Sektor Riil
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diyakini akan menurun sampai minus atau kontraksi. Sisi penawaran atau supply side maupun demand menyusut drastis yang dapat dilihat kasat mata dari tutupnya pabrik, toko, tempat rekreasi dan rumah makan/ warung, transportasi dll.
Singkat cerita semua penjualan barang dan jasa termasuk mobil dan motor turun drastis. Ekspor – impor juga susut. PHK terjadi dimana mana. Disektor formal tercatat 6 juta PHK. Ini yang termonitor Kemennaker. Tentunya ada yang tidak termonitor. Ini baru yang disektor formal yang hanya 35% dari tenaga kerja.
Artinya tenaga kerja di sektor informal 65%, sehingga bisa jadi yang kehilangan lapangan kerja disektor informal mencapai dua -tiga kali lipatnya. Itu baru data sampai dengan Mei. Sudah dapat diduga PHK akan terus berlanjut. Jadi “terkendalinya” inflasi bukan sebuah prestasi tapi semata mata karena hilangnya daya beli.
Sektor pengolahan jelas ambruk. Nilai ekspor turun 28,8%, impor bahan baku turun 29,6%. Make a long story short, -meminjam istilah kawan Kadin,- bahwa sebelum Covid 19 sektor riil kita sudah goyah tapi kini benar benar ambruk.
Disektor keuangan, investasi portofolio asing terus mengalir keluar atau capital outflow. Neraca Transaksi Berjalan defisit kronis tidak kurang dari 3% PDB alias diatas USD30Miliar. Makanya nilai tukar rupiah meski sering di dongkrak dengan intervensi BI tapi cenderung selalu melemah sebab penyakit intinya adalah kekurangan supply dolar.
Pasar cenderung berebut dolar. Obatnya adalah kenaikan ekspor dan investasi asing disektor riil untuk mendatangkan atau mengisi dolar, bukan dengan utang dalam bentuk dolar. Sementara itu, investasi asing di Indonesia sebenarnya masih kecil, antara 5-10% saja.
Kini kita sedang mengharapkan berkah relokasi investasi asing yang meninggalkan China agar bersedia ke Indonesia. Tapi melihat regulasi dan pengalaman jelek selama ini, nampaknya investor asing itu tidak tertarik untuk ke Indonesia.
Berbelit, mahal dan banyak gangguannya. Makanya asing lebih senang hanya bermain di sektor portofolio yang sebetulnya tidak menciptakan lapangan kerja, tapi sewaktu waktu mudah kabur bersama keuntungan yang di dapat.





