Cegah Karhutla di Kalsel, Habib Aboe Dorong Pelajar Jadi Penggerak Edukasi Lingkungan

oleh -22 Dilihat
oleh
DPP PKS, Aboe Bakar Al Habsyi, dalam Bimtek untuk anggota DPRD PKS wilayah Balinusra di Jakarta, Minggu (16/2/2025). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, REPORTER.ID  — Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak dini, termasuk pelajar dan generasi muda. Edukasi lingkungan, penyebaran informasi yang akurat, dan perubahan perilaku dinilai menjadi langkah penting untuk menekan risiko kebakaran. Anggota DPR RI Habib Aboe Bakar Alhabsyi mendorong anak muda mengambil peran lebih aktif melalui gerakan yang terkoordinasi dan berkelanjutan.
Dorongan itu disampaikan Habib Aboe saat mengapresiasi inisiatif Forum Peduli Banua yang melibatkan Pelajar Islam Indonesia (PII), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dalam merespons persoalan lingkungan di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Menurut Habib Aboe, keterlibatan organisasi pelajar tersebut menunjukkan tumbuhnya kepedulian generasi muda terhadap persoalan sosial dan lingkungan di daerahnya. Anak muda, kata dia, tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kelompok yang terdampak karhutla, tetapi juga sebagai bagian penting dari upaya pencegahan.

“Saya mengapresiasi kepedulian Forum Peduli Banua dari PII, IPNU, dan IPM. Ini menunjukkan bahwa para pelajar sekarang sensitif terhadap problem sosial di Kalimantan Selatan. Pian barataan adalah bagian penting dari solusi,” ujar Habib Aboe dalam keterangan tertulis, Rabu (21/10/2026).

Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kalsel I itu menilai, generasi muda memiliki modal untuk memperluas gerakan pencegahan karhutla. Kreativitas, kemampuan membangun jejaring, dan kedekatan dengan teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan edukasi lingkungan sekaligus mendorong masyarakat menghindari praktik yang berisiko memicu kebakaran.

Habib Aboe menguraikan tiga peran utama yang dapat dijalankan pelajar dan pemuda dalam pencegahan karhutla, yakni menyebarkan informasi yang benar, membangun kebiasaan ramah lingkungan, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Peran pertama adalah memperluas edukasi mengenai penyebab, risiko, dan dampak karhutla. Upaya ini dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti sekolah, kampus, keluarga, organisasi kepemudaan, hingga permukiman warga.

Pelajar juga dapat membantu masyarakat memahami bahaya pembakaran lahan dan mengenali langkah-langkah pencegahan. Namun, penyebaran informasi harus disertai tanggung jawab untuk memeriksa sumber dan memastikan kebenarannya sebelum dibagikan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, informasi yang tidak terverifikasi berpotensi menimbulkan kepanikan dan menghambat upaya penanganan kebakaran. Karena itu, generasi muda diharapkan menjadi bagian dari penyebaran informasi yang akurat dan edukatif.

“Anak muda harus menjadi bagian dari penyebaran informasi yang benar dan edukatif,” kata Habib Aboe, yang merupakan anggota Komisi III DPR RI.

Peran kedua adalah membangun budaya pencegahan melalui tindakan nyata. Kepedulian terhadap lingkungan, menurut dia, tidak cukup berhenti pada slogan, diskusi, atau unggahan di media sosial. Kesadaran tersebut perlu diterjemahkan menjadi kegiatan yang mendorong perubahan perilaku masyarakat.

“Komunitas pelajar dapat menggelar kampanye lingkungan, memproduksi poster dan video edukasi, menyelenggarakan diskusi di sekolah, serta melakukan sosialisasi dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat,” ujar Habib Aboe lagi.

Disamping itu, menurut Habib Aboe, edukasi juga perlu menekankan pentingnya menghindari pembukaan dan pembersihan lahan dengan cara membakar. Selain itu, masyarakat perlu mengetahui saluran pelaporan resmi yang dapat digunakan ketika menemukan indikasi kebakaran, sehingga informasi dapat segera diteruskan kepada pihak berwenang.

“Pencegahan harus menjadi budaya bersama. Kita perlu mendorong masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar,” ujarnya.

Peran ketiga adalah memperkuat kerja sama lintas sektor. Pencegahan dan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, pemerintah daerah, instansi lingkungan hidup, aparat, hingga masyarakat.

“Koordinasi diperlukan agar inisiatif yang tumbuh dari kalangan pelajar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Dengan pembagian peran dan program yang jelas, gerakan kepedulian lingkungan diharapkan dapat berkembang menjadi upaya pencegahan yang konsisten dan berkelanjutan,” katanya.

Habib Aboe berharap Forum Peduli Banua dapat berkembang menjadi jaringan komunikasi bagi pelajar dan pemuda yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk bertukar gagasan sekaligus merancang kegiatan konkret yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

“Forum ini hendaknya menjadi awal terbentuknya jaringan komunikasi pemuda-pelajar peduli lingkungan yang tidak berhenti setelah acara selesai. Dengan koordinasi dan kolaborasi, gagasan yang lahir dari forum seperti ini dapat diubah menjadi program yang terukur dan berkelanjutan,” katanya.

Mantan Sekretaris Jenderal DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga berharap inisiatif PII, IPNU, dan IPM dapat menginspirasi kelompok pelajar serta pemuda lainnya di Kalimantan Selatan untuk mengambil bagian dalam menjaga lingkungan. Menurut dia, karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan ekosistem, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat dan keberlanjutan kehidupan bersama.

“Oleh karena itu, keterlibatan generasi muda perlu diarahkan menjadi gerakan kolektif yang konsisten, terkoordinasi, dan berorientasi pada pencegahan. Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat dan keberlanjutan kehidupan kita bersama. Karena itu, mari kita jadikan kepedulian ini sebagai gerakan bersama. Pemuda dan pelajar harus hadir, bergerak, dan mengambil bagian dalam solusi,” tutup Habib Aboe. ***