Mengungkap Peristiwa di Sekitar Lengsernya Presiden Soeharto

oleh
oleh

Oleh : Muchyar Yara

Hari Kamis Tanggal 21 Mei tahun 1998 (23 tahun yang lalu) merupakan tanggal yang sangat penting di dalam perjalanan kehidupan kenegaraan Indonesia, di mana pada tanggal itu Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun (sejak tahun 1967) menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden ke-2 Republik Indonesia atau lengser keprabon.

Tulisan ini mencoba untuk mengungkapkan beberapa peristiwa yang terjadi di sekitar lengser keprabonnya Presiden Soeharto tersebut di atas. Adapun fakta yang dikemukakan sebagiannya berdasarkan informasi yang secara langsung penulis terima dari pelaku yang terlibat langsung dalam peristiwa yang bersejarah itu  dan sebagian lainnya berdasarkan informasi dari  pihak kedua, yaitu pihak yang mengetahui peristiwa tersebut dari pelaku terkait.

Berdasarkan pengetahuan penulis, peristiwa lengser kaprabonnya Presiden Soeharto didahului oleh beberapa peristiwa atau kejadian yang dilakukan oleh beberapa komponen bangsa. Namun demikian penulis tidak menyimpulkan bahwa beberapa kjejadian tersebut mempunyai keterkaitan atau tidak terkait satu dengan lainnya, karena penulis tidak memiliki data untuk menyimpulkannya.

Adapun beberapa peristiwa yang terjadi di seputar lengser keprabonnya Presiden Soeharto adalah sebagai beriku:

1.      Situasi Politik di Dalam Negeri

Beberapa waktu sebelum peristiwa lengser keprabonnya Pak Harto, sebagaimna diketahui bersama, situasi politik dalam negeri sedang bergolak, sebagai dampak dari krisis moneter (di mana kurs rupiah mencapai lebih dari Rp 15 ribu per dolar AS dan kemudian terjadi eskalasi situasi politik dalam negeri menyusul tewasnya beberapa orang mahasiswa Universitas Trisakti di akhir bulan April atau awal bulan Mei 1998.

Sementara itu Presiden Soeharto sedang berada di Mesir. Di Ibukota Jakarta dan berbagai kota besar lainnya di Tanah Air terjadi gelombang demonstrasi mahasiswa yang semakin meluas dan mulai diikuti juga oleh komponen-komponen masyarakat lainnya.

2.      Pertemuan Panglima ABRI dengan Para Purek III

Di tengah semakin maraknya kegiatan demostrasi para mahasiswa, pada tanggal 9 Mei 1998, Jenderal Wiranto selaku Panglima ABRI pada waktu itu mengundang seluruh Purek (Pembantu Rektor) III bidang kemahasiswaan dari semua perguruan tinggi yang ada di Jakarta untuk mengadakan pertemuan di salah satu gedung di area Kemayoran.

Pertemuan tersebut dibuka oleh Jenderal Wiranto yang secara singkat menjelaskan bahwa maksud beliau mengundang para Purek III adalah untuk mengetahui sekaligus menanyakan, apakah yang dimaksudkan atau diinginkan oleh para mahasiswa dengan reformasi?

Setelah itu satu persatu para Purek III maju ke podium untuk menjelaskan maksud dan keinginan para mahasiswa dengan reformas. Tetapi semua penjelasan bersifat mengambang dan tidak to the point.

Baru pada giliran ketujuh berbicara Purek II dari Universitas Nasional, yang saat itu dijabat oleh Saudara Umar Said, yang kebetulan penulis kenal karena sempat bersama-sama ditahan di Kampus Kuning. Pada waktu itu Saudara Umar Said menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Mahasiswa UNAS. Saudara Umar Said langsung mengatakan sebagi berikut. “Untuk menjawab pertanyaan Jenderal Wiranto, maka bersama ini saya sampaikan bahwa yang diinginkan oleh para mahasiswa dengan reformasi adalah turunnya Presiden Soeharto!’’

Setelah mendengar pernyataan Saudara Umar Said di atas, maka para Purek II yang sebelumnya sudah berbicara berebut ingin mendapat kesempatan berbicara lagi, di mana kemudian mereka satu persatu membenarkan pernyataan Saudara Umar Said.

Setelah semuanya berbicara, akhirnya Jenderal Wiranto naik ke podium untuk menutup dan sekaligus memberikan closing statement, di mana beliau mengatakan sebagai berikut : “Kalau itu yang dikehendaki oleh para mahasiswa (turunnya Presiden Soeharto, red), maka berikan kami (ABRI-red.) waktu 2 minggu (14 hari) untuk menyelesaikannya secara baik.’’

Tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto lengser keprabon, yang artinya 13 hari setelah Jenderal Wiranto bertemu dengan para Purek III se Jakarta (lebih cepat 1 hari dari 14 hari yang dijanjikan).

Apakah pertemuan Panglima ABRI dengan para Purek III di atas yang menjadi sebab lengsernya Presiden Soeharto? Penulis tidak menyimpulkan demikian, silahkan pembaca yang menafsirkan sendiri. Karena di samping peristiwa itu masih ada beberapa kejadian lainnya yang berkaitan dengan lengser keprabonnya Presiden Soeharto.

3.      Rapat Para Menteri Bidang EKUIN

Pada hari Rabu tanggal 20 Mei 1998, diadakan rapat atau pertemuan di Kantor Menko EKUIN yang pada saat itu dijabat oleh Prof. Dr. Ir. Ginandjar Kartasasmita.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh 14 orang Menteri bidang EKUIN. Ada 2 orang menteri yang tidak hadir, yaitu Menteri Agraria/Kepala BPN dan Menteri Perdagangan yang saat itu sedang berada di Jepang untuk berobat. Pada waktu itu sudah tersebar bahwa Presiden Soeharto berniat untuk membentuk Kabinet Reformasi.

Setelah membuka pertemuan, Menko Ekuin mengatakan sebagai berikut atau kurang-lebih begini. “Sehubungan dengan maksud Presiden untuk membentuk Kabinet Reformasi, maka saya pribadi berpendapat, pembentukan Kabinet Baru tersebut tetap tidak akan mampu mengatasi krisis yang sedang berlangsung kini. Karena, masalahnya justru terletak pada krisis kepercayaan terhadap Presiden sendiri. Oleh karenanya, saya pribadi berpendapat untuk tidak bersedia duduk di dalam Kabinet Reformasi termaksud, apabila diminta oleh Presiden. Namun, jika saya menolak setelah diminta oleh Presiden,  kurang elok, maka saya bermaksud (sebelum diminta) untuk menulis surat kepada Presiden guna memberitahukan ketidaksediaan saya untuk duduk dalam Kabinet Reformasi termaksud. Dan saya mengundang Saudara menteri hari ini untuk menyampaikan maksud saya di atas, serta mungkin ada di antara para menteri yang sependapat dengan saya dan juga tidak bersedia untuk duduk di Kabinet Reformasi itu. Maka mungkin ada baiknya jika kita secara bersama-sama menuliskan surat kepada Presiden. Untuk itu saya  tunda pertemuan ini agar Saudara-saudara memikirkan dan mempertimbangkan pandangan saya termaksud.”

Singkatnya,  seluruh menteri yang hadir (14 orang) sepakat untuk secara bersama-sama menandatangani surat kepada Presiden Soeharto tentang ketidaksediaan untuk duduk di dalam Kabinet Reformasi apabila diminta atau ditunjuk oleh Pak Harto. Surat termadsud segera dikirimkan ke Cendana (kediaman Pak Harto) dan menurut informasi, pada sekitar pukul 17.00 WIB, surat tersebut sudah diterima dan dibaca oleh Pak harto.

Perlu kiranya dijelaskan di sini bahwa surat yang dikirimkan oleh ke-14 menteri bidang Ekuin bukan surat pengunduran diri dari jabatan menteri yang sedang mereka jabat saat itu, melainkan ketidaksediaan untuk duduk di dalam Kabinet Reformasi yang akan dibentuk oleh Presiden Soeharto.

4.      Pertemuan di Patra Jasa (Kediaman Pak Habibie)

Setelah membaca surat dari ke-14 menteri tersebut, Presiden memerintahkan ajudannya untuk meminta Pak Habibie (Wapres saat itu) untuk datang ke Cenddana pukul 18.00 WIB.

Pertemuan antara Pak Harto dan Pak Habibie di Cendana tidak berlangsung lama. Sekitar pukul 19.00 WIB, Pak Habibie sudah kembali ke rumah kediamanannya di Kawasan Patra Jasa. Di dalam perjalanan pulang, Pak Habibie memerintahkan ajudannya untuk mengundang ke-14 Menteri Ekuin yang menulis surat ke Pak Harto untuk berkumpul di rumah beliau malam itu juga. (masih hari Rabu tanggal 20 Mei 1998, red).

Pada sekitar pukul 20.30 WIB, ke-14 menteri telah hadir di kediamanan Pak Habibie di kawasan Patra Jasa, Kuningan, Jakarta. Pertemuan langsung dibuka dan Pak Habibie menyampaikan isi pembicaran dalam pertemuan beliau dengan Pak Harto di Cendana pada  Rabu (20/5/1998, red) pukul 18.00 tadi, sebagai berikut.

“Bahwa pada hari Kamis tanggal 21 Mei 1998, Pak Harto akan mengumumkan susunan Kabinet Reformasi. Lalu pada hari Jumat tanggal 22 Mei 1998, Pak Harto akan melantik Kabinet Reformasi dan pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 1998, Pak Harto akan mengundurkan diri sebagai Presiden, Silahkan Pak Habibie melanjutkan.”

Mendengar penjelasan Pak Habibie tersebut, ke-14 Menteri tetap pada pendapat mereka untuk tidak bersedia duduk di dalam Kabinet Reformsi, jika kabinet itu dilantik oleh Presiden Soeharto. Mereka hanya bersedia duduk jika Kabinet Reformasi dilantik oleh Pak Habibie sebagai Presiden . Untuk itu, ke-14 menteri meminta kepada Pak Habibie menyampaikan hal ini kepada Pak Harto melalui Bapak Saadilah Mursid yang saat itu menjabat Sekretaris Kabinet (Seskab). Kemudian sekitar  pukul 21.30 IB, Pak Habibie masuk ke dalam untuk menelpon Saadilah Mursid. Namun tidak lama kemudian Pak Habibie sudah ke luar kembali dan menyampaikan hasil pembicaraannya dengan Saadilah Mursid yang isinya sebagai berikut. “Saudara-saudara, saya tadi sudah bicara dengan Saudara Saadilah Mursid, tetapi sebelum saya sampaikan saudara-saudara, langsung dipotong oleh Saadilah Mursid, yang mengatakan, menurut Pak Harto semuanya terserah Pak Habibie, karena besok Pak Harto akan lengser keprabon.”

Mendengar penjelasan Pak Habibie, para menteri yang hadir bernafas lega, meskipun di dalam hati ada keheranan, atas terjadinya perubahan sikap Pak Harto. Di mana pada pukul 18.00 WIB, kepada Pak Habibie, beliau mengatakan akan mundur pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 1998, tetapi kini (3 jam kemudian) memutuskan akan mundur besok, hari Kamis tanggal 21 Mei 1998.

Sampai sekarang perubahan sikap Pak Harto di atas masih misteri bagi penulis, meskipun ada informasi yang penulis terima (tapi tidak bisa dikonfirmasikan) bahwa setelah Pak Habibie meninggalkan Cendana, masuk Jenderal Wiranto menghadap Presiden Soeharto, tetapi isi pembicaraan antara keduanya tidak penulis ketahui.

Selain kejadian-kejadian yang diuraikan di atas , sebenrnya masih ada lagi beberapa kejadian atau kegiatan lainny. Namun menurut penulis kurang signifikan terhadap peristiwa lengser keprabonnya Presiden Soeharto.

Akhirnya penulis mohon maaf jika dalam penulisan di atas terdapat kekeliruan detail soal tempat dan waktu, mengingat peristiwa yang bersangkutan telah cukup lama terjadinya, sehingga ada beberapa catatan penulis yang tercecer. (Muchyar Yara, mantan Wakil Sekjen DPP Partai Golkar)

Tentang Penulis: hps

Gambar Gravatar
Wartawan senior tinggal di Jakarta. hps@reporter.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *