Dr. Ahmad Effendy Choirie (Ist)
Oleh : Dr. Ahmad Effendy Choirie
Pendahuluan
Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kembali memperlihatkan wajah lama politik dunia: perebutan kekuasaan, dominasi geopolitik, dan pertarungan kepentingan strategis di kawasan Timur Tengah. Konflik ini bukan sekadar perang antara negara, tetapi juga bagian dari persaingan hegemoni global yang melibatkan kepentingan militer, energi, keamanan regional, dan pengaruh politik internasional.
Namun dari perspektif Islam, perang tidak pernah dipandang sebagai instrumen utama politik. Perang hanya dibenarkan sebagai jalan terakhir untuk mempertahankan keadilan dan melawan kezaliman. Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW memberikan prinsip moral yang sangat tegas mengenai batas-batas perang.
Geopolitik Timur Tengah : Arena Perebutan Hegemoni
Timur Tengah sejak lama menjadi kawasan strategis dunia karena tiga faktor utama. 1. Cadangan energi terbesar dunia. 2. Letak geografis yang strategis. 3. Posisi politik dan ideologis yang kompleks Konflik antara AS, Israel, dan Iran tidak dapat dilepaskan dari pertarungan pengaruh di kawasan ini.
Bagi Amerika Serikat, stabilitas Timur Tengah sangat berkaitan dengan :
- keamanan energi global
- dominasi militer di kawasan
- perlindungan terhadap sekutu utamanya, Israel.
Sementara bagi Iran, konflik ini berkaitan dengan :
- mempertahankan kedaulatan nasional
- memperluas pengaruh regional
- menantang dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah.
Dalam konteks inilah perang sering kali berubah menjadi proxy war dan konflik strategis jangka panjang yang dampaknya meluas ke berbagai negara. Islam Tidak Membenarkan Agresi Al-Qur’an secara tegas menolak agresi dalam peperangan.
Allah SWT berfirman: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)
Ayat ini menegaskan bahwa :
- perang hanya boleh dilakukan sebagai pembelaan diri
- tidak boleh menjadi alat penindasan dan dominasi
- tidak boleh melampaui batas kemanusiaan.
Prinsip ini sangat penting dalam membaca konflik modern, karena banyak perang yang sebenarnya lebih didorong oleh kepentingan geopolitikdaripada pembelaan terhadap keadilan. Etika Perang Dalam Sunnah Nabi Nabi Muhammad SAW menetapkan standar moral yang sangat tinggi dalam peperangan.
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Nabi melarang :
- membunuh perempuan
- membunuh anak-anak
- membunuh orang tua
- merusak tanaman
- menghancurkan tempat ibadah.
Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian membunuh wanita dan anak-anak.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ini menunjukkan bahwa Islam telah menetapkan hukum humaniter perang jauh sebelum konsep tersebut dikenal dalam hukum internasional modern.
Namun perang modern sering kali mengabaikan prinsip ini. Serangan udara, rudal jarak jauh, dan teknologi militer canggih sering menyebabkan korban sipil yang sangat besar. Perang Modern dan Krisis Moral Dunia Perang modern menunjukkan paradoks besar dalam peradaban manusia.
Di satu sisi, dunia mengklaim menjunjung tinggi hak asasi manusia dan hukum internasional. Namun di sisi lain, perang terus terjadi dan sering kali melibatkan kekuatan militer yang sangat destruktif.
Dalam konflik perang AS–Israel melawan Iran, risiko yang muncul tidak hanya korban manusia, tetapi juga kehancuran ekonomi regional, krisis energi global, dan eskalasi konflik menjadi perang yang lebih luas. Jika eskalasi ini tidak dikendalikan, dunia berpotensi menghadapi konflik yang jauh lebih besar. Islam dan Jalan Perdamaian Islam pada dasarnya adalah agama yang mendorong perdamaian.
Allah SWT berfirman : “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.” (QS. Al-Anfal: 61) Ayat ini menunjukkan bahwa perdamaian harus selalu diutamakan ketika peluang itu tersedia. Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan bahwa diplomasi sering kali lebih efektif daripada perang.
Salah satu contohnya adalah Perjanjian Hudaibiyah, yang justru membuka jalan bagi perdamaian dan penyebaran Islam secara luas. Posisi Dunia Islam Konflik besar di Timur Tengah sering kali memperlihatkan lemahnya konsolidasi dunia Islam. Negara-negara Muslim sering terpecah oleh :
- kepentingan politik masing-masing
- rivalitas regional
- perbedaan mazhab dan ideologi.
Akibatnya, dunia Islam sering menjadi arena konflik geopolitik global, bukan menjadi kekuatan yang mampu menciptakan stabilitas kawasan. Padahal jika negara-negara Muslim mampu membangun solidaritas dan diplomasi kolektif, mereka dapat memainkan peran penting dalam menjaga perdamaian dunia.
Peran Indonesia Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi moral dan diplomatik yang sangat penting. Konstitusi Indonesia menegaskan bahwa tujuan negara adalah ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Karena itu Indonesia harus terus mendorong diplomasi perdamaian, penyelesaian konflik melalui dialog, dan penghormatan terhadap hukum internasional. Peran ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan.
Penutup
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sekali lagi menunjukkan bahwa dunia masih berada dalam bayang-bayang konflik geopolitik yang keras. Namun Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa perang bukanlah jalan utama penyelesaian masalah.
Perang hanya dibenarkan dalam kondisi mempertahankan diri dan harus selalu dibatasi oleh prinsip kemanusiaan. Pesan besar Islam bagi dunia adalah bahwa keadilan dan perdamaian harus menjadi fondasi hubungan antarbangsa.
Tanpa keadilan, perdamaian tidak akan pernah bertahan. Dan tanpa perdamaian, umat manusia akan terus terjebak dalam lingkaran perang yang tidak berkesudahan. (Penulis adalah Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), mantan Anggota DPR dari FPKB, dan mantan wartawan)





