Menyambut Muktamar ke-35 NU : NU Itu Jembatan Kaum Pesantren Menuju Kemajuan

oleh
oleh

Dr. Ahmad Effendy Choirie (foto : Ist)

Oleh : Dr. Ahmad Effendy Choirie

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, muncul kembali pertanyaan penting : untuk apa sesungguhnya NU didirikan, dan ke mana arah perjuangannya di tengah perubahan dunia yang begitu cepat?

Bagi warga pesantren, NU bukan sekadar organisasi keagamaan. NU adalah rumah besar tradisi Islam Nusantara, tempat berhimpunnya ulama, santri, kaum mustadh’afin, serta masyarakat desa yang selama puluhan tahun menjaga agama, budaya, dan bangsa Indonesia. Namun lebih dari itu, NU sesungguhnya adalah jembatan besar kaum pesantren menuju kemajuan peradaban.

NU lahir bukan untuk memenjarakan umat dalam romantisme masa lalu, melainkan untuk menghubungkan tradisi dengan modernitas, ilmu agama dengan ilmu pengetahuan, moralitas dengan kemajuan ekonomi, serta spiritualitas dengan pembangunan bangsa. Di sinilah letak kekuatan utama NU.

Pesantren dan Jalan Peradaban

Sejak dahulu pesantren telah menjadi benteng moral bangsa. Dari rahim pesantren lahir ulama, pejuang kemerdekaan, pendidik, budayawan, bahkan pemimpin negara. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter: kesederhanaan, kejujuran, kedisiplinan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Namun tantangan zaman kini jauh berbeda. Dunia bergerak menuju era digital, kecerdasan buatan, ekonomi global, dan persaingan teknologi. Jika kaum pesantren tertinggal dalam ilmu pengetahuan, ekonomi, dan teknologi, maka pesantren hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri.

Karena itu, NU harus menjadi jembatan transformasi. Kaum santri tidak cukup hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga harus mampu menguasai sains, teknologi, ekonomi, politik, diplomasi, media, dan kewirausahaan.

Pesantren masa depan harus mampu melahirkan : ulama yang intelektual, intelektual yang berakhlak, pengusaha yang berkeadilan, birokrat yang amanah, dan politisi yang bermoral. NU memiliki modal sosial, kultural, dan spiritual yang sangat besar untuk mewujudkan hal itu.

NU Jangan Terjebak Konflik Elit

Muktamar NU jangan hanya menjadi arena perebutan jabatan, pengaruh, atau kepentingan politik jangka pendek. Jika NU terlalu sibuk dengan konflik elit, maka NU akan kehilangan energi untuk membangun umat. NU terlalu besar untuk dipersempit menjadi alat politik kelompok tertentu.

Warga NU di akar rumput sesungguhnya berharap : pendidikan yang lebih baik, ekonomi yang lebih kuat, lapangan pekerjaan, kesehatan, akses teknologi, dan perlindungan sosial yang nyata. Karena itu, agenda utama NU ke depan seharusnya tidak berhenti pada soal struktur organisasi, tetapi bagaimana membangun kemandirian umat secara konkret.

NU harus menjadi pelopor : pemberdayaan ekonomi rakyat, penguatan koperasi pesantren, pembangunan industri halal, pengembangan pertanian modern, transformasi pendidikan, dan literasi digital masyarakat.

Kaum Santri Harus Percaya Diri

Kaum pesantren tidak boleh minder menghadapi dunia modern. Sejarah membuktikan bahwa banyak tokoh besar bangsa lahir dari tradisi pesantren. Bahkan nilai-nilai pesantren seperti gotong royong, kesederhanaan, toleransi, dan akhlak justru menjadi kebutuhan dunia modern yang mulai kehilangan arah moral.

Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas. NU selama ini berhasil menjaga prinsip : al-muhafazhah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah.
Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Prinsip inilah yang membuat NU mampu bertahan melewati berbagai zaman: kolonialisme, orde lama, orde baru, reformasi, hingga era globalisasi digital hari ini.

NU dan Masa Depan Indonesia

Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim membutuhkan organisasi keagamaan yang moderat, inklusif, nasionalis, dan berakar kuat di masyarakat. NU memiliki posisi strategis itu. Jika NU maju, maka umat Islam Indonesia berpeluang maju. Jika pesantren maju, maka rakyat kecil memiliki harapan besar untuk bangkit.

Karena itu, Muktamar ke-35 NU seharusnya menjadi momentum konsolidasi besar : memperkuat persatuan warga, membangun kualitas SDM pesantren, memperkuat ekonomi umat, serta menyiapkan generasi santri menghadapi masa depan dunia.

NU tidak boleh hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga harus menjadi pelopor kemajuan. Kaum pesantren harus diyakinkan bahwa modernitas bukan ancaman, selama fondasi moral, ilmu, dan akhlak tetap dijaga. NU pada akhirnya bukan sekadar organisasi keagamaan. NU adalah jembatan sejarah yang menghubungkan pesantren dengan kemajuan bangsa Indonesia.

Dan selama jembatan itu tetap kokoh, pesantren akan terus menjadi sumber cahaya bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.  (Penulis adalah Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), mantan Anggota DPR/MPR RI, Alumni Pondok Pesantren Langitan)