JAKARTA, REPORTER.ID — Penetapan Danau Toba sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) dinilai belum sejalan dengan lonjakan kunjungan wisatawan alias “jalan ditempat”. Pemerhati dan pelaku pariwisata, Ir. Sanggam Hutapea, MM, mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah dan strategi pengembangan kawasan wisata andalan Sumatra Utara tersebut.
“Meski infrastruktur dasar seperti jalan tol dan Bandara Silangit telah dibangun, tapi pariwisata Danau Toba masih berjalan di tempat. Danau Toba cantik, tetapi seperti gadis pingitan—butuh ditata dan didandani agar benar-benar menarik,” ujar Sanggam kepada wartawan di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Menurut Sanggam, pembangunan selama satu dekade terakhir terlalu berfokus pada akses, sementara daya tarik destinasi, atraksi, dan kualitas pengalaman wisatawan nyaris tidak berubah, dan bahkan tidak ada yang benar-benar baru di Danau Toba, selain Patung Yesus di Sibea-bea.
“Pandangan itu berbanding terbalik dengan julukan almarhum Rizal Ramli yang pernah menyebut Danau Toba sebagai “Monaco of Asia”—sebuah visi besar yang hingga kini dinilai belum terwujud,” katanya lagi.
Sanggam mengaku beberapa kali berdiskusi dengan Rizal Ramli saat mendiang dipercaya mengawal pengembangan kawasan tersebut. “Beliau selalu menekankan kebersihan danau dan keberlanjutan lingkungan. Pariwisata tanpa danau yang bersih hanya jargon,” ujarnya.
Penyelenggaraan ajang internasional seperti Aquabike Jetski World Championship dan F1 Powerboat pun belum menunjukkan dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah wisatawan. Sanggam menilai, event besar tanpa ekosistem pariwisata yang matang hanya bersifat sesaat.
“Danau Toba butuh ahli bedah, bukan sekadar kosmetik. Harus ada keberanian membedah persoalan dari hulu ke hilir,” tegasnya.
Fokus Wisata Akhir Pekan
Dalam jangka pendek, Sanggam mendorong pemerintah daerah di tujuh kabupaten kawasan Danau Toba menjadikan wilayah tersebut sebagai destinasi wisata akhir pekan, memanfaatkan akses tol menuju Parapat yang kini semakin terbuka.
“Puncak Bogor hanya menawarkan udara sejuk. Danau Toba menawarkan udara sejuk plus panorama alam kelas dunia,” ujarnya.
Untuk itu, ia meminta dinas pariwisata merangkul pelaku usaha, hotel, restoran, dan komunitas kreatif untuk merancang agenda rutin. “Tidak perlu muluk mendatangkan turis asing dulu. Jika Danau Toba hidup setiap akhir pekan, itu sudah lompatan besar,” kata Sanggam.
Konsep Pengembangan Perlu Dirumuskan Ulang
Salah satu indikator perlunya evaluasi, menurut Sanggam, adalah dicabutnya status internasional Bandara Silangit pada 2024, yang mencerminkan rendahnya minat penerbangan langsung wisatawan mancanegara. Sejumlah maskapai domestik pun menghentikan rute ke bandara tersebut.
Ia menekankan, perumusan ulang konsep pengembangan tidak boleh berhenti di dokumen. “Yang dibutuhkan adalah konsistensi, ketegasan, dan eksekusi,” ujarnya.
Sanggam mengusulkan atraksi budaya rutin, penguatan kebersihan lingkungan, serta perlindungan ekosistem danau dan hutan. Ia mencontohkan konsep green hotel seperti The Parapat View Hotel yang menjaga keseimbangan alam dengan penghijauan intensif.
Selain alam, Sanggam mendorong pengembangan produk wisata berbasis budaya Batak, termasuk tugu-tugu marga yang memiliki nilai narasi sejarah unik dan jarang ditemui di belahan dunia lain. “Bila perlu, setiap kabupaten harus punya ciri khas, bukan saling bersaing,” katanya.
Ia juga mempertanyakan arah promosi luar negeri yang dinilai belum fokus. “Mau menyasar Asia atau Eropa? Kalau jelas, strategi dan perhitungannya juga jelas,” ujarnya.
Usulan Wisata Kuliner Terapung
Sebagai inovasi, Sanggam mengusulkan wisata kuliner terapung menggunakan kapal di sejumlah titik strategis seperti Pantai Bebas Parapat dan Ajibata. Menurutnya, konsep unik seperti itu dapat menjadi identitas baru Danau Toba.
“Bukan soal seberapa cepat orang sampai ke Danau Toba, tapi apa yang bisa mereka nikmati ketika tiba,” tegasnya.
Ia mengingatkan, tanpa kreativitas dan pembenahan terintegrasi, Danau Toba berisiko kehilangan daya saing. “Kalau tidak berubah, lima tahun lagi wisatawan bisa benar-benar berpamitan. Sayonara Danau Toba,” katanya.
Sanggam menutup dengan menegaskan bahwa pengembangan pariwisata kelas dunia harus menyatu dengan pemulihan ekosistem, peningkatan SDM, penguatan budaya, dan kesejahteraan masyarakat lokal. “Pariwisata bukan sekadar pemandangan, tapi mesin ekonomi yang menciptakan lapangan kerja,” pungkasnya. ***





