Mathias Brahmana (foto : Ist)
Oleh : Mathias Brahmana
(Wartawan Senior)
Negara ini sedang menghadapi ujian keras. Bukan ujian biasa. Ada pola yang bergerak bersamaan: tekanan ekonomi, kegaduhan sosial, perang opini, hingga upaya memecah kepercayaan rakyat terhadap negaranya sendiri.
Rakyat kecil mungkin tidak memahami teori geopolitik. Tetapi mereka bisa merasakan ketika ada sesuatu yang sedang digerakkan secara sistematis.
Nilai rupiah diguncang terus-menerus. Isu dolar Rp20 ribu dilemparkan berulang-ulang ke ruang publik, bukan sekadar sebagai analisis ekonomi, tetapi sebagai teror psikologis. Sejarah menunjukkan, perang modern tidak selalu dimulai dengan senjata. Kadang dimulai dengan mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap mata uang, pasar, dan masa depan bangsanya sendiri.
Kita pernah mengalami itu pada 1998. Ketika ekonomi runtuh, kerusuhan meledak, elite saling menyerang, dan rakyat menjadi korban paling besar. Dunia internasional mencatat bagaimana krisis moneter Asia kala itu membuka ruang intervensi besar terhadap arah politik dan ekonomi negara-negara berkembang. Karena itu bangsa ini tidak boleh naïf
Di banyak negara berkembang, pola tekanan sering datang bersamaan: ekonomi diguncang, keresahan sosial dipelihara, identitas agama dibenturkan, lalu media sosial dipenuhi narasi bahwa negara sedang gagal total.
Hari ini gejalanya mulai terasa
Kriminalitas brutal dipertontonkan hampir tanpa jeda. Pembegalan, kekerasan jalanan, dan teror sosial menyebar cepat melalui media digital. Ketakutan diproduksi massal. Rakyat dibuat merasa tidak aman bahkan di lingkungan sendiri.
Pada saat yang sama, isu agama kembali dimainkan. Rumah ibadah dipersoalkan. Orang beribadah diganggu. Sentimen mayoritas dan minoritas dipertajam. Luka lama dicungkil agar masyarakat terus hidup dalam kecurigaan.
Yang lebih berbahaya, berbagai kepentingan mulai menemukan titik temu. Politisi yang kalah. Kelompok yang kehilangan pengaruh. Ormas yang dibubarkan. Tokoh yang kecewa karena ambisinya kandas. Mereka bertemu dalam satu nada: membangun persepsi bahwa negara sedang menuju kekacauan besar.
Narasi kerusuhan dihembuskan berulang-ulang. Bulan tertentu disebut-sebut seolah republik ini tinggal menunggu ledakan. Dan dalam situasi seperti itu, publik harus sadar: perang opini adalah bagian dari perang kekuasaan.
Negara juga perlu waspada terhadap infiltrasi kepentingan asing yang bekerja secara halus. Tidak selalu dalam bentuk agen rahasia seperti di film-film. Kadang melalui jejaring ekonomi, lembaga donor, operasi informasi, tekanan pasar, bahkan organisasi yang membawa agenda tertentu atas nama demokrasi, HAM, atau kebebasan, tetapi diam-diam memperkeruh situasi sosial-politik.
Bukan berarti semua investor asing, pengusaha, atau LSM harus dicurigai. Tidak. Banyak yang bekerja tulus membantu pembangunan. Tetapi sejarah dunia membuktikan bahwa perebutan pengaruh terhadap negara berkembang sering bergerak melalui jalur nonmiliter: pendanaan opini, konflik identitas, tekanan ekonomi, dan penguasaan narasi publik.
Indonesia terlalu strategis untuk dibiarkan tenang oleh semua pihak
Kita memiliki sumber daya alam besar. Jalur perdagangan penting. Pasar raksasa. Dan posisi geopolitik yang diperebutkan dunia. Karena itu, setiap kegaduhan nasional harus dibaca dengan kewaspadaan, bukan dengan kepanikan. Namun bangsa ini juga tidak boleh terjebak paranoia.
Pancasila adalah fondasi yang sudah berkali-kali menyelamatkan Indonesia dari perpecahan. Negeri ini pernah menghadapi kolonialisme, pemberontakan, konflik ideologi, terorisme, hingga krisis ekonomi besar. Tetapi Indonesia tetap berdiri karena rakyatnya pada akhirnya memilih persatuan daripada kehancuran.
Karena itu negara harus tegas. Aparat penegak hukum tidak boleh kalah oleh provokasi. Intelijen negara harus bekerja presisi membaca ancaman. Tokoh agama wajib menenangkan umat, bukan menyulut emosi. Akademisi harus jujur membaca realitas. Media jangan menjadi pengeras suara kepanikan. Dan rakyat jangan mudah diperalat menjadi pasukan digital kebencian.
Demokrasi bukan berarti membiarkan republik dirusak dari dalam. Kebebasan bukan berarti memberi ruang tanpa batas kepada mereka yang terus memproduksi fitnah, kebencian, dan permusuhan sosial demi ambisi politik sesaat.
Bangsa ini terlalu besar untuk dihancurkan oleh dendam kelompok kecil. Indonesia tidak membutuhkan provokator. Indonesia membutuhkan ketenangan, kewaspadaan, dan persatuan nasional.
Sebab sejarah selalu menunjukkan satu hal: republik ini mungkin berkali-kali diguncang, tetapi selalu selamat ketika rakyatnya menolak untuk saling membenci.
Pancasila sudah terbukti sakti. Tetapi kesaktian itu tidak hidup di slogan. Ia hidup di akal sehat rakyatnya, di keberanian negara menjaga persatuan, dan di kesadaran bersama bahwa Indonesia tidak boleh berlutut kepada ketakutan maupun kepada permainan siapa pun yang ingin melihat bangsa ini pecah.
(Penulis adalah wartawan senior yang kini menjadi pemerhati sosial politik)





