FPG: Revitalisasi Pancasila Sebagai Spirit Kebangsaan Harus Dilakukan Sejak Dini

  • Bagikan

JAKARTA, REPORTER.ID – Gubernur Lemhanas RI Agus Widjoyo mengatakan sejak era Reformasi, Pancasila seolah kehilangan spirit dan daya magnetnya untuk menjadi falsafah dan ideologi negara. Padahal Pancasila itu Genuin digali dari nilai nilai yang sublim/luhur serta intisari dinamika sosial budaya masyarakat Indonesia.

Demikiam disampaikan Agus Widjoyo dalam acara
Fraksi Partai Golkar MPR RI dalam Giat diskusi publik dengan tema “Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam rangka Pembangunan Karakter Bangsa,” pada Kamis, (2/12/2021) di Cibubur, Jawa Barat.

Lebih lanjut Letnan Jendral (Purn) Agus W berpandangan kita sebagai bangsa diharapkan tidak terjebak pada wilayah perdebatan konsepsional, tetapi harus mulai menyentuh pada wilayah implementasi di lapangan. “Di tengah perubahan global, penguatan tradisi menjadi kata kunci agar bangsa ini tidak kehilangan identitas, karakter serta jati dirinya,” ungkapnya.

Sementara itu, Pembicara dari Fraksi Partai Golkar MPR RI H. Muhamad Nur Purnamasidi menegaskan Pancasila sebagai ideologi terbuka. Dalam pandanganya, ruh dan spirit Pancasila harus terinternalisasi bukan saja melalui doktrinasi yang membelenggu kreasi dan inovasi, namun pola revitalisasi nilai- nilai Pancasila harus ditanamkan sejak dini. Terutama melalui pendidikan. Baik di sekolah formal, maupun dimulai dari lingkup terkecil yakni keluarga. “Sosialisasi empat pilar kebangsaan yang dilakukan MPR RI dengan ragam bentuk kegiatan menjadi sangat penting dan relevan,” ungkapnya.

Menurut Bang Pur setidaknya terdapat dua fenomena yang perlu disikapi secara Arif, bijak dan tegas. Pertama terkait dengan mulai menguatnya politik Identitas, dengan sentimen SARA. Ini harus di waspadai, agar Bangsa ini tidak mengalami berbagai pergolakan yang tiada henti sebagaimana terjadi di negara negara Timur Tengah.

Terutama agama yang dijadikan sebagai alat untuk kepentingan politik kekuasaan. Bila itu terjadi, bangsa yang majemuk ini dipertaruhkan dan implikasinya sangat mengerikan.

Kedua, terkait dengan merebaknya paham transideologi. Mereka sangat militan dan sudah mulai menggurita, melakukan gerakan senyap dengan diam- diam memasuki wilayah pembuat kebijakan. “Golkar sebagai partai nasionalis harus mewaspadai gerakan yang berjubah agama hanya sebagai kedok dalam kerangka mengganti Pancasila dengan ideologi versi mereka,” pungkasnya.

Hadir sebagai pembicara Dr. Yunanto, Pontjo Sutowo, anggota Fraksi Partai Golkar yakni Muhammad Idris Lena, Ferdiansyah, Mujib Rahmat dan lain lain.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *