EMIR MOEIS : PEMIKIRAN BUNG KARNO MASIH RELEVAN DAN PERLU DIBANGKITKAN KEMBALI

oleh -17 Dilihat
oleh

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan politisi senior PDIP Emir Moeis hadiri Kongres X GPM di Amjungan Jaw aTengah TMII, Jakarta Timur, Rabu (28/10).

 

JAKARTA, REPORTER.ID — Ketua Umum DPP Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM), Izedrik Emir Moeis  menekankan pentingnya mengenalkan kembali pemikiran Bung Karno kepada generasi muda melalui pendidikan dan kebudayaan. Pemikiran Bung Karno masih relevan dengan perkembangan zaman sehingga perlu dibangkitkan kembali. Hal itu disampaikannya saat berpidato pada pembukaan Kongres X Gerakan Pemuda Marhaen  (GPM) di Anjungan Jawa Tengah TMII Jakarta, Rabu (28/10).

Kongres X GPM mengambil tema “Marhaenist Future: Dedication of Life, Tetap Setia di Jalan Ideologi”. Adapun peserta Kongres ini adalah pimpinan DPD dan DPC GPM dari sejumlah provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia. Sejumlah tokoh yang hadir dalam Konggres X GPM ini antara lain  Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto,  Direktur Organisasi Kemasyarakatan Kemendagri Wahyu Chandra Kusuma Purwonegoro.

Emir menuturkan, pemikiran Bung Karno perlu dibangkitkan kembali. Generasi muda kita harus digembleng mentalnya supaya tetap bersemangat dan tidak loyo menghadapi tantangan dan dinamika politik yang terus berkembang.

Menurut Emir, pemikiran Sang Proklamator menjadi bagian penting dari program perjuangan GPM mengikis kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, serta eksploitasi terhadap rakyat. Ia menuturkan, literasi marhaenisme penting bagi anak muda Indonesia.

Politisi senior PDIP ini menyadari terbatasnya pemahaman generasi muda terhadap Marhaenisme. Kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah bangsa, termasuk ketika pemikiran Bung Karno dan gerakan yang berlandaskan Marhaenisme mengalami tekanan politik selama puluhan tahun.

Karena itu, GPM memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan kembali Marhaenisme kepada generasi muda dengan bahasa yang mudah dipahami dan dekat dengan persoalan sehari-hari. Emir menekankan, esensi Marhaenisme berkaitan erat dengan perjuangan melawan kemiskinan, ketimpangan, dan eksploitasi terhadap rakyat.

“Kepada anak-anak muda saya tidak mau terlalu detail (mengenai) sosio-nasionalisme, sosio-demokratis, saya cuma bilang Marhaenisme itu satu, dia anti kemiskinan, dia terus berjuang untuk melenyapkan kemiskinan di Indonesia, dan mengikis habis para perusak bangsa,” ujarnya lagi.

Emir menuturkan, pemikirannya tentang Marhaenisme telah dituangkan dalam buku berjudul ‘Marhaenisme: Visi Sosialisme Indonesia’. Ia yakin, melalui pendidikan dan penguatan pemahaman ideologi, bisa menjaga kesinambungan pemikiran Bung Karnoyang relevan bagi generasi penerus.

Selain persoalan ideologi, Emir juga menyoroti situasi global yang penuh ketidakpastian. Mulai dari konflik geopolitik hingga kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS. Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi perekonomian Indonesia dan kehidupan masyarakat, karena semua itu  berujung pada kenaikan harga bahan bakar dan biaya kebutuhan lainnya.

Emir mengingatkan pentingnya generasi muda memahami sejarah perjalanan bangsa, termasuk pengalaman GPM yang pernah mengalami tekanan politik dan dampaknya terhadap para kader. Sejarah tersebut, menurutnya, tidak boleh dilupakan agar generasi memahami tantangan yang pernah dihadapi dalam memperjuangkan ideologi dan cita-cita politik.

Menutup sambutannya, Emir menegaskan komitmen GPM untuk terus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kesetiaan pada Marhaenisme, menurutnya, harus diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat, perjuangan melawan ketidakadilan, dan kontribusi nyata terhadap bangsa.

Konggres X GPM ini dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristianto,  Direktur Organisasi Kemasyarakatan Kemendagri Wahyu Chandra Kusuma Purwonegoro. Adapun GPM berdiri di Yogyakarta pada 31 Mei 1947 dengan berlandaskan pemikiran Marhaenisme Bung Karno. GPM berkomitmen memperjuangkan keadilan sosial, pemberdayaan rakyat, dan cita-cita Indonesia yang berdaulat melalui penguatan kader serta pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Sementara itu Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang hadir mewakili Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menyampaikan salam dan tiga pesan Megawati kepada keluarga besar GPM. “Yang pertama adalah salam hangat buat seluruh keluarga Gerakan Pemuda Marhaenis. Yang kedua, Ibu Mega mengingatkan untuk terus mempelajari pemikiran-pemikiran Bung Karno tentang marhaenisme. Kemudian yang ketiga, pesan bagi kepengurusan yang nanti terbentuk dari hasil kongres ini untuk jangan lupa berziarah ke tempat Bapak Marhaen ,” kata Hasto. (HPS)