NEGERI YANG BERISIK, BANGSA YANG LUMPUH

oleh
oleh

Prof. Dr. Amir Santoso (net)

 

Oleh : Prof. Dr. Amir Santoso

 

Kita hidup di negeri yang berisik. Semua orang bicara. Semua orang menilai. Semua orang mengutuk. Tetapi hampir tak seorang pun bergerak.

Setiap perkara besar selalu melahirkan gelombang kemarahan. Putusan diumumkan, linimasa memanas, opini tumpah ruah. Namun setelah itu, yang tersisa hanyalah kelelahan digital. Tidak ada barisan. Tidak ada struktur. Tidak ada satu pun usaha serius untuk menghentikan kemerosotan.

Apakah ini perlawanan, atau sekadar kebisingan? Kita menyebut diri kritis, tetapi takut terorganisir.

Kita mengaku peduli, tetapi enggan berkorban. Kita mengutuk kekuasaan, tetapi tak pernah membangun kekuatan tandingan.

Inilah ironi terbesar zaman ini. Lidah kita radikal, tapi langkah kita jinak. Pikiran kita tajam, tapi nyali kita tumpul. Kita mengganti keberanian dengan unggahan. Kita mengganti perjuangan dengan perdebatan. Kita mengganti gerakan dengan retorika.

Bangsa ini tidak kekurangan kecerdasan. Bangsa ini kekurangan disiplin kolektif. Tanpa disiplin, kemarahan hanyalah keributan. Tanpa organisasi, kritik hanyalah hobi. Tanpa strategi, idealisme hanyalah dekorasi moral.

Kita terlalu sibuk menjadi hakim, tetapi tidak pernah mau menjadi arsitek perubahan.

Kita terlalu sibuk mencari siapa yang salah, tetapi tidak pernah menyiapkan siapa yang bertindak.

Lebih jujur jika kita mengakui, bahwa sebagian besar dari kita tidak ingin perubahan, kita hanya ingin terlihat menentang. Kita tidak ingin sistem runtuh, kita hanya ingin merasa benar.

Maka lahirlah generasi pengamat yang gemar mengutuk, tetapi alergi pada tanggung jawab. Generasi suara keras, tetapi kaki ringan. Generasi moral tinggi, tetapi daya juang rendah.

Jika pola ini terus dibiarkan, maka negeri ini tidak akan dihancurkan oleh musuh, melainkan oleh warganya sendiri yang memilih aman dalam keributan.

Jalan keluar hanya satu, yakni berhenti menyembah wacana. Ubah diskusi menjadi konsolidasi. Ubah kemarahan menjadi tuntutan. Ubah opini menjadi organisasi.

Mulailah dari lingkar kecil: komunitas hukum, kelompok pengawas kebijakan, pendidikan politik di tingkat lokal. Jangan tunggu figur besar. Gerakan tidak lahir dari pahlawan, tetapi dari keberanian biasa yang terkoordinasi.

Sejarah tidak mencatat siapa yang paling keras berbicara. Sejarah hanya mencatat siapa yang berani menggerakkan. Selama kita puas menjadi bangsa yang berisik, kita akan tetap menjadi bangsa yang lumpuh.

Dan selama kita lebih senang mengecam daripada bertindak, kemerosotan akan berjalan tanpa hambatan. Pertanyaannya kini sederhana dan brutal. Kita mau terus berteriak, atau mulai bergerak melakukan gerakan yang tidak merusak tapi memperbaiki negeri.

(Penulis adalah Guru Besar FISIP UI (pensiun), mantan Rektor Universitas Jayabaya, dan mantan Anggota DPR/MPR RI).