HARBA 2026: Habib Aboe Bakar Ingatkan Kader PII Perkuat Ideologi di Tengah Disrupsi Zaman

oleh
oleh
Sekjen DPP PKS, Aboe Bakar Al Habsyi saat penutupan Bimtek Jatijaya 2024. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REPORTER.ID — Di tengah derasnya arus perubahan teknologi dan budaya global, momentum Hari Bangkit (HARBA) Pelajar Islam Indonesia (PII) dipandang bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan titik krusial untuk menilai arah ideologis generasi pelajar Muslim saat ini. Anggota MPR RI dari Fraksi PKS, Habib Aboe Bakar Alhabsyi, menegaskan bahwa HARBA harus menjadi ruang refleksi mendalam atas keberlanjutan nilai dan perjuangan organisasi di era disrupsi.

Pernyataan itu muncul saat dinamika digitalisasi dan banjir informasi kian membentuk pola pikir generasi muda. Dalam lanskap yang serba cepat, pelajar dihadapkan pada tantangan baru: krisis makna, pergeseran nilai, hingga kecenderungan berpikir instan yang berpotensi menjauhkan mereka dari fondasi ideologis.

Habib Aboe Bakar menilai, HARBA yang diperingati setiap 4 Mei semestinya dimaknai sebagai evaluasi kolektif—apakah ideologi yang diwariskan para pendiri PII sejak 1947 masih hidup dalam praktik keseharian kader, atau justru berhenti sebagai simbol tanpa implementasi.

“Disrupsi bukan hanya soal digitalisasi, tetapi juga pergeseran nilai dan cara pandang. Ideologi tidak boleh berhenti sebagai hafalan dalam forum kaderisasi, melainkan harus menjadi kompas dalam bertindak,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin.

Menurut dia, sejak awal berdiri, PII dirancang sebagai gerakan ideologis yang mengusung misi membentuk pelajar Muslim berkepribadian Islam, berilmu, dan berkontribusi bagi masyarakat serta bangsa. Ideologi tersebut merupakan perpaduan antara nilai keislaman, keindonesiaan, dan kepelajaran—sebuah fondasi yang dinilai harus tetap relevan lintas generasi.

Namun, tantangan yang dihadapi pelajar saat ini, lanjutnya, jauh berbeda dibanding era awal berdirinya organisasi. Jika dahulu generasi muda berhadapan dengan kolonialisme fisik, kini mereka menghadapi tekanan “kolonialisme gaya hidup”, dominasi budaya instan, dan derasnya informasi tanpa filter.

“Generasi pelajar hari ini berisiko menjadi penikmat zaman, bukan penggerak perubahan. Ini yang harus diwaspadai,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Habib Aboe Bakar menekankan pentingnya transformasi kaderisasi tanpa menghilangkan substansi ideologi. Ia menggarisbawahi tiga pilar utama yang perlu diperkuat.

Pertama, internalisasi nilai—ideologi harus tercermin dalam perilaku nyata kader, bukan sekadar dokumen atau jargon. Kedua, adaptasi metode—kaderisasi perlu memanfaatkan ruang digital sebagai medium dakwah dan penguatan gagasan. Ketiga, penguatan visi peradaban—kader didorong untuk berpikir strategis dan mampu merumuskan arah masa depan.

Ia menegaskan, HARBA seharusnya menjadi momentum kebangkitan kesadaran, bukan sekadar rutinitas tahunan.

“HARBA adalah panggilan untuk bangkit dalam kesadaran, pemikiran, dan aksi. Ideologi yang tidak diwariskan akan pudar, dan organisasi tanpa ideologi akan kehilangan arah,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Habib Aboe Bakar mengajak seluruh kader PII untuk menjadikan peringatan ini sebagai titik balik dalam mempertegas peran mereka di tengah perubahan zaman yang kian cepat.

“Pertanyaannya sederhana: apakah kita hanya mewarisi nama, atau benar-benar melanjutkan perjuangan. Jika ideologi itu hidup, PII akan tetap relevan. Jika tidak, disrupsi akan menggilas tanpa ampun,” kata dia. ***