Dr. Ahmad Effendy Choirie (Ist)
Oleh: Dr. Ahmad Effendy Choirie
Diplomasi luar negeri Indonesia selalu menjadi cermin arah ideologi, kepentingan nasional, serta posisi strategis Indonesia dalam percaturan global. Sejak era Soekarno hingga Prabowo Subianto, wajah diplomasi Indonesia terus mengalami dinamika, dari konfrontatif-revolusioner, pragmatis-ekonomis, hingga kini cenderung realistik-strategis. Pertanyaannya, di mana posisi diplomasi Presiden Prabowo dibandingkan para pendahulunya?
Soekarno: Diplomasi Ideologis dan Anti-Imperialisme
Era Soekarno ditandai dengan diplomasi yang ideologis dan penuh keberanian. Indonesia tampil sebagai motor Konferensi Asia-Afrika 1955 dan penggerak Gerakan Non-Blok. Politik luar negeri saat itu tidak sekadar “bebas aktif”, tetapi juga ofensif melawan imperialisme Barat. Konfrontasi dengan Malaysia dan kedekatan dengan blok Timur menunjukkan bahwa diplomasi Soekarno sarat dengan semangat revolusi global.
Soeharto: Stabilitas dan Diplomasi Pembangunan
Berbeda dengan Soekarno, Soeharto menggeser orientasi diplomasi menjadi lebih pragmatis dan berorientasi ekonomi. Indonesia kembali ke Barat, membuka pintu investasi, serta aktif membangun kawasan melalui ASEAN. Diplomasi diarahkan untuk stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi, bukan lagi konfrontasi ideologis.
B.J. Habibie: Diplomasi Transisi dan Legitimasi Global
Era B. J. Habibie adalah masa krusial. Fokus diplomasi adalah memulihkan kepercayaan internasional pasca krisis 1998 dan membuka ruang demokrasi. Keputusan referendum Timor Timur menjadi langkah besar yang mengubah wajah diplomasi Indonesia di mata dunia, meski penuh kontroversi.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Diplomasi Kultural dan Pluralisme
Abdurrahman Wahid membawa pendekatan unik: diplomasi berbasis nilai kemanusiaan, pluralisme, dan dialog antar peradaban. Langkah membuka hubungan dengan Israel (secara terbatas) dan pendekatan ke berbagai negara menunjukkan fleksibilitas tinggi, meski kerap dianggap tidak konvensional.
Megawati: Diplomasi Kehati-hatian
Pada era Megawati Soekarnoputri, diplomasi cenderung defensif dan berhati-hati. Fokus utama adalah stabilitas domestik dan menjaga keutuhan NKRI, terutama dalam konteks ancaman disintegrasi dan terorisme global pasca 9/11.
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): Diplomasi Citra dan Multilateralisme
Susilo Bambang Yudhoyono mengusung diplomasi “a million friends, zero enemies”. Indonesia aktif dalam forum global seperti G20dan memperkuat citra sebagai negara demokrasi Muslim moderat. Diplomasi era ini menekankan soft power dan peran global Indonesia sebagai penyeimbang.
Joko Widodo: Diplomasi Ekonomi dan Infrastruktur
Era Joko Widodo ditandai dengan diplomasi yang sangat pragmatis: ekonomi menjadi panglima. Fokus pada investasi, hilirisasi industri, serta penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Politik luar negeri diarahkan untuk mendukung pembangunan domestik.
Prabowo Subianto: Diplomasi Realisme Strategis dan Geopolitik
Kini, di bawah Prabowo Subianto, diplomasi Indonesia memasuki fase baru: realisme strategis. Prabowo menghadapi dunia yang jauh lebih kompleks: rivalitas Amerika Serikat vs Tiongkok, konflik Rusia–Ukraina, serta ketegangan Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam konteks ini, diplomasi Prabowo menunjukkan beberapa ciri utama: 1. Multi-alignment (bukan sekadar bebas aktif) Indonesia menjalin hubungan erat dengan semua kekuatan besar tanpa terjebak blok tertentu. 2. Penguatan pertahanan sebagai basis diplomasi Berbeda dari era sebelumnya, diplomasi kini ditopang oleh kekuatan militer dan industri pertahanan. 3. Ambisi sebagai mediator global Indonesia berpotensi memainkan peran sebagai penengah konflik global, termasuk di Timur Tengah. 4. Kombinasi hard power dan soft power Tidak hanya mengandalkan citra, tetapi juga kekuatan riil negara.
Perbandingan Strategis Jika diringkas:
- Soekarno: Ideologis-revolusioner
- Soeharto: Stabilitas-ekonomi
- Habibie: Transisi-demokrasi
- Gus Dur: Kultural-pluralis
- Megawati: Defensif-stabilitas
- SBY: Soft power global
- Jokowi: Ekonomi-pragmatis
- Prabowo: Realisme-geopolitik strategis
Penutup: Ujian Besar Diplomasi Prabowo
Diplomasi Presiden Prabowo akan diuji oleh kerasnya geopolitik global. Dunia tidak lagi unipolar, tetapi multipolar dan penuh ketegangan. Jika mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional, kekuatan militer, dan peran moral Indonesia, maka Indonesia berpeluang naik kelas: bukan hanya sebagai “pengikut” tatanan dunia, tetapi sebagai “penentu arah”. Di sinilah sejarah akan mencatat: apakah diplomasi Prabowo menjadi puncak evolusi politik luar negeri Indonesia, atau justru menghadapi jebakan realisme yang penuh risiko.
(Penulis adalah Ketua Umum DNIKS, mantan Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi PKB, dan mantan wartawan)




