Laksamana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi (net)
Oleh : Ambassador Freddy Numberi
Laksamana Madya TNI (Purn)
Mayor Jendral Carl von Clausewitz, Prussian Army, berkata: “Perang dengan demikian adalah tindakan kekuatan untuk memaksa musuh kita melakukan kehendak kita.” (Michael Howard and Peter Paret, “On War”, Oxford University Press, 1976: hal.13)
1. Pendahuluan
Perang dipraktekkan di berbagai lingkungan dan konteks. Penyebaran konflik pasca 29 September 2001, (9/11) telah memicu minat para akademisi dan militer profesional untuk mengkaji strategi pada perang modern, bukan perang konvensional lagi. Perang modern berupa serangan teroris, perang nuklir, perang drone, perang dunia maya dan lain-lain, bukan merupakan perang konvensional.
Meskipun ini selalu terjadi, pada periode modern telah menyaksikan kompleksitas perang yang semakin meningkat. Lingkungan strategis juga berubah sesuai dengan zamannya. Setiap lingkungan peperangan baru, muncul fitur, tantangan dan peluang yang berbeda untuk dihadapi “Sang Komandan” memimpin pasukan militernya.
Selain arena baru ini, penemuan senjata mutakhir seperti nuklir menghadirkan tantangan berat bagi mereka yang terlibat dalam penggunaan kekuatan militer dan melayani tujuan kebijakan nasional suatu negara. Bentukbentuk peperangan yang lebih tua (baca konvensional) juga mengalami perkembangan substansial (David Jordan,etal, Understanding Modern Warfare, Cambridge University Press, London, 2016: hal. 21).
Peperangan yang tidak teratur ini, membutuhkan pematangan pemikirpemikir profesional militer dan akademisi untuk mengkaji strategi apa yang digunakan, dalam menghadapi peperangan yang tidak teratur ini (Irregular Warfare). Saat yang sama, bentuk peperangan regular (baca konvensional) harus beradaptasi dengan teknologi baru dan pendekatan strategi baru.
Terlepas dari zaman modern, esensi perang tetap sama. Sepanjang waktu dan tempat, meskipun karakter perang telah berubah, sifatnya masih konstan. Inti dari sifat itu adalah politik. Perang adalah kegiatan politik yang kejam.
2. Pembahasan
Terlepas dari konteks spesifiknya, setiap perang memiliki alasan kebijakan suatu negara untuk memimbingnya. Memastikan bahwa sarana militer, melayani tujuan kebijakan secara efektif adalah ranah strategi. Setiap bentuk peperangan modern, baik yang bertindak secara terpisah atau beroperasi bersama dengan orang lain harus dipandu oleh strategi.
Proses yang memastikan perang memiliki tujuan dinamis. Strategi telah mengalami perkembangan yang beragam (selama periode ancaman yang meningkat, misalnya dari terorisme atau senjata nuklir). Strategi pun berkembang sesuai lingkungan yang ada.
Namun, perubahan dalam lingkungan keamanan internasional, kegagalan yang jelas dalam strategi atau kejijikan moral terhadap perang dapat merusak validitas, keinginan, dan persyaratan dalam suatu strategi. Juga sulit untuk mempertahankan pendekatan yang terpadu dan koheren dalam suatu strategi.
Kebutuhan akan strategi mungkin paling intens dalam menanggapi kompleksitas yang berkembang, seperti di Afghanistan, Irak, dan Suriah. Memang dapat disimpulkan bahwa kompleksitas strategi mencapai keadaan akhir yang memuaskan, biaya yang wajar, serta dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Strategi tidak mentolerir rumus untuk sukses, melainkan mencari jalan pendekatan yang lebih cocok untuk seni daripada sains. Setiap konteks dalam strategi itu unik, oleh karena itu membutuhkan campur tangan militer profesional dan penerapan aset yang unik.
3. Penutup
Dalam banyak hal, perkembangan strategi dalam peperangan modern cukup memuaskan. Sayangnya, di perguruan tinggi militer modern, teori strategis seringkali mendapat perhatian jauh lebih sedikit daripada mata pelajaran lainnya.
Hasil dari pendekatan semacam itu, melahirkan militer yang cenderung bergantung pada prinsip-prinsip sederhana yang berkaitan dengan masalah taktis dan operasional. Teori strategi adalah tentang pendidikan, bukan pelatihan atau doktrin.
Analisis Mayor Jendral Carl von Clausewitz, baik seorang perwira militer maupun akademisi, harus dididik untuk menyadari nilai dari teori strategi. “Teori strategi sejak awal, sehingga seseorang tidak perlu lagi dari awal dan diarahkan dalam keadaan baik, yang melahirkan militer yang profesional.” (Penulis adalah mantan Dan Gubernur Irian Jya)ubes Italia merangkap Malta dan Albania, mantan Menhub, mantan Menteri Perikanan dan Kelautan, mantan MenPAN/RB, dan mantan Gubernur Irian Jaya)
Jakarta, 16 Oktober 2025





