RESEP INDONESIA MAJU : MEMUTUS FEODALISME, KEBOHONGAN, DAN MEDIOKRITAS

oleh
oleh

Prof. Dr. Amir Santoso (net)

 

Oleh : Prof. Dr. Amir Santoso

 

Hampir delapan dekade merdeka, Indonesia kaya sumber daya, demografi, dan posisi strategis. Namun kegagalan menjadi negara maju bukan soal takdir atau kekurangan potensi, melainkan persoalan manusia dan sistem: cara berpikir, cara memimpin, dan cara mengelola kekuasaan.

Penyakit utamanya adalah feodalisme yang bertahan dalam wajah modern. Kebenaran ditentukan oleh jabatan, bukan oleh akal dan data. Kritik dianggap ancaman, bukan koreksi. Di birokrasi, politik, kampus, hingga penegakan hukum, kepatuhan sering lebih dihargai daripada integritas. Akibatnya, inovasi mati dan mediokritas dipelihara. Negara maju justru lahir dari budaya egaliter dan meritokratis.

Masalah lain adalah pendidikan yang gagal membentuk nalar dan karakter. Sistem pendidikan lebih sibuk mencetak gelar daripada manusia berpikir kritis. Lulusan pandai menghafal, tetapi rapuh secara etika dan logika. Inilah lahan subur hoaks, populisme, dan kultus individu. Tanpa revolusi pendidikan berbasis kejujuran, rasionalitas, dan kerja keras, Indonesia akan terus tertinggal.

Kemiskinan juga tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi struktural dan mental. Ketika mobilitas sosial buntu, pragmatisme politik dan toleransi terhadap ketidakadilan menjadi pilihan bertahan hidup. Negara modern tidak cukup memberi bantuan; ia wajib membuka jalan naik kelas melalui pendidikan bermutu, pekerjaan bermartabat, dan ekonomi berkeadilan.

Semua itu diperparah oleh krisis kepemimpinan. Politik direduksi menjadi transaksi jangka pendek. Narasi mengalahkan substansi, citra menggantikan dampak. Ditambah korupsi dan budaya bohong yang dinormalisasi, kepercayaan publik runtuh—dan tanpa kepercayaan, negara maju mustahil terwujud.

Resepnya sulit, tetapi jelas: memutus feodalisme, menegakkan meritokrasi, merevolusi pendidikan, membangun ekonomi berkeadilan, melahirkan pemimpin visioner, dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Di atas semuanya, negara harus kembali menghormati kebenaran, ilmu, dan akal sehat.

Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang langka adalah keberanian kolektif untuk berubah—jujur pada kelemahan sendiri, memutus kebiasaan rusak, dan menuntut lebih dari para pemimpin serta dari diri kita sendiri. Indonesia maju bukan hadiah sejarah, melainkan hasil perjuangan melawan feodalisme, kebodohan, korupsi, dan kebohongan. Perjuangan itu harus dimulai sekarang.

(Penulis adalah Gurubesar Ilmu Politik FISIP UI (Pensiun), mantan Rektor Universitas Jayabaya Jakarta, mantan Anggota DPR/MPR RI)

Jakarta, 22 Januari 2026