300 Siswa SMAN 8 Jakarta Ikuti Coaching Writing Skill, Dilatih Jadi Gen Z Jago Menulis

oleh -20 Dilihat
oleh
300 siswa kelas XI SMAN 8 Jakarta mengikuti pelatihan Coaching Writing Skill bertema “Mahir Literasi, Jadi Gen Z Jago Nulis”, Jumat (4/9/2026). (Foto: Humas SMAN 8 Jakarta)

JAKARTA, REPORTER.ID — Lebih dari 300 siswa kelas XI SMAN 8 Jakarta mengikuti pelatihan Coaching Writing Skill bertema “Mahir Literasi, Jadi Gen Z Jago Nulis”, Jumat (4/9/2026). Pelatihan tersebut mendorong siswa mengembangkan keterampilan menulis sebagai bekal menghadapi kebutuhan akademik, termasuk seleksi perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri.

Kegiatan yang berlangsung sekitar dua jam itu merupakan pertemuan pertama dari rencana tiga kali pelatihan. Program tersebut digagas Persatuan Orang Tua Siswa Fokus 28 dengan menghadirkan dua pemateri dari Institut Media Digital Emtek (IMDE), Drs. Suradi, M.Si., dan Friska Artinus.

Acara diawali sambutan anggota Komite Sekolah SMAN 8 Jakarta, Heri Subiyanto, dan dibuka Kepala SMAN 8 Jakarta, Drs. Ubaidillah.

Ubaidillah mengatakan kemampuan menulis penting dimiliki seluruh siswa, bukan hanya mereka yang duduk di kelas XI. Menurut dia, keterampilan tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa ketika mengikuti seleksi perguruan tinggi, termasuk universitas di luar negeri yang mensyaratkan penulisan esai.

“Kami berharap, pelatihan ini benar-benar diikuti secara serius, sehingga siswa punya keterampilan dalam tulis-menulis. Dalam kaitan ini saya juga ingin agar ada website di SMAN 8 Jakarta yang berisi hasil liputan dan tulisan siswa,” ujar Ubaidillah.

Heri Subiyanto juga menilai kemampuan menulis semakin penting karena sejumlah proses penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi mensyaratkan esai sebagai bagian dari seleksi.

Ia mencontohkan pengalaman putranya, Faustin, lulusan SMAN 8 Jakarta tahun 2026, yang saat mendaftar ke The University of British Columbia (UBC), Kanada, harus menyiapkan esai tentang dirinya maupun topik yang ditentukan universitas tersebut.

“Artinya, keterampilan menulis benar-benar penting,” kata Heri.

Menurut Heri, pelatihan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa kelas XI untuk belajar langsung dari mentor yang memiliki pengalaman di bidang penulisan. Karena itu, ia meminta peserta memanfaatkan kesempatan tersebut secara maksimal.

Ketua Fokus 28, dr. Andike Catur Wulansari, MARS, mengatakan kegiatan itu berangkat dari kesadaran bahwa kemampuan literasi dan menulis merupakan fondasi penting bagi generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital.

Menurut Andike, gagasan yang baik tidak akan memberikan dampak optimal jika tidak disampaikan melalui tulisan yang runtut, jelas, dan tepat.

“Di era saat ini, sebesar apa pun sebuah ide tidak akan memberikan dampak yang optimal apabila kita tidak mampu menyampaikannya melalui tulisan yang runtut, jelas, dan tepat,” ujar Andike.

Ia berharap pelatihan tersebut dapat membantu siswa mengembangkan gagasan atau research ideas menjadi tulisan yang terstruktur sehingga dapat dipahami dan memberikan manfaat bagi pembaca.

Andike juga menyampaikan apresiasi kepada Suradi dan Friska yang bersedia berbagi ilmu, pengalaman, dan wawasan kepada para siswa.

Koordinator Tim Akademik 28, Ikma Hartanti, mengatakan keterampilan menulis semestinya menjadi kemampuan yang dimiliki siswa, khususnya untuk membantu mereka menuangkan ide dan hasil penelitian ke dalam tulisan yang baik.

“Kehadiran Bapak berdua merupakan suatu kehormatan dan kesempatan yang sangat berharga bagi kami. Semoga ilmu yang diberikan pada kegiatan hari ini dapat menjadi bekal yang bermanfaat bagi seluruh peserta,” ujar Ikma.

Siswa Sudah Menghasilkan Cerpen hingga Buku

Dalam sesi pertama, Suradi dan Friska tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga berdialog dengan peserta untuk mengetahui pengalaman dan kemampuan mereka dalam menulis.

Sejumlah siswa mengaku telah menghasilkan karya dalam berbagai bentuk. Mereka antara lain Gael, Fahad, Ajeng, Annisa, Radita, Galen, Azka, Monang, Aura, dan Nizam.

Karya yang pernah dibuat para siswa tersebut beragam, mulai dari cerita pendek, esai, tulisan hasil riset untuk lomba, hingga buku.

Suradi dan Friska mengapresiasi pengalaman tersebut sekaligus mendorong siswa lain untuk mengikuti jejak teman-temannya dengan mulai menulis dalam berbagai bentuk, baik fiksi maupun nonfiksi.

Pertemuan pertama yang diikuti seluruh siswa kelas XI menjadi tantangan tersendiri bagi kedua pemateri. Karena itu, sesi pelatihan dibuat lebih interaktif melalui dialog dan pertanyaan dari peserta.

Sejumlah pertanyaan menunjukkan ketertarikan siswa terhadap berbagai bentuk penulisan. Mereka bertanya tentang cara memulai tulisan, teknik menulis cerpen, penulisan berita untuk televisi, hingga pertanyaan mengenai bagaimana Tan Malaka menulis dan pemikiran dalam karya monumentalnya, Madilog atau Materialisme, Dialektika, dan Logika.

Suradi yang memiliki latar belakang pendidikan sejarah menjelaskan secara ringkas pemikiran dan karya Tan Malaka. Sementara itu, berbagai pertanyaan teknis mengenai penulisan cerpen, esai, hingga buku dijawab dengan memberikan sejumlah kiat praktis.

Mulai Menulis dari Lingkungan Terdekat

Dalam pelatihan tersebut, Suradi dan Friska mengajak siswa mengubah lingkungan sekitar menjadi sumber ide tulisan.

Kehidupan di sekolah, rumah, lingkungan tempat tinggal, hingga pertemanan dapat menjadi bahan untuk mengembangkan tulisan fiksi maupun nonfiksi.

Namun, menurut pemateri, kemampuan menemukan ide harus ditopang kebiasaan memperluas pengetahuan. Siswa didorong untuk membaca buku, mengikuti perkembangan berita, berdiskusi, serta mengamati berbagai peristiwa dan perilaku orang-orang di sekitarnya. “Dari situ pasti banyak ide,” kata Suradi dan Friska.

Sebagai latihan awal, para siswa diminta menulis satu paragraf mengenai kegiatan pelatihan yang baru mereka ikuti. Latihan sederhana tersebut dimaksudkan untuk membiasakan siswa menuangkan pengalaman dan pengamatan ke dalam tulisan.

Pelatihan pertama itu menjadi bagian awal dari rangkaian tiga pertemuan yang dirancang untuk membangun kebiasaan menulis sekaligus memperkuat kemampuan siswa mengembangkan gagasan menjadi karya yang terstruktur. ***