Mathias Brahmana
Oleh : Mathias Brahmana
(Wartawan Senior)
Ada satu hal yang lebih berbahaya dari peluru yakni pikiran yang merasa dirinya paling benar. Pada malam yang seharusnya dipenuhi jas hitam, gelas kristal, dan tawa diplomatik di Washington Hilton, seorang pria bernama Cole Tomas Allen memilih jalan yang berbeda.
Allen tidak datang untuk makan malam bersama Donald Trump dan para pejabatnya. Ia datang dengan manifesto dan senjata. Ia menyebut dirinya “friendly federal assassin.” Ironis sebab tidak ada yang disebut ramah dalam niat membunuh.
Allen bukan orang bodoh. Ia lulusan teknik, pernah mengajar, bahkan dikenal cerdas oleh lingkungannya. Tetapi kecerdasan tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Kadang justru melahirkan pembenaran. Ia memilih target pemerintahan Trump, simbol kekuasaan, simbol yang ia anggap salah.
Dan di situlah tragedi sebenarnya: bukan pada tembakan, tetapi pada keyakinan bahwa kekerasan adalah solusi. Kita cepat menyebut Allen sebagai “orang gila.” Padahal ia adalah produk zaman.
Zaman yang lebih cepat marah daripada berpikir; lebih senang menyerang daripada memahami; lebih percaya narasi daripada kebenaran. Hari ini orang tidak perlu senjata untuk menghancurkan. Cukup opini. Cukup kebencian. Cukup keyakinan bahwa dirinya paling benar. Allen membawa itu ke tingkat paling brutal.
Masalahnya bukan politik tetapi manusia. Mudah menyalahkan politik. Mudah menyalahkan Trump. Mudah menyalahkan sistem. Tetapi kenyataannya lebih sederhana dan lebih mengerikan bahwa manusia yang tidak mampu mengelola pikirannya sendiri akan selalu mencari musuh di luar dirinya.
Allen tidak hanya menembak. Ia adalah contoh bagaimana pikiran yang tidak dikoreksi menjadi ideologi; ideologi yang tidak diuji menjadi kebencian; kebencian yang tidak dibatasi menjadi kekerasan
Peluru Allen mungkin gagal membunuh. Tetapi pikirannya, itulah yang seharusnya membuat kita takut. Karena di dunia hari ini, yang paling berbahaya bukan orang yang membawa senjata, melainkan orang yang membawa keyakinan tanpa kebenaran dan merasa dirinya sedang menyelamatkan dunia. (Penulis adalah wartawan senior dan pemerhati sosial politik)





