Minang Marentak; Saling Berwasiat dengan Ade Armando

oleh
oleh
Ade Armando.

Kenapa hingga kini tak pernah ada yang protes. Kenapa untuk kami anda protes? Itulah akhir dialog tersebut, karena waktu sudah habis.

Saat ini, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dibawah semboyan NKRI harga mati, banyak yang berlebihan menyikapi sesuatu.

Hanya karena punya gelar akademik seabreg, atau merasa jadi tokoh nasional, mereka membuat tafsiran yang berlebihan terhadap sesuatu. Bahkan men-judge orang lain berpikiran dangkal, sempit, radikal, dungu, dan sebagainya.

Begitupun dengan pernyataan Dr Ade Armando, dosen UI saat mengomentari permintaan Gubernur Sumatera Barat untuk menutup situs injil berbahasa Minang kepada Menkominfo. Dia mengatakan bahwa orang Minang terbelakang dan lebih Kadrun daripada Kadrun, padahal dulu banyak menghaslkan orang orang pintar.

Pernyataan itu mendapat reaksi yang luas di kalangan masyarakat Minang. Tak kurang dari Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar Lc MA, mengeluarkan pernyataan yang sangat berkelas. Kata Buya Gusrizal, para pemimpin asal Minang, lahir dan dibesarkan di surau. Surau adalah tempat belajar Alquran. Alquran itu adalah Kitabullah. Itulah yang menjadi filosofi masyarakat Minang, yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

 

Ketua MTKAAM, Irfianda Abidin lebih keras lagi. Beliau menyatakan mencoret nama Ade Armando sebagai orang Minang. Dan ada pula yang menantang Ade Armando untuk diskusi terbuka.

Di kalangan masyarakat luas yang umumnya terlibat dalam Sosial Media, juga merasa gerah. Banyak group WhatApp yang saya ikuti memperbincangkan dan merasa tersinggung dengan pernyataan Ade Armando itu. Walaupun seperti biasa, tentu juga ada yang diam dan bahkan membela. Tapi jumlahnya tak banyak.

Kenapa orang Minang tersinggung? Maaf… Kalau ada ucapan yang sama untuk suku bangsa lain di negeri ini, apakah masyarakatnya juga tersinggung?

Pertanyaan itu dilontarkan kepada saya dari seorang teman yang bukan berasal dari Minang.

Saya jawab, tergantung kepada suku bangsa mana pernyataan itu di alamatkan dan apa pernyataannya.

Kalau anda menghina Hindu kepada suku bangsa Bali, saya kira mereka juga akan tersinggung.

Setiap kelompok masyarakat, apalagi suku bangsa, mempunyai filosofi dalam hidup mereka. Filosofi atau falsafah hidup itu selalu menjadi rujukan dalam bersikap, berbuat dan bertingkah laku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *