SERATUS TAHUN NAHDLATUL ULAMA: KONFLIK NU, SIAPA YANG RUGI – NAHDLIYIN, ISLAM, ATAU NKRI?

oleh
oleh

Dr. Ahmad Effendy Choirie (Ist)

 

Oleh : Dr. Ahmad Effendy Choirie

Ketua Umum DNIKS

 

Seratus tahun Nahdlatul Ulama (NU) – (31 Januari 1926 – 31 Januari 2026) bukan sekadar penanda usia organisasi keagamaan terbesar di dunia. Ia adalah penanda sejarah panjang perjuangan Islam Indonesia yang menyatu dengan nasib bangsa dan negara. NU lahir bukan dari ruang steril, melainkan dari pergulatan kolonialisme, kemiskinan, ketertinggalan umat, dan ancaman terhadap tradisi keislaman Nusantara.

Namun memasuki abad kedua, NU menghadapi ujian yang tidak ringan: konflik internal, baik yang tampak di permukaan maupun yang bergerak senyap di balik struktur dan jaringan kekuasaan. Pertanyaannya: jika NU terus berkonflik, siapa yang sebenarnya paling dirugikan?

Konflik NU: Bukan Soal Beda Pendapat, Tapi Arah Perjuangan

Perbedaan pendapat adalah keniscayaan dalam organisasi besar. NU sejak awal dibangun di atas tradisi ikhtilaf yang beradab. Yang menjadi masalah bukan perbedaan, melainkan pergeseran orientasi perjuangan—dari khidmah umat menuju tarik-menarik kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan jangka pendek.

Konflik NU hari ini tidak berdiri di ruang hampa. Ia sering kali dipicu oleh instrumentalisasi NU untuk kepentingan kekuasaan, pelemahan kemandirian jam’iyyah, serta menjauhnya agenda struktural NU dari problem riil nahdliyin: kemiskinan, ketimpangan, dan keterpinggiran sosial Jika konflik ini dibiarkan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya soliditas organisasi, tetapi masa depan peran historis NU.

Nahdliyin: Korban Pertama dan Utama

Pihak pertama yang dirugikan adalah nahdliyin di akar rumput. Warga NU mayoritas hidup di desa, pesantren, sektor informal, dan kelompok rentan. Mereka membutuhkan NU yang memperjuangkan kesejahteraan sosial, membela petani, nelayan, buruh, dan kaum mustadh’afin. Serta hadir sebagai penopang moral sekaligus advokat kebijakan public. Ketika elite NU sibuk berkonflik, agenda pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan perlindungan sosial terabaikan. NU berisiko menjadi simbol besar dengan daya guna sosial yang mengecil.

Islam Nusantara: Kehilangan Wajah Rahmatan lil ‘Alamin

NU adalah benteng Islam moderat, toleran, dan berakar pada tradisi lokal. Konflik berkepanjangan membuka ruang bagi menguatnya ekstremisme dan puritanisme, pudarnya otoritas ulama yang bijak, dan bergesernya Islam dari etika ke simbolisme politik. Jika NU melemah, maka Islam Indonesia kehilangan jangkar utamanya. Yang rugi bukan hanya NU, tetapi wajah Islam itu sendiri, yang selama ini dikenal ramah, damai, dan solutif.

NKRI : Taruhan Terbesar di Abad Kedua NU

Sejarah mencatat: Resolusi Jihad 1945, penerimaan Pancasila, hingga konsistensi menjaga keutuhan NKRI, emuanya tak bisa dilepaskan dari NU. Karena itu, konflik NU bukan isu internal semata, melainkan persoalan kebangsaan. Negara membutuhkan NU yang kuat secara moral, mandiri secara organisasi, dan kritis namun konstruktif terhadap kekuasaan. NU yang terfragmentasi akan melemahkan pilar sosial kebangsaan, membuka celah polarisasi, dan menjauhkan agenda keadilan sosial dari cita-cita kemerdekaan.

Refleksi Abad Kedua : Kembali ke Khittah Sosial-Kebangsaan

Seratus tahun NU seharusnya menjadi momentum muhasabah besar ntk mengembalikan NU sebagai gerakan keumatan, bukan sekadar kendaraan politik, memperkuat peran NU dalam agenda kesejahteraan sosial nasional, dan menyatukan kembali ulama, umara, dan umat dalam etika perjuangan NU tidak boleh habis oleh konflik internal ketika rakyat masih lapar, timpang, dan tidak terlindungi.

Penutup

Jika konflik NU terus dibiarkan, maka semua rugi: nahdliyin, Islam, dan NKRI. Tetapi jika NU mampu menjadikan usia 100 tahun sebagai titik balik, maka NU akan kembali menjadi kekuatan moral, sosial, dan kebangsaan yang menentukan arah Indonesia ke depan. Abad kedua NU bukan tentang siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang paling bermanfaat bagi umat dan bangsa. (Penulis adalah Ketua Umum DNIKS, mantan wartawan dan mantan anggota DPR/MPR)