Indonesia di Persimpangan Pertumbuhan 5,61% dan Rupiah 17.600 per USD
Oleh: Hakam Naja
Pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal I 2026 sebesar 5,61% memunculkan ragam pendapat baik pro dan kontra. Data BPS tersebut menunjukkan ekonomi nasional yang bergerak melampaui estimasi sebagian lembaga dan analis ekonomi. Ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah serta investasi pertumbuhan berada dalam bayang-bayang keberlanjutannya di kuartal berikutnya dan melemahnya rupiah yang mencapai Rp17.600 per USD paling rendah sepanjang sejarah.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah keraguan sebagian pihak termasuk investor asing yang menarik dananya dari obligasi pemerintah RI dan bursa saham . Pemerintah perlu melakukan serangkaian langkah.
Efisiens program yang menelan anggaran besar agar lebih tepat sasaran dan efektif. Program MBG yang mendapatkan alokasi Rp335 triliun dari APBN 2026 lebih difokuskan lagi kepada kelompok masyarakat yang benar-benar memiliki kerentanan gizi, berpenghasilan rentan dan daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Juga perlu dibatalkan anggaran tidak penting dan tidak langsung terkait dengan pemenuhan gizi masyarakat seperti pengadaan sepeda motor, laptop dan event organizer MBG. Efisiensi dan refocusing anggaran MBG bisa menghemat paling tidak 30% dari total anggaran MBG, sehingga bisa dipergunakan untuk program pembangunan lain yang lebih produktif.
Pemerintah perlu memprioritaskan program yang mampu menyerap tenaga kerja secara masif dalam skala luas. Pengembangan industri manufaktur yang terus menurun kontribusnya terhadap PDB perlu digerakkan di seluruh penjuru tanah air khususnya industri kecil dan menengah (IKM). Data BPS menunjukkan penduduk bekerja didominasi oleh pekerja sektor informal sebesar 59,42% (87,74 juta orang, Februari 2026). Artinya mayoritas pekerja di RI diserap oleh sektor informal. Hal ini akan rentan terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional yang mengandalkan konsumsi rumah tangga. Sementara mayoritas pekerja sektor informal tidak ditopang oleh kepastian penghasilan tetap dan jaminan sosial tenaga kerja.
Pertumbuhan ekonomi Q1-2026: 5,61% disebabkan oleh peningkatan belanja masyarakat pada bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri. Konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 54,36% dg pertumbuhan 5,52% terhadap PDB. Juga belanja pemerintah naik 21,81% dengan kontribusi 6,72%. Investasi/PMTB tumbuh 5,96% dengan kontribusi thd PDB sebesar 28,92%. Pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2026 bisa terancam tidak meningkat ketika tidak ada lagi momentum seperti hari raya dan masyarakat tidak memiliki daya beli yang berkelanjutan karena mayoritas pekerja berada di sektor informal.
Kekuatan ekonomi nasional yang tersebar luas dan berbasis kuat di masyarakat khususnya pada UMKM serta tata kelola pemerintahan yang profesional dan bersih akan mampu menahan goncangan dari faktor eksternal. Perang dagang, invasi Israel-AS ke Iran yang eskalasinya masih terus berlangsung, harga minyak dan gas yang melambung, pelemahan sebagian kekuatan ekonomi besar seperti China dan utang global di banyak negara yang terus menggelembung akan menjadi ancaman yang selalu mengintai sepanjang waktu. Masyarakat yang mempunyai daya beli dan pemerintah yang kredibel akan memunculkan optimisme karena ekonomi tumbuh secara berkelanjutan dan merata akan menjadi benteng pertahanan terhadap segala guncangan.
A. Hakam Naja, adalah
Ekonom INDEF (Center for Sharia Economic Development).





