Kwik Kian Gie Telah Berpulang, Irman Gusman: Warisannya pada Ekonomi Kerakyatan Tetap Bergema

oleh
oleh
Irman Gusman, mantan Ketua DPD RI.

JAKARTA, REPORTER.ID — Di sebuah negeri yang tengah mencari arah ekonomi dan etika politik, kepergian Kwik Kian Gie meninggalkan lubang yang tak mudah ditambal. Ia wafat Senin malam, 28 Juli 2025, pada usia 90 tahun. Namun suara dan sikapnya, yang tajam namun teduh, akan tetap hidup di benak mereka yang percaya bahwa pembangunan tidak harus melupakan manusia.

Bagi Irman Gusman, mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI yang mengenal Kwik secara pribadi maupun profesional, almarhum bukan sekadar ekonom. Ia adalah penjaga prinsip, nasionalis dalam tindakan, dan mentor dalam kesunyian.

“Pak Kwik adalah cermin nasionalisme yang sesungguhnya—bukan dengan orasi keras, tapi dengan pengabdian yang tenang dan konsisten kepada rakyat,” kata Irman dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu (30/7/2025).

Antara Ekonomi dan Etika

Selama hidupnya, Kwik Kian Gie tidak pernah menjadi teknokrat yang kehilangan nurani. Ia pernah duduk sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri di era Presiden Abdurrahman Wahid, serta menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas di bawah Presiden Megawati Soekarnoputri. Tapi jabatannya tidak pernah menghilangkan identitasnya sebagai pengkritik kekuasaan yang menyimpang.

Senator Irman mengenang masa-masa ketika mereka duduk di Majelis Permusyawaratan Rakyat. “Kami sering berdiskusi. Bukan soal politik praktis, tapi tentang arah negara. Tentang bagaimana kebijakan harus berpihak kepada mereka yang tak bersuara,” ujarnya.

Nasionalisme Tanpa Panggung

Dalam era ketika nasionalisme kerap diklaim dalam simbol dan slogan, Kwik menunjukkan bahwa cinta tanah air bisa hadir lewat kerja sunyi—tanpa kamera, tanpa popularitas, tanpa kalkulasi politik.

“Nasionalisme, bagi beliau, adalah soal memperjuangkan kepentingan rakyat. Bukan soal pencitraan. Ia tidak pernah mengejar penghargaan, tapi setiap langkah hidupnya adalah pengabdian,” ujar Irman lagi.

Kwik bukan tokoh populis. Tapi justru karena itu, ia dicintai. Ia keras pada korupsi, jujur dalam berpendapat, dan bersikap ketika banyak orang memilih diam.

Warisannya Masih Relevan

Meski telah berpulang, warisan pemikiran Kwik Kian Gie terus menjadi penuntun moral dalam diskursus kebijakan publik. Di tengah ketimpangan ekonomi yang masih mencolok dan maraknya pragmatisme politik, banyak yang merindukan suara seperti dirinya—yang tak tergoda oleh kekuasaan, namun tetap bersuara untuk rakyat kecil.

“Semangat beliau akan terus hidup. Komitmennya pada ekonomi yang berkeadilan dan negara yang berdaulat akan terus menginspirasi kita,” kata Irman.

Dengan suara lirih namun jelas, Irman menutup pernyataannya:
“Selamat jalan, Pak Kwik. Terima kasih atas keteladananmu. Engkau telah menunaikan tugasmu sebagai warga negara yang sejati.” ***