesia. (Penulis adalah Gurubesar Ilmu Politik FISIP UI ; Rektor Universitas Jayabaya, Jakarta)

Tentang Penulis: hps

Gambar Gravatar
Wartawan senior tinggal di Jakarta. hps@reporter.id