Inflasi Maret 2026 Tembus 3,48%, Sinyal Konsumsi Melemah dan Masyarakat Mulai “Makan Tabungan”

oleh
oleh
Badan Pusat Statistik. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REPORTER.ID — Tekanan harga yang meningkat di tengah melemahnya daya beli masyarakat menjadi sinyal baru perlambatan ekonomi domestik. Data terbaru menunjukkan inflasi tetap terkendali, namun tidak didorong oleh lonjakan konsumsi—melainkan oleh kenaikan biaya hidup, terutama energi dan kebutuhan pokok.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia pada Maret 2026 mencapai 3,48% (year-on-year), masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) dan pemerintah sebesar 1,5%–3,5%. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,41% (month-to-month), melambat dibandingkan Februari yang mencapai 0,68%.

Narasi ini memperkuat indikasi bahwa kenaikan harga bukan berasal dari meningkatnya permintaan masyarakat. Sebaliknya, tekanan inflasi lebih didorong oleh faktor biaya, khususnya pada sektor energi dan komoditas yang diatur pemerintah.

BPS mencatat inflasi energi mencapai 9,08% secara tahunan dengan kontribusi sebesar 0,94% terhadap inflasi keseluruhan. Sementara itu, kelompok barang yang harganya diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 6,08%.

Kenaikan harga paling terasa pada kebutuhan esensial. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 3,34%, sementara bahan makanan mencatat inflasi tahunan 3,78%. Komoditas seperti beras, daging ayam, ikan segar, dan minyak goreng menjadi pendorong utama.

Di sisi lain, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga melonjak hingga 7,24%, menambah tekanan langsung pada biaya hidup masyarakat sehari-hari.

Namun, inflasi inti—yang mencerminkan kekuatan permintaan domestik—tetap relatif rendah di level 2,52%. Ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat belum pulih sepenuhnya. Bahkan, kelompok non-esensial seperti informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi tipis sebesar 0,03%.

Deflasi ini menjadi indikasi bahwa rumah tangga mulai menahan pengeluaran yang tidak mendesak. Pola konsumsi bergeser ke kebutuhan dasar, sementara belanja sekunder dan tersier ditekan.

Tren ini konsisten dengan pola inflasi Februari, di mana kenaikan harga lebih didorong oleh peningkatan biaya produksi daripada lonjakan permintaan. Jika berlanjut dalam jangka menengah, kondisi ini berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi, mengingat konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama produk domestik bruto (PDB).

Fenomena “Makan Tabungan”

Sinyal pelemahan daya beli juga tercermin dari data perbankan. Bank Indonesia mencatat dana pihak ketiga (DPK) per Februari 2026 turun menjadi Rp8.082 triliun, dari Rp8.112 triliun pada Januari.

Penurunan ini dipicu oleh menyusutnya giro dari Rp2.345 triliun menjadi Rp2.302 triliun, serta penurunan tabungan dari Rp2.862 triliun menjadi Rp2.859 triliun. Pertumbuhan simpanan berjangka juga melambat menjadi 3,7%, dari sebelumnya 5,9%.

Perlambatan ini mengindikasikan meningkatnya fenomena “mantab” atau makan tabungan, di mana masyarakat mulai mencairkan simpanan untuk menopang kebutuhan sehari-hari.

Meski demikian, konsumsi belum menunjukkan lonjakan signifikan. Inflasi bulanan yang hanya 0,41% terjadi di tengah momentum Ramadan dan Idul Fitri—periode yang biasanya mendorong belanja masyarakat.

Kondisi ini menandakan adanya perubahan perilaku konsumsi. Masyarakat cenderung lebih berhati-hati, mengurangi belanja non-prioritas, serta beradaptasi dengan menekan pengeluaran, termasuk mengurangi aktivitas konsumsi di luar rumah.

Perspektif Dahlan Consultant: Fase “Silent Pressure”

Konsultan keuangan sekaligus pendiri Dahlan Consultant, Asep Dahlan—yang akrab disapa Kang Dahlan—menilai kondisi ini sebagai fase “silent pressure” dalam ekonomi domestik.

Menurutnya, inflasi yang masih berada dalam target justru menyembunyikan persoalan yang lebih dalam, yakni melemahnya daya beli masyarakat. “Ini bukan inflasi karena ekonomi tumbuh, tapi inflasi karena biaya hidup naik. Itu jauh lebih berbahaya,” ujar Kang Dahlan.

Ia menjelaskan, kombinasi inflasi energi yang tinggi dan inflasi inti yang rendah menunjukkan masyarakat tidak memiliki ruang untuk meningkatkan konsumsi. “Ketika inflasi inti rendah, itu artinya demand lemah. Sementara biaya hidup naik, masyarakat terpaksa bertahan dengan menggerus tabungan,” katanya.

Kang Dahlan juga menyoroti fenomena penurunan dana pihak ketiga di perbankan sebagai indikator awal tekanan likuiditas rumah tangga. “Kalau tren ‘makan tabungan’ ini berlanjut, maka dalam beberapa bulan ke depan kita bisa melihat penurunan konsumsi yang lebih tajam,” ujarnya.

Ia memperingatkan bahwa kondisi ini dapat berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi nasional, mengingat lebih dari separuh PDB Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga.

Sebagai langkah mitigasi, Kang Dahlan mendorong pemerintah untuk menjaga stabilitas harga energi dan memperkuat daya beli masyarakat melalui stimulus yang tepat sasaran. “Kuncinya sekarang bukan hanya menjaga inflasi tetap rendah, tapi memastikan masyarakat punya daya beli yang cukup untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar,” katanya. ***