Prof. Dr. Amir Santoso (net)
Oleh : Prof. Dr. Amir Santoso
Generasi muda Indonesia tumbuh di zaman yang serba cepat. Kita hidup bersama gawai, media sosial, dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Dalam hitungan detik, kita bisa tahu apa yang terjadi di mana pun. Namun di saat yang sama, kita juga menyaksikan betapa cepatnya perbedaan berubah menjadi perpecahan—sering kali bermula dari layar ponsel di tangan kita sendiri.
Indonesia kerap menyebut dirinya sebagai bangsa besar. Kita bangga dengan keberagaman budaya, agama, dan latar belakang sosial. Namun pertanyaan yang patut diajukan secara jujur adalah: jika memang bangsa besar, mengapa kita begitu mudah terbelah hanya oleh unggahan, potongan video, atau narasi yang belum tentu benar?
Media Sosial dan Wajah Baru Perpecahan
Media sosial menjanjikan kebebasan berekspresi. Namun dalam praktiknya, ia juga menjadi ruang yang sangat emosional. Salah satu contoh yang sering kita temui adalah potongan video pendek yang kehilangan konteks. Cuplikan pidato atau pernyataan tokoh publik berdurasi belasan detik kerap viral karena dianggap provokatif. Komentar pun langsung memanas, kubu pro dan kontra saling serang.
Padahal, jika ditonton versi lengkapnya, makna pernyataan tersebut bisa sangat berbeda. Sayangnya, di dunia media sosial, kemarahan selalu lebih cepat viral daripada klarifikasi. Perpecahan pun muncul bukan karena kebencian yang direncanakan, melainkan karena informasi yang setengah benar.
Contoh lain yang dekat dengan keseharian generasi muda adalah perang komentar di kolom unggahan. Awalnya hanya perbedaan pendapat biasa—tentang politik, isu sosial, atau kebijakan publik. Namun perlahan, argumen berubah menjadi serangan personal: latar belakang disinggung, identitas dipermasalahkan, bahkan agama dan daerah asal dijadikan bahan ejekan.
Ironisnya, banyak dari mereka yang bertengkar belum pernah saling mengenal. Media sosial membuat lawan diskusi berubah menjadi musuh imajiner. Perbedaan pandangan dianggap ancaman, bukan kenyataan yang wajar dalam masyarakat majemuk.
Ketika Ikut Ramai Lebih Penting daripada Memahami
Di kalangan anak muda, ada dorongan kuat untuk tidak tertinggal tren. Ketika sebuah isu viral, banyak yang merasa perlu ikut membagikan tagar, meme, atau opini—meski belum sepenuhnya paham duduk persoalannya. Tujuannya beragam: terlihat peduli, ikut arus, atau takut dianggap tidak berpihak.
Masalahnya, isu yang sedang ramai sering kali sensitif dan menyangkut identitas. Alih-alih mendinginkan suasana, sikap ikut-ikutan ini justru memperkeruh keadaan. Polarisasi semakin tajam, sementara ruang dialog makin sempit.
Situasi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten sejalan dengan pandangan kita. Tanpa disadari, generasi muda hidup di ruang gema (echo chamber). Kita merasa pendapat kita paling benar karena linimasa kita dipenuhi suara yang sama. Ketika bertemu pandangan berbeda, responsnya bukan ingin memahami, melainkan menolak atau menyerang.
Pancasila : Dihafal, Tapi Belum Tentu Dihidupi
Pancasila sering disebut sebagai pemersatu bangsa. Namun di era digital, kita perlu bertanya: sejauh mana nilainya benar-benar hidup dalam perilaku kita di media sosial? Kemanusiaan seharusnya berarti tidak merundung di dunia maya. Persatuan berarti tidak ikut menyebarkan konten yang memecah belah. Musyawarah berarti mau mendengar sebelum membalas.
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pernah menegaskan, “Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia.” Jika Pancasila adalah jiwa bangsa, maka hari ini ia tercermin bukan hanya di upacara dan pidato, tetapi juga di kolom komentar dan linimasa media sosial.
Modal Besar Generasi Muda
Meski sering dituding sebagai generasi yang emosional dan impulsif, generasi muda sebenarnya memiliki modal besar untuk menjaga persatuan. Media sosial tidak selalu memecah. Dalam banyak situasi, justru menjadi alat pemersatu.
Kita melihatnya saat terjadi bencana alam. Penggalangan dana daring, penyebaran informasi relawan, dan solidaritas lintas daerah bergerak cepat—sering kali digerakkan oleh anak muda. Tanpa bertanya latar belakang korban, ribuan orang ikut membantu. Inilah gotong royong versi digital.
Banyak tokoh terutama para pendiri bangsa menyatakan bahwa gotong royong adalah inti kepribadian bangsa Indonesia. Di tangan generasi muda, nilai lama ini menemukan bentuk barunya: cepat, lintas batas, dan berbasis empati.
Selain itu, muncul pula anak-anak muda yang secara sadar menciptakan ruang dialog sehat: podcast, video edukatif, dan tulisan panjang yang membahas isu sensitif dengan bahasa tenang. Konten seperti ini mungkin tidak selalu viral, tetapi perlahan membangun budaya baru—berbeda tanpa saling meniadakan.
Ki Hadjar Dewantara pernah mengingatkan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia seutuhnya. Di era media sosial, ini berarti mendidik generasi muda agar tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
Persatuan sebagai Pilihan Digital
Persatuan di era media sosial tidak terjadi dengan sendirinya. Ia adalah pilihan yang harus diambil setiap hari. Setiap unggahan adalah sikap. Setiap share adalah keputusan. Setiap komentar adalah cerminan nilai.
Generasi muda bisa memilih menjadi bagian dari hiruk-pikuk yang memecah, atau menjadi penenang di tengah keramaian. Kita bisa memilih untuk ikut terseret emosi, atau berhenti sejenak untuk berpikir dan memeriksa kebenaran.
Penutup
Indonesia memang bangsa besar. Tetapi kebesaran itu tidak hanya diukur dari luas wilayah atau jumlah penduduk. Ia diukur dari kemampuan warganya—terutama generasi mudanya—menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Media sosial bisa menjadi alat pemecah, tetapi juga bisa menjadi jembatan. Pilihannya ada di tangan kita. Dan hari ini, masa depan persatuan Indonesia sedang ditulis—satu unggahan pada satu waktu. Semoga unggahan itu tetap diingat sepanjang waktu. (Penulis adalah Gurubesar FISIP UI, Mantan Rektor Universitas Jayabaya, mantan anggota DPR/MPR)
Jaticepaka 16/12/2025





