TANTANGAN NU MEMASUKI ABAD KE-2

oleh
oleh

Dr. Ahmad Effendy Choirie (Ist)

 

Oleh: Dr. Ahmad Effendy Choirie

 

Pendahuluan

Nahdlatul Ulama (NU) telah genap berusia satu abad. Seratus tahun bukan sekadar angka historis, melainkan bukti ketangguhan sebuah organisasi keagamaan-sosial dalam mengarungi kolonialisme, revolusi kemerdekaan, otoritarianisme, hingga era demokrasi yang penuh turbulensi. NU tidak hanya bertahan, tetapi ikut membentuk watak keislaman, kebangsaan, dan kebudayaan Indonesia.

Memasuki abad kedua, NU tidak lagi cukup hanya dibanggakan karena jasa masa lalu. Tantangan ke depan jauh lebih kompleks, sistemik, dan lintas sektor. Abad kedua menuntut NU untuk bertransformasi tanpa kehilangan jati diri.

1. Tantangan Ideologis: Menjaga Islam Wasathiyah di Tengah Ekstremisme dan Liberalisme

NU dikenal sebagai penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah yang moderat, toleran, dan berakar pada tradisi. Namun, abad kedua ditandai oleh dua arus ekstrem yang sama-sama berbahaya, pertama, radikalisme dan puritanisme agama yang menolak tradisi, mengkafirkan, dan anti-negara.

Kedua, liberalisme ekstrem yang mengosongkan agama dari nilai moral dan tanggung jawab sosial. Tantangan NU adalah mempertahankan jalan tengah (wasathiyah) bukan sekadar sebagai jargon, tetapi sebagai praktik sosial, kebijakan organisasi, dan narasi publik yang kuat—terutama di ruang digital yang kini menjadi medan dakwah utama.

2. Tantangan Sosial: Kemiskinan, Ketimpangan, dan Keadilan Sosial

Mayoritas warga NU hidup di lapisan bawah dan menengah masyarakat: petani, buruh, nelayan, pedagang kecil, dan masyarakat desa. Ironisnya, di tengah pertumbuhan ekonomi nasional, kemiskinan struktural dan ketimpangan sosial masih membelit basis sosial NU.

Abad kedua menuntut NU untuk tidak hanya berdakwah secara normatif, tetapi memimpin gerakan kesejahteraan sosial secara sistematis. NU harus lebih progresif dalam isu pengentasan kemiskinan berbasis keluarga, kemandirian ekonomi umat, akses pendidikan dan kesehatan, serta perlindungan kelompok rentan: difabel, lansia, perempuan, dan anak. Di titik inilah sinergi NU dengan gerakan kesejahteraan sosial nasional menjadi keniscayaan.

3. Tantangan Kelembagaan: Profesionalisme dan Tata Kelola

Sebagai organisasi besar dengan jutaan jamaah, NU menghadapi tantangan klasik : tumpang tindih struktur, lemahnya database warga, dan minimnya tata kelola modern yang akuntabel. Abad kedua menuntut NU untuk melakukan reformasi kelembagaan tanpa merusak khittah. Profesionalisme, transparansi, dan pemanfaatan teknologi digital harus menjadi bagian dari budaya organisasi—bukan dianggap ancaman terhadap tradisi. Tradisi dan modernitas bukan musuh, justru harus saling menguatkan.

4. Tantangan Politik: Menjaga Jarak Kritis dengan Kekuasaan

NU selalu berada di simpul strategis antara agama dan negara. Namun, tantangan abad kedua adalah bagaimana NU tetap berperan dalam kehidupan kebangsaan serta tanpa terjebak dalam pragmatisme politik jangka pendek.

NU harus kembali menegaskan posisinya sebagai kekuatan moral (moral force), bukan sekadar kekuatan elektoral. Kedekatan dengan kekuasaan harus diimbangi dengan keberanian mengkritik kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat. Jika NU terlalu larut dalam politik praktis, maka yang dirugikan bukan hanya NU, tetapi umat dan bangsa.

5. Tantangan Generasi: Regenerasi dan Anak Muda NU

Abad kedua adalah abad generasi muda. Jika NU gagal berbicara dengan bahasa anak muda—digital, kreatif, dan kritis—maka NU berisiko ditinggalkan oleh generasinya sendiri. Tantangan NU adalah memberi ruang kepemimpinan nyata bagi kader muda, mengintegrasikan tradisi pesantren dengan inovasi, menjadikan NU relevan di mata generasi Z tanpa kehilangan nilai. Anak muda NU bukan objek, tetapi subjek perubahan.

Penutup: NU Abad Kedua, Antara Harapan dan Tanggung Jawab Sejarah

Memasuki abad kedua, NU memikul tanggung jawab sejarah yang jauh lebih berat. NU tidak hanya dituntut menjadi benteng akidah, tetapi juga motor keadilan sosial, perekat kebangsaan, dan pelopor peradaban Islam Indonesia.

Jika NU mampu menjawab tantangan ideologis, sosial, kelembagaan, politik, dan generasi secara bersamaan, maka NU tidak hanya akan bertahan di abad kedua—tetapi memimpin zaman. NU besar bukan karena jumlahnya, tetapi karena keberpihakannya pada kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. (Penulis adalah Ketua Umum DNIKS, mantan wartawan dan mantan anggota DPR/MPR)