Mengapa Muktamar NU ke-35 di Pesantren Tambakberas? Ini Bukan Kebetulan, Tapi Panggilan Sejarah

oleh

JAKARTA,REPORTER.ID – Penetapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur sebagai lokasi Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 bukan sekadar keputusan teknis penyelenggaraan. Di balik nama Tambakberas, tersimpan sejarah panjang pesantren, sanad keilmuan, jaringan ulama, dan jejak besar perjuangan Nahdlatul Ulama (NU).

PBNU telah menetapkan Muktamar ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Keputusan ini menegaskan bahwa pesantren kembali ditempatkan sebagai ruang utama musyawarah tertinggi jam’iyah, bukan sekadar latar acara seremonial.

Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Ketua Organizing Committee Muktamar ke-35 NU, H. Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyebut penetapan Tambakberas sebagai tuan rumah merupakan hasil kesepakatan bersama yang patut disyukuri. Dalam posisi sebagai Sekjen PBNU dan Ketua Panitia OC, dia memiliki peran penting dalam memastikan seluruh tahapan persiapan Muktamar berjalan tertib, terukur, dan tetap berada dalam koridor organisasi.

Bagi Gus Ipul, pengalaman Tambakberas dalam menyelenggarakan agenda besar menjadi salah satu modal penting. Pesantren ini tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga memiliki kesiapan sosial, kultural, dan kelembagaan untuk menjadi tuan rumah forum tertinggi Nahdlatul Ulama.

Tambakberas bukan hanya tempat belajar para santri. Ia adalah salah satu rumah besar ulama Nusantara yang sejak awal telah melahirkan banyak tokoh penting dalam sejarah Islam Indonesia. Karena itu, pilihan terhadap Tambakberas memiliki makna lebih dalam: NU seperti sedang dipanggil kembali kepada akar pesantren, akar sanad, dan akar perjuangan para muassisnya, pendirinya.

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas memiliki akar sejarah yang tidak dapat dilepaskan dari sosok KH. Abdus Salam, yang dikenal pula dengan nama Kyai Shoichah. Beliau disebut mendirikan pesantren sekitar tahun 1825 di Dusun Gedang, Tambakberas, Jombang.

Pada masa awal berdirinya, pesantren ini dikenal dengan nama Pondok Selawe atau Pondok Nyelawe. Nama itu muncul karena jumlah santrinya saat itu sekitar 25 orang. Dari tempat yang sederhana inilah kemudian tumbuh salah satu pusat pendidikan Islam besar yang memberi warna penting dalam perjalanan pesantren dan keulamaan di Indonesia.

Secara nasab, KH. Abdus Salam disebut memiliki garis keturunan dari tokoh-tokoh besar Nusantara. Silsilahnya disebut bersambung kepada Abdul Jabbar, Ahmad, Pangeran Sumbu, Pangeran Benowo, Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Lembu Peteng, hingga Brawijaya, Raja Majapahit.

Dari pernikahan KH. Abdus Salam dengan Nyai Muslimah dari Demak, lahir sejumlah putra-putri, antara lain Laiyyinah, Fatimah, Abu Bakar, Murfu’ah, Jama’ah, Mustaharah, Ali Ma’un, Fatawi, dan Abu Sakur.

Perkembangan pesantren kemudian berlanjut melalui dua jalur penting. Laiyyinah menikah dengan Kyai Utsman dan melanjutkan Pondok Nyelawe. Sementara Fatimah menikah dengan Kyai Sa’id dari Demak, yang kemudian mendirikan pondok di sebelah barat Dusun Gedang. Pondok inilah yang kelak berkembang menjadi Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Dari pasangan Kyai Sa’id dan Nyai Fatimah lahir KH. Chasbullah, yang sebelumnya dikenal dengan nama Kasbi sebelum menunaikan ibadah haji. KH. Chasbullah kemudian menjadi penerus utama Pondok Bahrul Ulum. Setelah Kyai Utsman tidak memiliki penerus, para santri Pondok Nyelawe kemudian dipindahkan ke pondok yang diasuh KH. Chasbullah.

KH. Chasbullah menikah dengan Nyai Latifah atau Nyai Aisyah dari Tawangsari, Sidoarjo. Dari pasangan ini lahir sejumlah putra-putri yang kelak menjadi tokoh penting, antara lain KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Abdul Hamid, Nyai Khadijah, KH. Abdurrahim, Nyai Fatimah, Sholihah, Zuhriyah, dan Aminatur Rokhiyah.

Di antara nama-nama tersebut, KH. Abdul Wahab Hasbullah menjadi salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam Indonesia. Beliau dikenal sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama dan memiliki peran besar dalam perkembangan pesantren, pergerakan ulama, serta perjuangan kebangsaan, kemerdekaan Indonesia.

Karena itu, ketika Tambakberas menjadi pilihan Muktamar NU ke-35, publik tidak dapat melihatnya hanya sebagai lokasi acara. Tambakberas adalah bagian dari denyut sejarah NU itu sendiri. Di pesantren ini tersimpan ingatan panjang tentang sanad ulama, perjuangan keagamaan, dan hubungan erat antara pesantren dengan kebangkitan organisasi para ulama.

Secara garis besar, kepemimpinan pesantren berlanjut dari KH. Abdus Salam, kemudian Kyai Utsman, Kyai Sa’id, KH. Chasbullah, lalu diteruskan oleh generasi berikutnya seperti KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Abdul Hamid, dan KH. Abdurrahim. Pada masa berikutnya, kepengasuhan dilanjutkan oleh tokoh-tokoh seperti KH. Najib Abdul Wahab, KH. M. Sholeh Abdul Hamid, KH. Amanullah Abdurrahim, dan KH. Hasib Abdul Wahab.

Nama Bahrul ‘Ulum sendiri secara resmi diberikan pada tahun 1967 oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah. Sebelum itu, pesantren ini lebih dikenal dengan nama Pondok Tambakberas atau Pondok Nyelawe. Dengan sejarah panjang tersebut, Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas bukan sekadar pesantren tua. Ia adalah samudra ilmu, sanad perjuangan, dan rumah besar lahirnya ulama-ulama pejuang.

Dari Tambakberas, lahir banyak tokoh besar yang memberi kontribusi bagi perkembangan Islam, pendidikan pesantren, dan perjalanan Nahdlatul Ulama. Pesantren ini juga memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga besar pendiri Pondok Pesantren Tebuireng serta jaringan ulama Jombang yang berperan besar dalam lahir dan berkembangnya NU.

Maka, pertanyaan “mengapa Tambakberas menjadi pilihan Muktamar NU ke-35?” sesungguhnya dapat dijawab dengan sederhana: karena Tambakberas bukan hanya memiliki tempat, tetapi juga memiliki sejarah. Bukan hanya memiliki bangunan, tetapi memiliki sanad. Bukan hanya memiliki nama besar, tetapi memiliki warisan perjuangan.

Di tengah dinamika NU hari ini, Tambakberas menjadi simbol penting. Ia mengingatkan bahwa NU besar bukan karena kekuasaan, bukan karena jabatan, dan bukan karena hiruk-pikuk politik organisasi semata. NU besar karena ulama, pesantren, sanad keilmuan, adab, dan khidmah.

Dalam konteks itulah, peran Gus Ipul sebagai Sekjen PBNU sekaligus Ketua Panitia OC Muktamar menjadi penting. Ia tidak hanya berbicara soal teknis penyelenggaraan, tetapi juga menjaga agar Muktamar NU berjalan sebagai forum bermartabat, tertib organisasi, dan tetap berpijak pada ruh pesantren.

Karena itu, Muktamar NU ke-35 di Tambakberas dapat dimaknai sebagai momentum pulang. Pulang ke akar pesantren. Pulang ke adab para ulama. Pulang kepada ruh perjuangan para pendiri NU. “Tambakberas bukan sekadar tuan rumah. Tambakberas adalah panggilan sejarah.”