Oleh : Laksamana Sukardi
Pergerakan nilai tukar rupiah pada awalnya selalu terlihat teknis yang dipengaruhi oleh :suku bunga The Fed. Arus modal keluar. Defisit transaksi berjalan. Harga komoditas global. Cadangan devisa. Yield obligasi pemerintah. Semua itu adalah faktor fundamental yang lazim dalam mekanisme pasar modern.
Karena itu, pelemahan rupiah pada tahap awal sebenarnya masih dapat dipahami secara rasional. Penguatan dolar AS akibat kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve AS telah menekan hampir seluruh mata uang emerging markets, termasuk rupiah. Dalam teori interest rate parity dan capital flow dynamics, modal global secara alamiah akan bergerak menuju aset dolar ketika yield Amerika Serikat meningkat. Tetapi krisis mata uang tidak pernah berhenti pada fundamental.
Ekonom pemenang Nobel, Robert Shiller, menjelaskan bahwa pasar keuangan sangat dipengaruhi oleh narrative economics, yaitu bagaimana cerita, persepsi, dan psikologi kolektif membentuk perilaku ekonomi masyarakat.
Pada titik tertentu, pelemahan kurs berubah menjadi persoalan persepsi. Dan persepsi melahirkan ekspektasi. Ekspektasi kemudian mengubah perilaku masyarakat. Inilah fase yang paling berbahaya.
Ketika publik mulai percaya rupiah akan terus melemah, maka perilaku ekonomi berubah : orang mulai menahan dolar, perusahaan memperbesar lindung nilai (hedging), importir mempercepat pembelian valas, investor asing mengurangi eksposur, dan elite ekonomi mulai memindahkan aset ke luar negeri.
Dalam teori self-fulfilling currency crisis yang dikembangkan Maurice Obstfeld, ekspektasi pasar dapat menciptakan krisis yang pada awalnya bahkan belum sepenuhnya terjadi secara fundamental.
Ketika masyarakat percaya mata uang akan jatuh, perilaku kolektif merekalah yang akhirnya benar-benar menjatuhkannya. Sebuah pelajaran penting dari krisis ekonomi 1998, ternyata krisis besar tidak dimulai ketika angka ekonomi memburuk. Krisis dimulai ketika kepercayaan mulai hilang.
Dan yang dikhawatirkan, Indonesia mulai memasuki wilayah psikologis tersebut. Pasar hari ini tidak hanya membaca data ekonomi. Pasar membaca arah kebijakan dan psikologi negara yang bergerak meninggalkan market economy menuju centralized command economy.
Ketika negara meluncurkan program besar seperti MBG, Koperasi Desa Merah Putih, dan Danantara dan tergerusnya kepastian hukum, pasar tidak hanya melihat niat baiknya. Pasar mulai menghitung : berapa implikasi fiskalnya dan risiko usaha, bagaimana tata kelolanya, apa dampaknya terhadap APBN, dan bagaimana pengaruhnya terhadap persepsi sovereign risk Indonesia.
Karena mata uang pada akhirnya bukan hanya soal angka. Mata uang adalah refleksi kepercayaan terhadap masa depan suatu negara.
Ekonom Hyman Minsky sejak lama mengingatkan bahwa stabilitas yang terlalu lama sering menciptakan rasa percaya diri berlebihan, yang kemudian melahirkan risiko sistemik tersembunyi. Pada fase tertentu, sentimen pasar dapat berubah sangat cepat dari optimisme menjadi ketakutan.
Begitu pasar mulai meragukan disiplin fiskal, kepastian hukum dan arah kebijakan, serta kemampuan negara menjaga stabilitas jangka panjang, maka tekanan terhadap rupiah akan mudah berubah menjadi spiral psikologis.
Dan spiral psikologis jauh lebih sulit dihentikan dibanding tekanan fundamental biasa. Bank sentral bisa menaikkan suku bunga. Cadangan devisa bisa dipakai untuk intervensi. Tetapi jika ekspektasi depresiasi sudah tertanam kuat, maka intervensi sering kali hanya memperlambat penurunan, bukan membalikkan arah.
Barry Eichengreen dalam studinya mengenai krisis Asia 1997 menunjukkan bahwa krisis mata uang di negara berkembang sering kali dipercepat oleh hilangnya kredibilitas kebijakan dan kepanikan pasar, bukan semata-mata oleh lemahnya fundamental ekonomi. Karena itu, situasi seperti ini tidak cukup dijawab dengan retorika optimisme.
Yang dibutuhkan adalah policy breakthrough yang nyata dan kredibel yaitu membangun persepsi baru bahwa pemerintah akan melakukan perubahan menuju : efisiensi fiskal, kompetisi usaha yang sehat, kepastian hukum, penguatan produktivitas nasional, reformasi birokrasi dan aparat penegakan hukum, serta arah kebijakan ekonomi yang mampu memulihkan kepercayaan pasar.
Tanpa itu, tekanan terhadap rupiah akan terus menjadi headwinds bagi ekonomi nasional : perlahan menggerus daya beli, investasi, stabilitas usaha, dan akhirnya kepercayaan publik.
Pelajaran terpenting dari krisis tahun 1998 adalah ketika masyarakat mulai percaya mata uangnya akan jatuh, maka perilaku kolektif masyarakat itulah yang akhirnya benar-benar menjatuhkannya. Karena dalam ekonomi modern, persepsi sering kali lebih kuat daripada realitas itu sendiri.
Jakarta, 15 Mei 2026





