Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi (Anggota DPR RI / F-PKS / Kalsel I)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.
Setiap sore, Allah memperlihatkan kepada kita sebuah pemandangan yang begitu indah. Langit berubah menjadi jingga, merah keemasan, lalu perlahan matahari tenggelam di ufuk barat. Tidak ada satu manusia pun yang mampu menahan matahari agar tetap bersinar. Sebesar apa pun kekuasaan seseorang, sekaya apa pun hartanya, setinggi apa pun jabatannya, semuanya tidak dapat mengubah ketetapan Allah.
Begitulah kehidupan manusia. Masa muda akan berganti tua. Kesehatan akan berganti sakit. Kekuatan akan berganti kelemahan.
Pertemuan akan berganti perpisahan. Dan kehidupan dunia akan berganti dengan kematian.
Allah SWT berfirman:
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kematian bukanlah kemungkinan, tetapi kepastian. Tidak ada seorang pun yang bisa menghindarinya.
Allah juga berfirman:
“Setiap yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27)
Artinya seluruh kemegahan dunia akan sirna. Rumah mewah akan ditinggalkan. Kendaraan mahal akan berpindah tangan. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan dilupakan. Yang tersisa hanyalah amal.
Dunia Hanyalah Tempat Singgah
Rasulullah SAW bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari)
Musafir tidak membangun istana di tempat persinggahan. Ia hanya membawa bekal secukupnya menuju tujuan akhir.
Begitu pula seorang mukmin. Dunia bukan rumah selamanya. Dunia hanyalah ladang menanam amal.
Allah SWT berfirman:
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Bukan berarti Islam melarang memiliki harta. Islam justru mendorong umatnya bekerja keras. Namun harta jangan sampai menguasai hati. Jadikan dunia di tangan, bukan di hati.
Pelajaran dari Matahari
Matahari selalu terbit tepat waktu tanpa pernah terlambat. Ia memberi cahaya kepada siapa saja tanpa membedakan kaya atau miskin.
Lalu ketika waktunya tiba, ia tenggelam. Demikian pula manusia. Ada masa kita lahir. Ada masa kita belajar. Ada masa kita bekerja. Ada masa kita menjadi tua.
Dan suatu hari Allah memanggil kita pulang. Tidak ada yang bisa menunda satu detik pun ketika ajal telah tiba.
Allah berfirman:
“Apabila ajal mereka telah datang, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)
Kisah Nabi Sulaiman AS
Nabi Sulaiman adalah seorang raja sekaligus nabi yang diberikan kerajaan luar biasa. Beliau menguasai manusia, jin, angin, bahkan memahami bahasa burung.
Namun ketika Allah menetapkan ajalnya, beliau wafat. Kerajaannya tidak mampu menolak kematian.
Ini menjadi bukti bahwa sebesar apa pun kekuasaan manusia, semuanya tunduk kepada ketentuan Allah.
Kisah Qarun
Qarun dikenal sangat kaya. Kunci gudang hartanya saja dipikul oleh banyak orang.
Ia mengira kekayaannya hasil kecerdasannya sendiri. Allah pun menenggelamkan Qarun beserta seluruh hartanya ke dalam bumi.
Allah berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 81 bahwa bumi menelan Qarun beserta rumahnya. Hartanya tidak mampu menyelamatkannya.
Kisah Fir’aun
Fir’aun mengaku sebagai tuhan. Ia memiliki kerajaan besar.
Namun ketika laut menenggelamkannya, ia baru berkata bahwa dirinya beriman. Penyesalan saat sakaratul maut sudah tidak berguna.
Allah mengabadikan kisah itu sebagai pelajaran agar manusia tidak sombong.
Kisah Nabi Muhammad SAW
Rasulullah SAW adalah manusia paling mulia. Namun beliau tetap mengalami sakit dan wafat.
Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata kepada kaum Muslimin: “Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.”
Lalu beliau membaca firman Allah: “Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul…” (QS. Ali ‘Imran: 144)
Kubur Adalah Awal Perjalanan Akhirat
Rasulullah SAW bersabda: “Kubur adalah persinggahan pertama dari perjalanan akhirat.” (HR. Tirmidzi)
Di sanalah manusia akan ditanya tentang: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Yang menjawab bukan hafalan, tetapi keimanan yang diamalkan.
Tiga Amal yang Terus Mengalir
Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia maka terputus seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Maka jangan tunda bersedekah. Jangan bosan mengajarkan ilmu. Didik anak dengan akhlak Islami.
Karena semua itu akan terus menjadi cahaya di alam kubur. Jangan Tertipu Umur
Banyak orang berkata: “Nanti kalau sudah tua saya akan rajin ibadah.”
Padahal tidak ada jaminan kita sampai tua. Berapa banyak bayi meninggal. Berapa banyak remaja meninggal.
Berapa banyak orang sehat tiba-tiba dipanggil Allah. Malaikat maut tidak pernah salah alamat.
Dunia Sangat Singkat
Hasan Al-Bashri berkata: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Ketika satu hari berlalu, maka hilang pula sebagian dari dirimu.”
Setiap hari yang berlalu sebenarnya umur kita sedang berkurang. Karena itu gunakan waktu untuk hal-hal yang Allah ridai.
Bekal Terbaik
Bekal terbaik menuju akhirat adalah takwa.
Allah berfirman:
“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Takwa diwujudkan dengan menjaga shalat lima waktu, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, berbakti kepada orang tua, menjaga lisan, menolong sesama, menjauhi dosa, dan memperbanyak sedekah.
Muhasabah Diri
Sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri: Sudahkah shalatku khusyuk?
Sudahkah aku meminta maaf kepada orang yang kusakiti? Sudahkah aku membaca Al-Qur’an hari ini?
Sudahkah aku bersyukur atas nikmat Allah? Jika malam ini Allah memanggilku, apakah aku siap?
Pertanyaan-pertanyaan ini akan melembutkan hati dan mengingatkan kita bahwa hidup tidak selamanya.
Penutup
Saudaraku…
Seindah apa pun matahari, ia pasti tenggelam. Setinggi apa pun gunung, suatu saat akan hancur. Semegah apa pun istana, akan ditinggalkan.
Secantik apa pun wajah, akan dimakan tanah. Sekaya apa pun manusia, tidak akan membawa hartanya ke alam kubur. Yang menemani hanyalah amal saleh.
Mari kita isi sisa umur dengan taubat, shalat, sedekah, dzikir, membaca Al-Qur’an, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, memperbaiki akhlak, menjaga silaturahmi, serta memperbanyak doa kepada Allah SWT.
Semoga Allah menjadikan hati kita lembut, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan alam kubur kita, menguatkan kita saat menghadapi sakaratul maut, memberikan husnul khatimah, dan mengumpulkan kita bersama Rasulullah SAW di surga Firdaus tanpa hisab.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. ***




