Prof. Amir Santoso (net)
Oleh : Prof. Amir Santoso
Kegemparan yang disebarkan oleh media sosial pun meledak ketika pemerintah menetapkan Pak Harto sebagai pahlawan nasional pada tanggal 10 Nopember 2025 kemarin. Ini bisa dimaklumi karena Pak Harto adalah tokoh besar yang memimpin negara ini selama 32 tahun.
Semua tokoh besar itu adalah manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan. Begitu pula dengan Pak Harto. Sedangkan tokoh-tokoh kelas teri saja penuh dengan kritik apalagi dengan tokoh besar.
Pak Harto adalah presiden kedua RI menggantikan Bung Karno yang juga tokoh besar. Indonesia ini agaknya hanya punya dua tokoh tersebut sebagai tokoh besar. Lainnya hanya tokoh belum besar (kecil) dan yang banyak adalah tokeh.
Jadi jika ingin lebih mudah melihat kelebihan dan kekurangan Pak Harto maka hal itu bisa dilakukan dengan melihat juga prilaku dan kebijakan Bung Karno sebagai presiden pertama. Sebab dua tokoh tersebut masih bisa dikenang oleh banyak warga kita.
Jasa Bung Karno terhadap bangsa kita tidak bisa dikecilkan. Beliau adalah proklamator kemerdekaan RI bersama Bung Hatta. Pemersatu bangsa sehingga menjadi bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
Tapi agaknya Bung Karno (BK) terkena waham kebesaran terutama setelah berkuasa sendirian karena oposisi diberangus. Beliau memilih sebutan PBR, kependekan dari Pemimpin Besar Revolusi. Sebutan resminya adalah “Presiden/PBR Sukarno”. Lalu beliau juga diangkat oleh MPRS pada tahun 1963 sebagai Presiden Seumur Hidup.
Konon semula beliau menolak pengangkatan tersebut tetapi akhirnya menerima karena desakan dari golongan anti komunis di MPRS yang memiliki maksud agar BK bisa menghadang laju PKI.
Penetapan BK sebagai Presiden Seumur Hidup mirip dengan penetapan Pak Harto sebagai presiden sejak 1966 – 1998. Bedanya, BK diangkat sekali saja oleh MPRS sedangkan Pak Harto diperpanjang setiap lima tahun.
Dua tokoh tersebut tidak mampu menjadi presiden seumur hidup karena BK dijatuhkan oleh MPRS pada tahun 1966, dan Pak Harto mengundurkan diri pada tahun 1998. Dua tokoh itu jatuh setelah ada demo besar melawan mereka.
Jasa BK yang besar adalah sebagai salah satu tokoh pemersatu bangsa. Pak Harto juga bisa dianggap menjadi pemersatu bangsa karena dengan kemampuan manuver politiknya bisa menghindarkan Indonesia dari perang saudara akibat kudeta PKI 1965.
Di bawah kekuasaan Presiden Sukarno, suhu politik dalam dan luarnegeri terus memanas. PKI mendominasi panggung politik dengan menunggangi BK. Lawan-lawan politik PKI dengan sendirinya dianggap lawan Sukarno. Bung Hatta terpaksa mengundurkan diri di tahun 1952 karena berbeda pendapat dengan BK.
Mantan Perdana Menteri Syahrir, teman seperjuangan BK dan anggota trio Sukarno-Hatta-Syahrir di bui dan meninggal di Swiss dalam status tahanan. Buya Hamka dan beberapa tokoh ulama juga di bui. Lucunya, konon BK sendiri di saat menjelang wafatnya yang minta agar Buya Hamka yang menyembahyangkan jenazahnya, dan Buya melaksanakannya.
Di masa kekuasaan Pak Harto terjadi penyederhanaan jumlah parpol dari sepuluh menjadi tiga. Juga terjadi pembreidelan beberapa suratkabar, penahanan aktivis oposisi, dituding lakukan pembunuhan orang-orang yang dianggap membahayakan keamanan negara yang kesemuanya itu oleh para oposisi disebut sebagai pengebirian demokrasi dan pelanggaran HAM berat.
Anehnya, pembunuhan banyak ulama menjelang dan di saat Pemberontakan PKI tahun 1948 dan juga menjelang G30S/PKI di Jawa Tengah (di beberapa daerah di Jateng dibuat menumen peringatan pembunuhan tersebut) yang dilakukan di masa BK berkuasa tidak ada yang menyebutnya sebagai pelanggaran HAM berat.
Di masa BK berkuasa rakyat hidup serba melarat. Beras karena langka dan harganya mahal terpaksa diganti bulgur yang diimpor dari India. Harga-harga sandang pangan sangat tinggi dan kelaparan terjadi di mana-mana, mirip dengan yang terjadi di negara-negara Komunis. Generasi yang mengalami masa itu tentu masih ingat kondisi kemiskinan rakyat saat itu.
Di masa Pak Harto kemiskinan itu dientaskan. Rakyat dijadikannya makmur. Harga sandang pangan terjangkau, infrastruktur sosial ekonomi dibangun. Sarana irigasi dibangun dan harga pupuk terjangkau oleh petani. Puskesmas, Posyandu dan lain-lain juga dibangun di semua wilayah.
Untuk mengatur masalah beras dibentuk Bulog dan Dolog. Dibentuk pula Koperasi Unit Desa (KUD) di semua desa. Kurs dollar AS bertahan Rp 2000 per Dollar dalam masa sepuluh tahun atau lebih.
Di masa Pak Harto, Indonesia dianggap sebagai macan Asia. PM Mahathir dan PM Lee Kuan Yew sering ke Jakarta dengan penuh hormat kepada Pak Harto. Presiden negara-negara Barat termasuk Presiden AS Clinton tidak ada yang berani duduk bersilang kaki di depan Pak Harto.
Memang ada harga yang harus dibayar yaitu kebebasan para oposisi ditekan dengan maksud agar stabilitas nasional tidak terganggu. Tapi bukankah di masa BK oposisi juga diberangus ? Di masa Presiden Jokowi pun terjadi intimidasi terhadap mereka yang dianggap membahayakan negara seperti misalnya peristiwa KM 50.
Bangsa kita harus mulai memahami bahwa semua tokoh adalah manusia biasa dan tidak ada yang tanpa cacat. Yang harus dipertimbangkan adalah lebih banyak mana antara kebaikan dan keburukannya bagi sebagian besar warga. Dua tokoh di atas sama-sama berjasa kepada negara tapi juga punya kekhilafan. Tapi memang sifat manusia itu egosentris. Orang lain sering dinilai tapi lupa menilai diri sendiri. (Penulis adalah Guru Besar FISIP UI, mantan Rektor Universitas Jayabaya, mantan anggota DPR/MPR)





