Mathias Brahmana (foto : Istimewa)
Oleh : Mathias Brahmana
(Wartawan Senior)
Sebuah narasi yang kami kutip dan adaptasi dari TikTok @mindgifted menceritakan tentang seorang petani melemparkan seekor babi hutan ke dalam sebuah sumur kering. Bau bangkai segera mengundang puluhan tikus.
Mereka melompat masuk tanpa berpikir panjang. Di hadapan mereka tersedia daging berlimpah. Mereka makan bersama, berdesakan, saling sikut, tetapi belum saling menyerang. Selama makanan masih tersedia, semuanya tampak seperti pesta.
Namun pesta tidak berlangsung lama. Setelah bangkai itu habis, barulah tikus-tikus tersebut menyadari bahwa sumur itu terlalu dalam untuk dipanjat. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada lagi makanan. Rasa lapar perlahan mengubah kawan menjadi lawan. Mereka mulai saling mencakar, menggigit, lalu memangsa sesamanya.
Dua minggu kemudian, hanya tersisa seekor tikus. Petani itu lalu menurunkan tali dan mengeluarkannya dari sumur. Tetapi tikus tersebut tidak lagi sama. Ia telah terbiasa memakan sesamanya. Ketika kembali ke ladang, ia tidak lagi mencari biji-bijian. Ia justru memburu tikus-tikus lain.
Begitulah politik bekerja ketika rakyat tidak berhati-hati. Orang-orang yang berada di puncak kekuasaan menciptakan sebuah “sumur”. Ruang sempit yang dipenuhi kebencian, ketakutan, fanatisme dan perebutan pengaruh. Kemudian masyarakat bawah dilemparkan ke dalamnya melalui pidato yang membakar emosi, potongan video, slogan, isu agama, suku, daerah dan identitas.
Pada awalnya rakyat merasa sedang menikmati pesta demokrasi. Mereka mendapat kaus, makanan, uang transportasi, panggung hiburan dan janji-janji manis. Tetapi setelah pesta selesai, yang tertinggal justru pertengkaran.
Tetangga tidak lagi saling menyapa. Saudara saling memblokir nomor telepon. Persahabatan puluhan tahun pecah karena berbeda pilihan. Di warung kopi orang berdebat sampai urat leher menegang. Di media sosial, orang saling menghina, memaki dan menuduh sebagai pengkhianat. Bahkan di beberapa tempat, persaingan politik dapat berubah menjadi bentrokan nyata.
Ironisnya, ketika masyarakat bawah masih sibuk bertengkar, para politikus yang mereka bela mati-matian justru duduk bersama. Mereka makan di meja yang sama, tertawa dalam satu ruangan, bersalaman di hadapan kamera, lalu membentuk koalisi baru.
Kemarin saling menyerang, hari ini saling memuji. Kemarin disebut perusak bangsa, hari ini diangkat menjadi mitra perjuangan. Kemarin dikatakan tidak bermoral, hari ini diberi jabatan. Bagi politikus, tidak ada permusuhan yang abadi. Yang abadi hanyalah kepentingan. Tetapi bagi masyarakat bawah, luka yang ditinggalkan sering kali benar-benar nyata.
Ucapan Politikus Muatan Ganda
Di sinilah rakyat harus memahami bahwa ucapan politikus hampir selalu memiliki muatan ganda. Ketika mereka berkata, “Demi rakyat,” kita harus bertanya: rakyat yang mana? Ketika mereka berseru, “Kita harus melawan,” kita perlu bertanya: siapa yang akan maju bertarung dan siapa yang tetap duduk aman di belakang?
Ketika mereka berkata, “Ini demi harga diri kelompok kita,” kita harus memeriksa: harga diri siapa yang sedang diperjuangkan dan kekuasaan siapa yang sedang dibangun? Bahasa politik tidak boleh ditelan bulat-bulat. Ia harus dikunyah perlahan, diperiksa isinya dan dipikirkan akibatnya. Sebab sebuah kalimat yang diucapkan dari panggung dapat berubah menjadi jerat di leher masyarakat sendiri.
Politikus pandai menggunakan kata “kita”, padahal keuntungan akhirnya hanya untuk “mereka”. “Kita harus berjuang.” “Kita sedang dizalimi.” “Kita tidak boleh kalah.” Namun ketika perjuangan itu menimbulkan korban, masyarakatlah yang menanggungnya. Ketika keributan terjadi, rakyatlah yang berhadapan dengan hukum. Ketika hubungan kekeluargaan rusak, rakyat pula yang harus memperbaikinya.
Sementara itu, para elite dapat berpindah kubu dengan mudah. Mereka memiliki pengawal, kendaraan, rumah besar dan jaringan kekuasaan. Mereka bisa bertemu diam-diam, berunding dan berdamai. Rakyat yang sudah telanjur panas justru dibiarkan tetap berada di dalam sumur.
Strategi memecah belah tidak selalu dilakukan dengan perintah terang-terangan. Kadang-kadang ia bekerja melalui bisikan: kelompokmu sedang terancam, agamamu sedang dihina, sukumu sedang disingkirkan, daerahmu sedang dilupakan.
Ketakutan dipelihara karena orang yang takut lebih mudah diarahkan. Kebencian dipupuk karena orang yang membenci tidak sempat berpikir. Masyarakat dibuat sibuk mengalahkan sesamanya sehingga lupa bertanya siapa yang sebenarnya memperoleh keuntungan.
Lebih berbahaya lagi, kebencian yang terus dilatih dapat berubah menjadi karakter. Seperti tikus yang keluar dari sumur, seseorang akhirnya terbiasa menyerang. Ia tidak lagi membutuhkan perintah politikus. Ia mencari sendiri musuh baru untuk dicaci, dihina dan dihancurkan.
Pada titik itu, politikus tidak perlu lagi melemparkan bangkai. Tikus-tikus sudah terbiasa memangsa sesamanya. Karena itu, masyarakat harus berhenti menjadi pasukan yang mudah diperintah oleh teriakan. Berbeda pilihan tidak berarti berbeda kemanusiaan.
Pilihan politik hanya berlaku untuk beberapa tahun, sedangkan persaudaraan, pertetanggaan dan kekeluargaan dapat berlangsung seumur hidup. Jangan korbankan hubungan yang panjang demi pidato yang hanya berlangsung beberapa menit.
Jangan bermusuhan dengan tetangga demi membela orang yang bahkan tidak mengenal nama kita. Jangan bertengkar dengan saudara demi politikus yang besok pagi mungkin sudah berpelukan dengan lawannya.
Periksa Rekam Jejak
Kritiklah kekuasaan dengan akal sehat, bukan dengan kebencian. Dukunglah calon atau partai dengan kesadaran, bukan dengan fanatisme. Dengarkan ucapan politikus, tetapi periksalah rekam jejak dan tindakannya. Jangan hanya terpukau pada siapa yang paling keras berteriak, tetapi lihat siapa yang paling konsisten bekerja.
Rakyat tidak boleh terus-menerus menjadi tikus di dalam sumur politik. Ketika seseorang melemparkan umpan kebencian, jangan segera melompat. Ketika sudah terjebak, jangan saling memangsa. Berhentilah bertarung, lihatlah ke atas dan carilah jalan keluar bersama.
Sebab musuh rakyat bukanlah tetangga yang berbeda pilihan. Musuh rakyat adalah kebodohan yang membuat kita mudah diperalat, ketakutan yang membuat kita mudah diadu, dan fanatisme yang membuat kita rela menghancurkan sesama demi kepentingan orang-orang yang hidup nyaman di puncak kekuasaan. (Penulis adalah wartawan senior yang kini menjadi pemerhati sosial politik)





