Laksamana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi (net)
Oleh : Ambassador Freddy Numberi
Laksamana Madya TNI (Purn)
1. Pendahuluan
Sukarno adalah contoh figur pemimpin yang tidak mengejar harta atau materi. Hanya mendedikasinya jiwa raganya untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kekuasaan penjajah. la memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah mampu menyatukan kelompok-kelompok dan golongan golongan di masyarakat dalam sebuah gerbong perjuangan tanpa membedakan agama, suku, dan ideologinya.
Pemikiran dan tindakan Sukarno mengalir di sepanjang waktu. Perjuangan dan teladannya dapat memantik nalar dan kesadaran kita sebagai warga negara Indonesia. Gagasan-gagasannya bisa diadaptasi dan ditransformasikan bagi Indonesia masa kini dan mendatang.
Kita dapat belajar menjadi manusia Indonesia sejati, sebagaimana Sukarno. Salah satu gagasan penting dari Sukarno adalah tentang kesejahteraan sosial. Walaupun gagasan in juga disampaikan oleh tokoh-tokoh bangsa Iainnya, tetapi pandangan Sukarno terhadap kesejahteraan sosial relatif berbeda.
Tujuan perjuangan kebangsaan ala Sukarno adalah menciptakan kemerdekaan dan kesejahteraan sosial. la tidak bermaksud membangun masyarakat yang sama rata dan sama rasa dalam kemiskinan, tetapi menciptakan kehidupan sosialistis yang sejahtera bersama-sama.
Untuk mencapai kesejahteraan sosial, Sukarno menawarkan revolusi nasional demokratis dan revolusi social, revolusi ditandai dengan pernyataan pada tahap pertama, kemerdekaan dan pembentukan negara merdeka.
Tujuannya adalah menciptakan kehidupan yang demokratis. Sedangkan, pada tahap kedua, revolusi bertugas menciptakan kehidupan ekonomi yangdilakukan secara kolektif seraya memaksimalkan temuan dan pemanfaatan teknologi, sehingga kehidupan sejahtera secara kolektif pun menjadi kenyataan.
Dengan melihat gaya hiccup yang relative sederhana, Sukarno berusaha menunjukkan gaya hidup yang bersifat sosialistis dan siap untuk mencapai kesejahteraan bersama-sama. Gagasan kesejahteraan sosial in tidak akan lekang oleh waktu dan keadaan karena gagasan ini dapat menjadi acuan penting dari perjuangan yang dilakukan secara kolektif.
Salah satu tujuan kemerdekaan serta pembentukan negara Indonesia adalah mencapai kesejahteraan sosial. Gagasan dan aspirasi ini merupakan jawaban kolektif bangsa atas nasib buruk yang pernah dialami pada masa sebelumnya ketika Indonesia mash berada di bawah imperialisme dan kolonialisme asing.
Apabila usaha melawan penjajahan dan membentuk negara Indonesia dilakukan secara bersama- sama, maka hasilnya pun harus dinikmati secara kolektif. Sukarno pernah bertutur, “Dan, adakah kepala negara Iain yang Iebih melarat dari aku, dan sering meminjam-minjam (uang) dari ajudannya?”
Kita tentu harus melihatnya secara proporsional. Sebagai presiden, Sukarno tentu mampu hidup dalam keadaan serba berkecukupan. Namun, ia tidak ingin menjadi beban negara, walaupun tinggal di Istana Negara. la tercatat hanya memiliki sebuah rumah di Batu Tulis, Bogor. Rumah Iainnya ia belikan untuk istri-istrinya.
Sedangkan, akhirnya rumah di Batu Tulis pun disita oleh Sekretariat Negara selepas Sukarno tidak menjabat Iagi sebagai presiden. Rumah pribadinya itu diambil oleh negara tanpa dasar apa pun. Untunglah, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pernah memberi sebuah rumah dan sebidang tanah untuk keluarga Sukarno.
2. Pembahasan
Semua harta pribadi milik Sukarno yang ditinggalkan di Istana Negara saat diasingkan di Wisma Yaso oleh pemerintah Orde Baru sudah raib. Bahkan, anak anaknya pun tidak pernah mewarisi harta sang ayah yang berlebihan. Mereka justru harus bekerja untuk menopang kehidupan keluarga.
Guntur Sukarnoputra dipaksa berhenti sekolah dan bekerja membantu ibunya, Fatmawati Sedangkan, Megawati, Rachmawati, Sukmawati hidup bersama suaminya. Mereka masih berkumpul di rumah Fatmawati di Jl. Sriwijaya 26, Jakarta Selatan.
Kisah lainnya tentang betapa sederhananya kehidupan Sukarno munch dari T.D. Pardede, tokoh pengusaha asal Medan. la pernah memberi Sukarno pinjaman uang karena tahu betapa miskinnya sang presiden. Pada suatu hari, Presiden Sukarno sedang mengobrol bersama menteri menterinya. la pun mengajak Pardede ke pojok ruangan.
Di sana, Sukarno berkata, “Pardede, bisa kau pinjamkan aku uang?” Lantas, Pardede merogoh saku jasnya dan memberikan uang sebanyak 1000 dollar dari kantongnya. Namun, Sukarno hanya mengambil secukupnya dan mengembalikan sisanya kepada Pardede.
Salah satu ajudan terakhir Presiden Sukarno, yaitu Putu Sugianitri, menceritakan bahwa pada suatu saat, setelah tidak menjadi presiden, Sukarno berjalan-jalan keliling kota dan tiba-tiba ingin makan buah rambutan. “Tri, beli rambutan,” kata Sukarno.
“Uangnya mana?” tanya sang ajudan. “Sing ngelah pis,” Kata Sukarno dalam bahasa Bali yang artinya, “Saya tidak mempunyai uang.” Jadilah sang ajudan memakai uang pribadinya untuk mantan presiden yang tidak memiliki uang. Ada juga cerita yang dialami oleh Ali Sadikin. Waktu itu, Ali menjabat sebagai menteri koordinator maritim.
Pada suatu hari, ia ditanya oleh Sukarno bisa membantu bisnis mertua Sukarno yang berkaitan dengan perizinan pelabuhan atau tidak. Setelah dipelajari, Ali mengatakan tidak bisa. Peraturan memang mengatakan demikian. “Ya sudah, kalau tidak bisa,” kata Sukarno.
Ali Sadikin merasakan betul betapa Sukarno adalah sosok yang Iuar biasa. Padahal, sebagai presiden, ia bisa memaksakan memberi perintah. Bahkan, walaupun permintaannya ditolak oleh Ali. la justru mengangkat Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta.
3. Penutup
Dari cerita tersebut, kita tahu bahwa Sukarno tidak pernah gila harta. Ketika turun dari tampuk kekuasaan pun, ia dan keluarganya tidak membawa kekayaan yang melimpah ruah. Hanya satu benda yang dibawanya ketika meninggalkan istana. Benda itu merupakan simbol dari sejarah padang pengorbanannya untuk bangsa Indonesia.
la menggenggam erat bendera pusaka merah putih yang dibungkus gulungan kertas koran. ltulah bendera yang merupakan hasil jahitan Fatmawati, sang istri. (Penulis adalah Tokoh Politik Nasional dan militer, mantan Dubes Italia merangkap Malta dan Albania, mantan Menhub, mantan Menpan-RB, mantan Menteri Kelautan dan Perinakan, mantan Gubernur Irian Jaya).
Jakarta, 26 Agustus 2025





