Mathias Brahmana (foto : Istimewa)
Oleh : Mathias Brahmana
(Wartawan Senior)
Indonesia terlalu mahal untuk dibayar dengan dendam. Negeri ini bukan milik satu presiden. Bukan milik satu partai. Bukan milik satu keluarga politik. Bukan pula milik mereka yang kalah lalu ingin membakar rumah bersama karena tidak lagi duduk di ruang utama.
Indonesia adalah tanah air. Ia lebih tua dari jabatan. Lebih besar dari kursi. Lebih mulia dari ambisi. Presiden datang dan pergi. Menteri datang dan pergi. Partai naik dan turun. Tetapi negara harus tetap berdiri.
Itulah yang sering dilupakan oleh manusia-manusia yang mabuk kuasa. Ketika tidak menjabat, mereka bicara seolah-olah republik sudah kiamat. Ketika tidak dipanggil masuk lingkaran kekuasaan, mereka menuduh negara telah hilang arah. Ketika kepentingannya tidak dipenuhi, mereka menyusun fitnah, memutarbalikkan fakta, dan menggiring rakyat untuk percaya bahwa tidak ada lagi yang baik dari pemerintah.
Padahal cinta Indonesia tidak boleh kalah oleh benci kepada orang yang sedang menjabat. Kritik boleh. Kritik harus hidup. Kritik adalah oksigen demokrasi. Tetapi fitnah bukan kritik. Kebencian bukan perjuangan. Memutarbalikkan fakta bukan keberanian moral. Bermufakat jahat untuk menumbangkan kepercayaan rakyat bukan cinta tanah air, melainkan pengkhianatan terhadap akal sehat bangsa.
Kalau pemerintah salah, koreksi. Kalau pejabat korup, seret ke hukum. Kalau kebijakan melukai rakyat, lawan dengan data, argumentasi, dan keberanian konstitusional. Tetapi jangan hancurkan bangsa hanya karena benci kepada penguasanya. Jangan bakar lumbung hanya karena tidak suka kepada penjaga pintunya.
Data menunjukkan negeri ini tidak sedang kosong harapan. Survei Poltracking Mei 2026 mencatat 74,2 persen publik masih percaya kepada pemerintahan Prabowo–Gibran dan 72,2 persen publik menyatakan puas terhadap kinerja pemerintahan. Angka ini bukan cek kosong bagi pemerintah. Tetapi angka ini juga membantah para pembawa kabar gelap yang setiap hari ingin meyakinkan rakyat bahwa Indonesia sudah tamat.
Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa akhir Mei 2026 sebesar 144,9 miliar dolar AS, setara 5,6 bulan impor, masih di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Apakah sempurna? Tidak. Apakah rakyat tidak susah? Banyak yang masih susah. Apakah harga-harga tidak menekan? Menekan. Apakah pengangguran dan ketimpangan sudah selesai? Belum. Tetapi mengatakan tidak ada satu pun yang baik adalah kebohongan yang dipaksa menjadi opini.
Inilah penyakit politik kita: sebagian orang tidak ingin memperbaiki negara; mereka ingin membuktikan bahwa negara gagal agar dendam mereka terlampiaskan. Mereka bukan sedang membela rakyat. Mereka sedang memakai rakyat sebagai tangga.
Mereka bukan sedang menyelamatkan demokrasi. Mereka sedang menunggu kesempatan untuk merampas panggung. Mereka bukan sedang membangun kesadaran. Mereka sedang mengasah amarah.
Kepada mereka harus dikatakan dengan tegas: jangan paksakan keserakahanmu menjadi penderitaan bangsa. Kalau ingin berkuasa, tunggulah tanggal mainnya. Demokrasi sudah menyediakan jalan. Konstitusi mengatur pemilu lima tahun sekali. KPU pun mulai menyiapkan rancangan tahapan Pemilu dan Pilkada 2029. Itulah jalan yang sah. Itulah arena yang beradab. Itulah medan pertarungan yang diakui negara.
Bukan dengan menghasut rakyat saling curiga. Bukan dengan menyebarkan fitnah. Bukan dengan meniupkan ketakutan kepada investor. Bukan dengan berharap jalanan kacau. Bukan dengan membuat bangsa ini terlihat seperti rumah reyot yang menunggu roboh.
Negara harus di atas segalanya. Di atas benci. Di atas ambisi. Di atas kekecewaan pribadi. Di atas sakit hati karena tidak mendapat jabatan. Di atas nafsu untuk segera menggenggam kekuasaan.
Cinta Indonesia berarti berani mengkritik tanpa merusak. Berani berbeda tanpa menghancurkan. Berani menunggu giliran demokrasi tanpa menikam republik dari belakang. Sebab negara yang hancur tidak memilih korban.
Ketika kekacauan pecah, yang pertama menderita bukan elite. Yang pertama kehilangan nafkah adalah rakyat kecil. Yang pertama menutup warung adalah pedagang kecil. Yang pertama takut pulang malam adalah buruh, sopir, ibu-ibu, anak sekolah, orang biasa yang tidak pernah ikut rapat gelap kekuasaan.
Maka jangan biarkan Indonesia dijadikan taruhan oleh orang-orang yang lapar kursi. Jangan percaya kepada mereka yang setiap hari berteriak cinta rakyat, tetapi diam-diam menunggu negara lemah agar bisa masuk sebagai penyelamat palsu.
Jangan terbujuk oleh barisan sakit hati yang menjual kemarahan sebagai nasionalisme. Indonesia harus tetap utuh. Pemerintah harus tetap dikritik. Korupsi harus tetap dihajar. Kebijakan yang salah harus tetap diluruskan. Tetapi republik tidak boleh dihancurkan hanya karena sebagian orang tidak sabar menunggu pemilu berikutnya.
Kekuasaan ada waktunya. Jabatan ada masanya. Tetapi Indonesia harus selamanya. Negara harus di atas benci. Republik di atas dendam. Tanah air di atas segala ambisi manusia yang tidak sabar ingin cepat-cepat berkuasa. (Penulis adalah wartawan senior yang kini menjadi pemerhati sosial politik)





