Wamenag Romo H.R. Muhammad Syafi’i saat meresmikan Masjid Ummul Quraa, Depok (Ist)
JAKARTA, REPORTER.ID — Wakil Menteri Agama Romo H.R. Muhammad Syafi’i meresmikan Masjid Ummul Quraa dan meletakkan batu pertama pembangunan Sekolah Dasar di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah, Jalan Raya Kalimullya, Kebbon Duren, Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (24/5) lalu.
Romo didampingi H. Tatit Eko Susilo selaku donator, Ketua Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah Depok KH DR. Nasirul Haq, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok Ust Lalun Mabrur, dan Habib Ali Al Habsyi.
Adapun masjid Ummul Qurra yang diresmikan tersebut seluas 1.400 meter persegi dan mampu menampung kurang lebih 2000 jamaah dan dengan besaran anggran Rp 10,3 miliar. Sedangkan luas bangunan SD sebbesar 840 meter persegi dengan biaya sebesar Rp 8,1 miliar.
Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah sendiri memiliki lembaga pendidikan formal mulai dari tingkat sekolah dasar, menengah hingga Sekolah Tinggi dengan perkiraan jumlah peserta didik sebanyak 1.500 orang.
Dalam sambutannya Wamenag Romo H.R. Muhammad Syafi’I menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap kontribusi Ponpes Hidayatullah dalam pembangunan karakter dan pendidikan bangsa. Menurutnya, pembangunan fasilitas pendidikan ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang menekankan pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan dan iman-takwa (IMTAK).
“Hidayatullah adalah tonggak penting untuk keberhasilan program pemerintah. Jaringannya tersebar di seluruh Indonesia, alumninya telah berkiprah di berbagai posisi strategis. Ini membuktikan kontribusi nyata lembaga ini dalam pembangunan bangsa,” kata Romo Syafi’i
Politisi Gerindra ini menegaskan, Masjid Ummul Qura yang turut diresmikannya bukan sekadar tempat ibadah belaka, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan perencanaan umat. Romo menuturkan, disertasi doktoralnya di PTIK mengkaji masjid sebagai modal sosial, menjadi landasan pandangannya dalam melihat peran masjid dalam sejarah peradaban Islam.
Menanggapi potensi stigma terhadap pesantren, Wamenag menegaskan pentingnya menghentikan pelabelan negatif yang tidak berdasar terhadap lembaga-lembaga pendidikan Islam. “Lebih dari seribu pesantren pernah dicurigai sebagai sarang terorisme. Tapi kini, kita menyaksikan bagaimana pemerintah memberikan ruang yang luas. Pesantren adalah bagian dari sejarah perjuangan bangsa. Resolusi jihad, kemerdekaan Indonesia, semua berakar dari pesantren,” tegasnya.
Bersyukur
Sementara it, H. Tatit Eko Susilo selaku Donator dan Penasehat Ponpes Hidayatullah dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas segala pencapaian yang telah diraih lembaga ini dalam upaya membina generasi penerus umat yang berakhlak mulia dan berilmu.
Ponpes Hidayatullah, ujarnya, telah menjadi salah satu lembaga pendidikan yang tidak hanya fokus pada pengajaran ilmu agama tetapi juga mendidik para santrinya menjadi pribadi yang unggul, mandiri, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Dalam menjawab tantangan zaman yang semakin komplek, Susilo yang asli Jatim ini berharap Ponpes Hidayatullah terus berinovasi dan meningkat kualitas pendidikan. ‘’Tentunya dengan tetap memegang teguh nilai-nilai Islam yang lurus dari ajaran yang diwariskan oleh Rosulullah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW,’’ ujarnya.
Dengan rendah hati, Susilo menyampaikan komitmennya untuk terus mendukung berbagai program dan kegiatan yang dijalankan Ponpes Hidayatullah. ‘’Kami berdoa semoga Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan kepada kita semua dalam menjalankan amanah yang mulia ini,’’ tuturnya.
‘’Semoga Ponpes Hidayatullah senantiasa diberikan keberkahan sehingga menjadi Pusat Pendidikan Islam yang membanggakan dan mampu mencetak generasi penerus yang shaleh dan shalekah,’’ imbuhnya. (HPS)





