Agung Laksono dan Yasril Ananta Baharuddin (Ist)
JAKARTTA, REPORTER.ID — Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Yasril Ananata Baharuddin menegaskan ketidaksetujuannya Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Yasril menduga Bahlil merupakan tokoh yang menjadi bagian dari intervensi penguasa terhadap dinamika Golkar saat ini. Ia mempertanyakan rekam jejak Bahlil di Partai Golkar.
Yasril mengatakan, Ketua Umum Golkar itu tokoh yang mumpuni, kepemimpinannya harus teruji. Bukan asal menjabat menteri, rekam jejaknya harus jelas. Kalau Golkar mau berbenah, syarat jadi Ketum Golkar harus lebih ketat. Bukan cuma orang yang sedang menjabat menteri, tapi betul-betul orang yang mumpun, jujur, dan punya visi untuk membangun bangsa yang besar, bukan orang yang jumawa dan suka pecicilan. ‘’Sekarang waktunya kita membenahi Golkar, kita pilih pemimpin yang bersih, jujur dan mumpuni,” ujar Yasril, Kamis (15/8) malam.
Yasril yang mantan Ketua Komisi I DPR ini terang-terangan mengaku, dirinya bersama rakyat menolak oligarkhi kekuasaan. Ia berharap, Golkar jangan sampai dipimpin orang-orang yang merusak partai yang menjadi pilar demokrasi. Ketum Golkar harus tokoh pembaharu demokrasi, bukan perusak demokrasi.
‘’Saya juga heran mengapa banyak kader yang diam saja. Sepertinya tidak berani menegakkan konstitusi dan bisu membela kebenaran, ada apa ini? Mana orang-orang yang dulu mendukung Airlangga Hartarto, kok diam? Sudah sejauh itukah mental kader sejati. Sedihnya lagi, sekarang ini ukurannya hanya jabatan dan uang. Memilih pemimpin ukurannya hanya itu. Sedih saya, semangat perjuangan, idealism, dan nasionalisme seolah sudah tenggelam,’’ tegasnya. ‘’Padahal sebentar lagi kita memperingati HUTke-79 RI. Kenapa nilai-nilai dan semangat kemerdekaan sudah luntur? Mana itu semboyan merdeka atau mati,’’ imbuhnya.
Menjawab pertanyaan soal ketidaksetujuannya Bahlil menjadi Ketum Golkar, Yasril kembali menegaskan, ada yang lebih layak untuk menjadi Ketum Golkar. Ada Bambang Soesatyo, ada Agus Gumiwang Kartasasmita, ada Dave Laksono, dan yang lain.
Kata dia, mutiara yang terpendam di Golkar ini banyak, mereka punya semangat idealisme dan nasionalisme yang kuat, kepentingannya untuk memajukan bangsa dan negara, gagasannya untuk kepentingan rakyat, untuk kemajuan bangsa, bukan untuk kepentingan sesaat seperti mencari kekuasaan lalu mencari duit, selesai. Sekarang ini banyak sekali yang seperti itu, merusak sistem dan mekanisme ketatanegaraan kita maupun organisasi partai politik,” tandasnya. (HPS)





