ALI MASYKUR MUSA TERPILIH SECARA AKLAMASI SEBAGAI KETUA MAJELIS NAQSHBANDI SE-DUNIA

oleh -23 Dilihat
oleh

Prof. Dr. Syekh KH. Ali Masykur Musa, MSi, M.Hum bersama para ulama Naqshabandi di Bukhara (Foto Istimewa)

 

JAKARTA, REPORTER.ID — Prof. Dr. Syekh KH. Ali Masykur Musa, MSi, M.Hum, terpilih secara aklamasi sebagai Chairman The International Naqshabandi Council (INC) atau Ketua Majelis Naqshbandi Se-Dunia yang pertama dalam Konperensi Internasional Naqshabandi Kedua yang berlangsung di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah, Sabtu (19/9) kemarin.

Pemilihan Ketua Majelis Naqshbandi Se-Dunia tersebut berlangsung di Universitas Negeri Teknologi Bukhara yang dihadiri para ulama dari 14 negara. Konferensi tersebut otomatis menjadi ruang perjumpaan lintas negara sekaligus momentum lahirnya sebuah wadah internasional.

Terpilihnya Syech Ali Masykur secara aklamasi tersebut berlangsung dalam suasana penuh khidmat. Pemilihan secara aklamasi di sini bukan sekadar prosedur organisasi, tetapi menjadi penanda kesepahaman para peserta untuk memberikan amanah kepemimpinan kepada Syekh Ali Masykur dalam membangun komunikasi dan persaudaraan Naqshbandi lintas negara. Momentum itu kemudian mencapai puncaknya dengan dibacakannya Deklarasi Piagam Bukhara, yang menandai berdirinya International Naqshabandi Council.

Bukhara merupakan salah satu kota penting dalam sejarah Islam di Asia Tengah dan memiliki keterkaitan erat dengan tradisi Naqshbandiyah. Nama Bahauddin Naqshband melekat kuat dalam ingatan spiritual kota ini. Dari lingkungan historis inilah tradisi Naqshbandiyah berkembang dan kemudian menempuh perjalanan panjang melintasi wilayah, bangsa, dan generasi.

Setelah tradisi itu berkembang berabad-abad, para pengamalnya kembali bertemu di Bukhara, sebuah kota  yang menyimpan sejarah penting dalam ingatan manusia. Di antaranya madrasah tua, masjid, dan jejak para ulama yang menghubungkan Asia Tengah dengan dunia Islam. Kota ini kembali menjadi tempat terjadunya sebuah peristiwa penting dalam perjalanan tradisi Naqshbandiyah.

Pertemuan itu memperlihatkan, warisan spiritual tidak berhenti sebagai kenangan sejarah. Ia terus bergerak, menemukan bentuk baru, dan mencari ruang untuk menjawab kebutuhan zaman.

Melalui INC yang dituangkan dalam Piagam Bukhara bukan sekadar dokumen deklaratif. Ia menjadi simbol ikhtiar untuk mempertemukan berbagai mata rantai Naqshbandiyah dalam satu ruang persaudaraan global.

Bagi Syekh Ali Masykur Musa, amanah tersebut datang bersama tanggung jawab yang tidak ringan. Kepemimpinan di tingkat internasional menuntut kemampuan untuk merawat keberagaman tradisi dan latar belakang komunitas Naqshbandi yang tersebar di berbagai negara yang dilakukan para waliyullah. Di atas semua itu, terdapat pesan spiritual yang menjadi ruh dari amanah tersebut yakni kepemimpinan harus bermuara pada pengabdian.

“Amanah ini bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan jalan pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT,” ujar Ali Maykur. Kalimat itu menemukan resonansinya di Bukhara, sebuah kota yang sejak lama menjadi salah satu simpul perjalanan spiritual Islam.

Di tengah dunia yang mengalami perubahan cepat, spiritualitas menghadapi tantangan untuk tetap relevan tanpa kehilangan akar. Karena itu, pertemuan para pengamal Naqshbandi dari berbagai negara juga dapat dibaca sebagai ikhtiar untuk menghadirkan nilai-nilai tasawuf ke dalam kehidupan sosial: dzikir yang melahirkan ketenangan, ilmu yang melahirkan kebijaksanaan, dan persaudaraan yang melahirkan kemaslahatan.

“Dari Bukhara, kita tidak sekadar membawa pulang kenangan sejarah; kita membawa amanah untuk menjadikan warisan spiritual sebagai cahaya bagi persaudaraan dan kemanusiaan,” ujar Ali Masykur.

Sebuah Babak Baru

Berdirinya International Naqshabandi Council menandai sebuah babak baru dalam perjalanan jejaring Naqshbandi internasional. Jika dahulu para mursyid dan ulama menempuh perjalanan panjang untuk menyambungkan mata rantai keilmuan dan spiritualitas dari satu negeri ke negeri lain, maka zaman kini menyediakan ruang baru melalui komunikasi dan jejaring global.

Namun, substansinya tetap sama: menjaga sanad, merawat adab, menghidupkan dzikir, memperkuat ukhuwah, dan menghadirkan kemaslahatan. Bukhara menjadi saksi ketika ikhtiar itu dirumuskan dalam sebuah deklarasi.

Menurut Ali Masykur Musa, jejak Syekh Bahauddin Naqshbandi masih hidup dalam ingatan umat  untuk menyambungkan hati-hati yang telah lama dipertemukan oleh satu jalan spiritual. ‘’Dari Bukhara inilah langkah itu dimula kembali,’’  tegasnya. (HPS)