Puteri Komarudin Komisi XI DPR Dukung Kepemimpinan Perempuan di Bank Indonesia

oleh -18 Dilihat

JAKARTA,REPORTER.ID  – Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Komarudin mendukung kepemimpinan perempuan di Bank Indonesia (BI) dalam uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) Calon Gubernur Bank Indonesia dan Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Periode 2026–2031 yang digelar Komisi XI DPR RI Gedun, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026) lalu.

Pasalnya, hadirnya perempuan dalam jajaran pimpinan Bank Indonesia merupakan bukti bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk memimpin lembaga strategis yang berperan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. “Menurut saya, ini bukan sekadar soal representasi perempuan. Tetapi juga menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas untuk memimpin lembaga yang sangat strategis dalam menentukan arah kebijakan moneter dan perekonomian nasional,” ujar Puteri di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Selain menyoroti kepemimpinan di Bank Indonesia, Puteri juga mendorong adanya langkah-langkah inovatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. Ia mengingatkan bahwa meski kondisi rupiah mulai membaik, berbagai risiko eksternal masih perlu diantisipasi.

“Saat ini, Rupiah berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS, dan memang sudah membaik dibandingkan posisi sebelumnya yang sempat melemah lebih dalam. Namun, kita juga melihat bahwa ke depan tantangannya semakin kompleks. Ketidakpastian global masih tinggi, mulai dari arah kebijakan suku bunga global, pergerakan dolar AS, sampai dinamika geopolitik,” urainya

Menanggapi hal tersebut, Calon Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh faktor fundamental jangka panjang maupun sentimen jangka pendek. Karena itu, Bank Indonesia akan terus menjalankan fungsinya menjaga stabilitas nilai tukar melalui kehadiran di pasar.

“Kalau kita bicara Rupiah, itu kan memang sangat dipengaruhi berbagai faktor. Pertama ada faktor yang jangka panjang dan ini lebih fundamental. Lalu, ada faktor yang jangka pendek dan ini lebih sentimen. Padahal, kita sebenarnya bisa lebih rendah dari sekarang. Untuk itu, BI akan terus juga ada di pasar tetap ada karena itu sudah menjadi kewajiban kami menjaga pola aktivitas juga dari Rupiah,” kata Destry.

Sementara itu, Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Aida S. Budiman menegaskan bahwa fokus Bank Indonesia bukan mempertahankan nilai tukar pada level tertentu, melainkan menjaga stabilitas agar pergerakannya tidak berlebihan sehingga memberikan kepastian bagi pelaku pasar.

“Tapi apa yang dijaga oleh Bank Indonesia adalah stabilitasnya. Yang dimaksud dengan stabilitas di sini adalah supaya trend-nya itu tidak over shooting. Apabila pasar trennya terdepresiasi, yang penting jangan terdepresiasi terlalu tinggi sehingga pelaku pasar bisa menggunakan nilai tukar ini sebagai anchor,” ungkapnya.

Puteri menilai tantangan Bank Indonesia ke depan akan semakin kompleks seiring perluasan mandat lembaga tersebut melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memastikan proses transisi kepemimpinan berjalan baik agar penguatan peran Bank Indonesia dapat terlaksana secara optimal.

“Ke depan, sinergi dan kolaborasi juga menjadi kunci. Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendiri. Sehingga, perlu terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar kebijakan yang diambil dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian,” tutup Legislator Fraksi Golongan Karya (Golkar) tersebut.