Wakil Ketua DPR RI Cucun: Ilmu Agama dan Teknologi Jadi Bekal Santri Hadapi Zaman

oleh -7 Dilihat

JAKARTA,REPORTER.ID  – Generasi muda, khususnya para santri, didorong memperkuat ilmu agama sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman. Keduanya perlu berjalan seimbang agar santri mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan karakter dan akhlak.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal saat menerima kunjungan edukasi parlemen santri SMA Habibi Bina Cendikia dari Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Legislator dari Fraksi PKB itu mengatakan perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat dan telah mengubah cara generasi muda memperoleh informasi maupun pengetahuan. Kondisi tersebut, menurutnya, harus diimbangi kemampuan literasi yang baik agar santri tidak sekadar memperoleh informasi secara cepat, tetapi juga mampu memahami dan mengolahnya secara utuh.

“Makanya, saya ingin bagaimana kalian bisa merawat akal, menyapa zaman. Merawat akal itu, kalian tidak boleh karakter akhlak anak bangsa yang hidup di pesantren hilang, dan menyapa zaman bagaimana perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan ini bisa kalian adaptif dengan perkembangan,” ujar Cucun.

Ia mengingatkan derasnya arus informasi digital juga membawa tantangan berupa berita bohong, propaganda, hingga pembunuhan karakter. Karena itu, Cucun meminta para guru turut memperkuat budaya literasi santri agar mereka tidak mudah terjebak informasi yang tidak benar.

“Saya titip kepada bapak ibu sekalian ini. Mereka harus berkarya dengan literasi. Mereka ini sekarang miskin literasi karena sangat cepat melihat dan mendapatkan informasi,” katanya.

Menurut Cucun, kemudahan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahaman. Generasi muda dapat memperoleh jawaban dalam waktu singkat melalui berbagai perangkat dan platform digital, tetapi tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk memahami persoalan secara komprehensif.

Karena itu, ia mendorong santri tidak membatasi diri hanya pada ilmu agama. Santri juga perlu menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman, termasuk teknologi. “Santri yang kuat itu berdiri di dua kaki: satu kaki di ilmu agama, satu kaki di ilmu zaman,” tegasnya.

Cucun juga mengajak para santri tidak membatasi cita-cita hanya karena berasal dari lingkungan pesantren. Menurutnya, santri memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi profesional di berbagai bidang, mulai dari insinyur, dokter, peneliti, pengusaha, hingga pemimpin bangsa.

Ia mencontohkan sejumlah tokoh nasional yang tetap membawa nilai-nilai kepesantrenan ketika berkiprah di ruang publik. Menurut Cucun, identitas sebagai santri justru dapat menjadi kekuatan apabila dibarengi penguasaan ilmu dan kemampuan beradaptasi.

“Perkuat ilmu agama sebagai akar. Kuasai ilmu dunia sebagai sayap. Dengan keduanya, kalian akan terbang jauh tanpa kehilangan arah,” pesan Cucun.

Ia berharap kunjungan para santri ke Gedung DPR RI tidak berhenti sebagai pengalaman melihat langsung aktivitas parlemen, tetapi menjadi momentum untuk membangun keberanian bermimpi dan menyiapkan diri sejak dini. “Jangan pernah kalian membatasi cita-citanya. Masa depan bangsa ini ada di tangan kalian,” pungkasnya.