Prof. Hendrawan Supratikno, MBA, PhD (net)
Oleh : Prof. Hendrawan Supratikno, MBA, PhD
Hari ini, 26 Maret 2026, untuk mengisi waktu, kami mengikuti wisata “Penguin Parade” ke Philip Island, sekitar 3 jam perjalanan dari Melbourne. Tiket dewasa AUS$150/orang, untuk anak-anak AUD$131/anak.
Sebelum ke Pulau Philip tersebut, kami berhenti di sebuah pantai (Brighton Bathing Box) dan sebuah kebun binatang (Moonlit Sanctuary). Pantainya biasa saja. Hanya terlihat jajaran pondok yang dicat warna warni, seperti ada karnaval pondok, yang di saat hujan hanya digunakan untuk tempat berteduh.
Di kebun binatang, anak-anak bisa berfoto dengan koala, walabi, kangguru dan beberapa jenis hewan lain. Disediakan pose foto khusus dengan koala, up-close & personal, dengan tarif AUS$30/orang.
Di Pulau Philip, kami berputar-putar. Tour guide menceritakan perilaku sejumlah binatang, khususnya penguin. Perilaku binatang ini terkadang dikaitkan dengan perilaku manusia. Misalnya, penguin punya kesetiaan terhadap pasangannya.
Malam beranjak datang. Tak ada sinar matahari lagi. Konon penguin ke darat di malam hari. Romantika penguin ada di darat. Kalau beruntung, sekitar pukuul 21.00, barisan Penguin akan muncul. Jika beruntung jumlah yang muncul banyak. Jika tidak, hanya puluhan yang datang.
Kalaupun yang muncul sedikit, dan melahirkan rasa kecewa, masih ada kata pemaaf, “this is not the right time” atau “next time better”. Alam tidak tunduk pada rumusan baku ilmu dagang.
Perilaku hewan dikemas menjadi paket wisata. Kemunculan penguin di darat, hal yang alami dan sangat biasa, bahkan waktu kemunculannya yang mengandung ketidakpastian, dikemas dalam paket wisata berbiaya pasti.
Ini era “experiential marketing”, “experienced utility”, yang di kampus-kampus diajarkan sebagai behavioral economics (racikan ekonomi dan psikologi) yang telah mengantar Richard Thaler memenangkan Nobel Ekonomi 2017.
Dalam tour ini, bahkan makanan pun tidak disediakan. Café-cafe di titik persinggahan menawarkan makanan dengan strategi harga untuk pembeli siap bayar (price insensitive buyers).
Ekonom Inggris, Partha Dasgupta, menulis buku menarik berjudul “On Natural Capital” (2025). Di tengah keprihatinan terhadap perubahan iklim dan degradasi lingkungan, pembangunan berwawasan lingkungan (eco-friendly dev), paradigma green-economics, harus diarusutamakan. Bahkan belakangan, muncul suara-suara tentang arti penting gerakan de-growth, less is more, yang melawan kecenderungan kapitalisme yang bersandar pada pilar ketamakan dan akumulasi modal (infectious greediness). Hal yang sudah disuarakan oleh Club of Rome lebih dari lima dekade yang lalu.
Bagaimana dengan kita di Indonesia? Masihkah kita akan terus mengandalkan PNBP dari eksploitasi galian tambang dan penebangan hutan yang sering mengabaikan matra ESG (environment, social & governance)?
Bencana ekologis di Sumatera sampai hari ini belum ditangani dengan tuntas. Ribuan keluarga masih menghuni huntara (hunian sementara) dengan sumber kehidupan yang sangat terbatas. Infrastruktur ekonomi dan sosial masih berantakan.
Sungguh sial, di tengah ancaman “tua sebelum kaya” (middle income trap) antara lain akibat regulasi dan birokrasi buruk, kecepatan lari kita kini ditambah satu kendala lagi, yaitu etika lingkungan. Kata ekonom, constraint always hurt (kendala selalu menyakitkan).
Namun jika etika tersebut benar-benar ditegakkan, mungkin “kendala” tersebut justru akan menjadi modal dan kekuatan baru. Natural capital menjadi sumber kebangkitan kita. (Penulis adalah Politisi PDIP, mantan anggota Komisi VII dan Komisi XI DPR)
Philip Island, Aussie, 26 Maret 2026





