EVOLUSI KEUNGGULAN PENGENDALIAN UDARA

oleh
oleh

Laksamana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi (net)

 

Oleh: Ambassador Freddy Numberi

1. Pendahuluan

Perang Dunia I (PD I) dan Perang Dunia II (PD II) telah dibuktikan bahwa pertempuran antara pesawat tidak dapat dihindari. Tergantung platform yang digunakan melalui kapal induk atau landasan pesawat di darat dan semuanya itu telah terbukti kebenarannya. Kemampuan pesawat untuk bermanuver dalam tiga dimensi dengan kecepatan tertentu, mempersulit bidikan senjata baik di darat maupun di atas pesawat.

Pengalaman dalam PD I dan PD II telah dibuktikan bahwa tanpa adanya bentuk kendali udara, operasi permukaan di darat atau di laut semakin sulit. Contoh:

a. Babak awal PD I, Luftwaffe menikmati keberhasilan besar melawan pasukan Sekutu, dan peran Luftwaffe memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap serangan di wilayah barat dan pada bulan Juni 1941, invasi ke Uni Soviet.

Sudah ada tanda-tanda peringatan dari Jerman bahwa mereka tidak dapat mempertahan kendali udara tersebut. Pada serangan di Dunkirk pada tahun 1940, Royal Air Force (RAF) dari Inggeris berhasil merebut kendali udara dari Jerman dan mencegah serangan skala penuh terhadap pantai di Dunkirk.

Pertempuran Inggeris selanjutnya berakhir dengan kegagalan bagi Luftwaffe, karena tidak mampu mengalahkan pasukan Sekutu yang terorganisir dengan baik dalam hal kebijakan, strategi maupun operasional. (sumber: David Jordan, etal, 2016).

b. Pada PD II juga terbukti serangan Pearl Harbor oleh Kekaisaran Jepang menggunakan pesawat terbang dari geladak kapal induk tanggal 7 Desember 1941 berhasil saat babak awal saja.

Armada Pasifik yang ada tidak siap atas serangan mendadak yang dilakukan oleh Jepang lebih dari 353 pesawat yang menyerang. (sumber: Jonathan Clements, 2022).

Kemudian Amerika Serikat dapat mengalahkan Jepang dengan kendali udara jarak jauh oleh pesawat udara yang diterbangkan dari kapal induk pada tanggal 3-4 Juni 1942 di Coral Sea dan kendali udara pada pertempuran di Midway, tanggal 4-7 Juni 1942.

AS berhasil mengalahkan Jepang. Kendali udara yang dilakukan kapal induk AS memang ampuh, antara kapal induk tidak kelihatan satu sama lain, tetapi Command, Control, Intelegence bekerja dengan baik. Richard Overy dalam bukunya War in the Pacific, London, 2010: hal.23, mengatakan, “Kemenangan AS sangat menentukan, dan itu dicapai dalam pertempuran yang dilakukan oleh pesawat-pesawat terbang dari dua kapal induk yang tidak pernah terlihat satu sama lain.”

Clausewitz, mengatakan: “Faktor-faktor yang menghasilkan kejutan adalah kerahasiaan dan kecepatan” (sumber: William A. Cohen, PH.D., 2001: hal.147). Pengendalian udara dalam PD I dan PD II terbukti merupakan kunci kemenangan bagi pasukan Sekutu dalam PD I maupun dalam PD II.

2. Aspek kontemporer pengendalian udara

Konflik antara koalisi yang dipimpin AS melawan Angkatan Udara Irak pada tahun 1991 menyoroti kemungkinan bahwa kekuatan yang lebih kecil mengadopsi pendekatan asimetris terhadap kendali udara. Respon asimetris bukanlah hal yang baru. Vietnam Utara menggunakan rudal permukaan ke udara (SAM) dan artileri anti pesawat (AAA) secara ekstensif.

Perang Arab melawan Israel dalam Yom Kippur/Ramadhan 1973 memiliki aliran pemikiran asimetris oleh Mesir, yang mengandalkan SAM melawan Isarel untuk mengimbangi superioritas kendali udara oleh Isarel. Israel berhasil mengalahkan SAM yang dikendalikan oleh Mesir.

Dari pengalaman Israel melawan Mesir, kendali udara telah berubah, musuh tidak lagi berusaha untuk terlibat hanya dalam pertempuran udara yang melelahkan, tetapi menggunakan berbagai teknik yang berbeda untuk mencapai tujuan perang yang diinginkan.

Mesir melakukan kendali udara terbatas terhadap Israel sebelum kembali menggunakan SAM, memperkuat pentingnya dimensi lain untuk mengendalikan udara, yaitu penindasan pertahanan udara musuh (SEAD/ Suppression of Enemy Air Defenses). Perubahan tersebut ditunjukkan selama Operasi Allied Forces terhadap krisis Kosovo pada tahun 1949.

Respon NATO terhadap Angkatan Udara Yugoslavia, mengakibatkan kehancuran sebagian besar aset udara Yugoslvia. Pada tahun 2003, Angkatan Udara Irak memilih untuk tidak terbang sama sekali menghadapi invasi oleh koalisi yang dipimpin oleh AS. Dalam operasi Enduring Freedom dipimpin oleh AS menjawab serangan teroris di New York pada tanggal 11 September 2001(9/11) terhadap Afghanistan yang sama sekali tidak memiliki angkatan udara yang kredible, hal ini menimbulkan pertanyaan bagi banyak pengamat.

3. Penutup

Meskipun periode pasca PD II berakhir dengan penggunaan senjata nuklir dan pembentukan angkatan udara strategis oleh pihak AS tidak menjawab apakah akan digunakan kendali udara dalam Perang Dunia Ketiga atau tidak. Dari uraian diatas kerjasama yang erat antara udara, darat dan laut menjadi bagian penting dalam perang modern.

Kampanye Korea Selatan pada tahun 1950-1953 terkenal karena ‘perjuangan keras’ pasukan di darat, yang bergantung pada dukungan udara untuk melawan Korea Utara dan kemudian Korea Selatan dapat mengungguli sejumlah pasukan China. Perang Vietnam juga memperkuat kekuatan darat dan laut, manakala dikombinasikan dengan baik.

Hal ini dikombinasikan oleh AS dalam taktik udara-mobile mendapat pasokan dari kekuatan udara. Angkatan Laut serta Korps Marinir memainkan peran penting dalam setiap konflik yang melibatkan AS. Fungsi asli kekuatan udara, yaitu pengumpulan informasi telah berubah menjadi komponen penting dalam setiap konflik atau perang.

General of the Air Force Henry H. Arnold, U.S. Air Force, mengatakan: “Any Air Force which equipment, and its doctrine ahead of its equipment, and its vision far into the future, can only delude the nation into a false sense of security”. (sumber: William A. Cohen, PH.D., New Jersey, 200: hal.165).

Korps Marinir AS adalah salah komponen Angkatan Laut AS yang memiliki kekuatan udara tersendiri dan banyak memanfaatkan kerjasama udara, darat, dan laut selama suatu operasi. Potensi Marinir AS sebagai pasukan yang mandiri dengan persenjataan pendukungnya sendiri dapat beroperasi secara mandiri.

Penggunaan kekuatan udara bagi Korps Marinir dalam transportasi penghubung seperti helikopter, semuanya berkontribusi dalam lingkungan maritim disebut juga “Trimedya” yang mampu bertempur di darat, laut dan di udara. Korps Marinir juga memiliki pesawat meskipun terbatas dan memiliki penerbang sendiri.

Contoh di Midway, pihak AS menyebutnya sebagai “kapal induk yang tidak pernah tenggelam” memiliki satu batalion Marinir untuk mempertahankan pulau Midway sebagai gerbang menuju Hawaii/Pearl Harbor. Dalam lingkungan maritim, pentingnya interaksi gabungan udara dan kekuatan maritim ditonjolkan pada banyak kesempatan.

Serangan Jepang di Pearl Harbor pada bulan Desember 1941, gagal menghancurkan kapal induk AS, dan ini memberikan kesempatan untuk AS melancarkan serangan balasan dan menghancurkan Armada Jepang di Coral Sea dan Kepulauan Midway. AS terus menggunakan kekuatan udara maritim mereka untuk memberikan efek yang nyata bagi kehancuran Jepang.

Terbukti dengan komitmen dan kerjasama yang baik antara unsur darat, laut dan udara membuahkan hasil yang signifikan.  (Penulis adalah Laksamana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi, mantan Menhub, mantan Menpan-RB, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, mantan Dubes Itali dan Malta, mantan Gubernur Papua, dan pendiri Numberi Center)