Kemenhub Segera Bangun 5 Koridor BTS Teman Bus Di Kota Bandung

  • Bagikan

JAKARTA,REPORTER.ID – Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan menggelar Webinar “Pengembangan Angkutan Massal Berbasis Jalan di Kawasan Perkotaan dengan Skema Buy The Service Bandung Raya”. Kegiatan yang digelar secara daring ini sekaligus menginformasikan akan hadirnya layanan Buy The Service (BTS) Teman Bus di kawasan Bandung Raya pada akhir tahun 2021.

Layanan BTS di Kota Bandung akan hadir dalam 5 koridor yaitu:
Koridor 1: Leuwipanjang- Soreang (Gading Tutuka)
Koridor 2: Alun-alun Kota Bandung – Stasiun Cimahi- Kota Baru Parahyangan (Padalarang)
Koridor 3: Baleendah-BEC
Koridor 4: Leuwipanjang-Dago
Koridor 5: Jatinangor-Dipatiukur

“Tahun ini akan ada beberapa koridor yang difungsikan pada 2021 akhir kemudian akan lanjut di 2022. Kecenderungan masyarakat kita saat ini untuk menggunakan mobil sangat besar. Tetapi banyak masyarakat tidak menyadari bahwa dampaknya negatif untuk polusi udara. Saat ini kita lihat di kota Bandung terutama akhir pekan, karena masyarakat Bandung semakin merasa sulitnya berlalu lintas dalam kegiatan sehari-hari karena macet. Kami berharap ke depannya tiap Pemerintah daerah ada kemandirian dan keinginan untuk membangun transportasi massal,” demikian disampaikan Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi dalam webinar, pada Selasa (30/11/2021).

Koridor 2 dan 3 BTS Teman Bus di Bandung yang keseluruhannya sudah dilelang, hadir dengan bus yang 100% ramah bagi pengguna kursi roda. Sementara koridor 1, 4, dan 5 yang menjadi potensi penambahan koridor BTS di Bandung tersedia sebanyak 59 unit bus dengan jenis bus besar high deck.

Dirjen Budi menyampaikan bahwa pihaknya berharap Gubernur maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat dapat memiliki satu kebijakan untuk mendorong penggunaan angkutan massal hingga berikutnya penggunaan angkutan pribadi dapat mulai dibatasi.

Kalau tidak dapat dibatasi soal kepemilikan (kendaraan pribadi), minimal pembatasan ruas jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan pribadi misalnya ganjil genap atau dengan pembatasan jam. Saat ini BTS Teman Bus masih belum berbayar, kemudian kami mengutamakan aspek keamanan, nyaman, dan ada kepastian karena kami akan mempertahankan headway kendaraan selama 10 menit. “Karena itu kami memohon kepada Bapak Gubernur Jawa Barat, Walikota, maupun Bupati terutama mengenai penerimaan masyarakat, edukasi, dan mengkampanyekan penggunaan transportasi BTS ini,” tambah Dirjen Budi.

Selama periode Juli-Agustus 2021 secara nasional terdapat 23.000-30.000 penumpang harian Teman Bus. Dengan kehadiran aplikasi Teman Bus, maka masyarakat dapat memperoleh info seputar lokasi bus.

Dalam webinar ini, pakar transportasi dan akademisi, Okto Manullang menyebutkan bahwa dalam pengembangan angkutan umum massal dari segi teknis bukanlah pekerjaan sulit. “Tapi ketika kita ingin layanan transportasi publik itu memiliki keberlanjutan dan mandiri inilah hal yang lebih sulit. Suatu saat layanan BTS ini harus dikenakan tarif sehingga harus ada persiapan dari pemerintah provinsi,” tambah Okto.

Okto berharap layanan transportasi publik seperti BTS ini memiliki keberlanjutan dan harus ada inovasi, sehingga pendapatannya tidak hanya dari tiket saja. “Kita harapkan nanti segala sesuatunya terintegrasi mulai dari jadwal, jaringan trayek, sampai integrasi tarif seperti Jakarta dengan JakLingko nya,” jelas Okto.

Dikatakan, dengan adanya aplikasi Teman Bus yang dapat diakses secara real time ikut mendorong generasi millenial untuk menggunakan angkutan umum. Okto juga menganjurkan agar pemerintah tetap mengoptimalisasi angkutan umum yang eksisting.

Lebih lanjut Dirjen Budi mengatakan bahwa Pemerintah harus mampu mendorong masyarakat Bandung Raya dalam menggunakan transportasi public. “Kita harus mengkampanyekan pada masyarakat bahwa angkutan umum yang kita siapkan dapat menyelesaikan problem kemacetan, biaya ekonomi terhadap transportasi, maupun mencegah adanya perubahan iklim. Kami juga akan memikirkan terkait angkutan kota yang akan menjadi feeder terhadap BTS ini, karena angkutan massal seperti BTS ini diharapkan dapat menjadi tulang punggung angkutan umum di Bandung,” kata Dirjen Budi.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, A. Koswara menyampaikan, “Jumlah kendaraan umum di Bandung Raya masih di bawah angka 15% dan masih didominasi oleh angkutan pribadi. Diperkirakan populasi Bandung Metropolitan akan tumbuh mencapai 12 juta penduduk pada tahun 2030. Konsep kami dalam mengembangkan angkutan massal didasari Urban Mobility Plan (UMP) yaitu mewujudkan sistem transportasi ramah lingkungan di area metropolitan cekungan Bandung yang difokuskan kepada transportasi publik yang terintegrasi, efektif, efisien, dan terjangkau,”ujarnya.

Dalam Urban Mobility Plan ini telah direncanakan ada 12 koridor BRT di Metropolitan Bandung Raya dengan 27 unit stasiun di sepanjang jalur BRT. Diproyeksikan pada tahun 2025 akan mencapai 120.000 penumpang/hari. Hal inilah yang terus diselaraskan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Pusat. Ke depannya diharapkan akan semakin banyak masyarakat khususnya di Bandung yang beralih dari penggunaan kendaraan pribadi menjadi pengguna angkutan umum.

Turut hadir sebagai pembicara dalam webinar ini yaitu Kasie Angkutan Massal Direktorat Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Hadi S.P. yang menyampaikan materi seputar “Program Buy The Service Membangun Kawasan Perkotaan Bandung”.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *