Mathias Brahmana (foto : Istimewa)
Oleh : Mathias Brahmana
(Wartawan Senior)
Negeri ini tidak lahir dari meja rapat yang dingin. Tidak lahir dari pidato pejabat yang kenyang. Tidak lahir dari tanda tangan orang-orang yang kelak mengira Indonesia adalah warisan keluarga.
Indonesia berdiri dari darah. Dari tubuh-tubuh muda yang rebah di tanah basah. Dari nama-nama yang hilang tanpa nisan. Dari pejuang yang mati tanpa sempat tahu bahwa kelak negeri ini akan dipakai sebagian orang untuk menjual jabatan, menimbun kuasa, membeli rumah mewah, dan tetap menyebut dirinya nasionalis.
Mereka berkalang tanah demi Indonesia. Mereka menyerahkan nyawa agar kita punya bendera, punya tanah air, punya mata uang, punya harga diri.
Tetapi, lihatlah hari ini. Rupiah dipukul. Dolar merangsek. Dalam catatan JISDOR Bank Indonesia, kurs bergerak dari Rp17.717 pada 22 Mei, menjadi Rp18.039 pada 5 Juni, lalu menyentuh Rp18.171 pada 8 Juni, sebelum hari ini, 9 Juni, sedikit menguat ke Rp18.141 per dolar AS.
Ini bukan sekadar angka. Ini bunyi sirene. Ini tanda bahwa martabat ekonomi bangsa sedang diguncang. Reuters bahkan mencatat rupiah sempat menyentuh rekor lemah Rp18.190 per dolar AS, lalu menguat ke sekitar Rp18.050 setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga secara mendadak ke 5,50 persen.
Artinya, negara sudah menekan rem darurat. Tetapi rem darurat tidak cukup kalau para penumpang kelas satu masih sibuk menyelamatkan koper dolarnya masing-masing.
Maka pertanyaannya sederhana : di mana para nasionalis itu? Di mana pemimpin partai yang saban hari bicara rakyat? Di mana pejabat yang selalu menyebut Pancasila? Di mana pengusaha besar yang kekayaannya tumbuh dari izin negara, buruh Indonesia, tanah Indonesia, dan pasar Indonesia?
Kalau benar cinta negeri ini, jangan hanya berteriak merah putih di panggung. Jangan hanya memasang bendera di dada. Jangan hanya menyanyikan Indonesia Raya sambil menyimpan keyakinan di dalam dolar.
Presiden Memberi Contoh
Nasionalisme bukan di mulut. Nasionalisme adalah ketika rupiah terluka, kita tidak bersembunyi. Maka seruan ini harus berani: Presiden memberi contoh. Wakil Presiden memberi contoh. Mantan presiden dan mantan wakil presiden memberi contoh.
Menteri-menteri memberi contoh. Gubernur, bupati, wali kota memberi contoh. Panglima TNI, KSAD, KSAL, KSAU, Kapolri, pimpinan partai, aparat keuangan, bea cukai, komisaris dan direksi BUMN, DPR RI/DPRD, serta para pengusaha besar memberi contoh.
Jual sebagian dolar. Beli rupiah. Umumkan secara terbuka. Jadikan ini gerakan moral nasional. Bukan paksaan. Bukan sandiwara. Bukan pencitraan sehari. Tetapi pengorbanan yang bisa dilihat rakyat.
Kalau rakyat kecil bisa bertahan saat harga beras naik, kalau buruh bisa tetap bekerja saat ongkos hidup menekan, kalau pedagang kecil bisa terus membuka warung ketika daya beli runtuh, mengapa orang-orang besar negeri ini tidak sanggup melepas sebagian simpanan dolarnya?
Jangan ajari rakyat mencintai Indonesia kalau kekayaanmu sendiri berlindung di balik mata uang asing. Jangan bicara kedaulatan kalau hatimu lebih percaya kepada dolar daripada rupiah.
Hari ini Indonesia tidak sedang ditembak meriam. Tidak sedang didatangi kapal perang. Tetapi sedang diuji oleh mata uang asing, oleh pasar, oleh ketakutan, dan oleh elite yang terlalu nyaman menjadi penonton.
Kita tidak boleh membiarkan rupiah berdiri sendirian. Kibarkan rupiah seperti bendera. Bela rupiah seperti membela tanah air. Jadikan ini perang moral, perang kepercayaan, perang kehormatan.
Sebab bila pejuang dulu rela menyerahkan nyawa, masakan pemimpin hari ini tidak sanggup menyerahkan sebagian dolar? Apakah nyawa pejuang lebih murah dari dolar?
Ayo lawan dolar. Ayo tegakkan rupiah. Ayo buktikan bahwa Indonesia bukan hanya merdeka di lagu kebangsaan, tetapi juga berdaulat di dompet, di pasar, dan di hati bangsanya. Rupiah adalah martabat bangsa, jangan biarkan tidak bermartabat di mata bangsa-bangsa. (Penulis adalah wartawan senior yang kini menjadi pemerhati sosial politik)





