Berkaca Dari ‘Mimpi Buruk’ Donald Trump

oleh
oleh
Ilustrasi Donald Trump (TWITTER)

Sebelum itu telah terbentuk “Black Lives Matter” sebuah gerakan aktivis mancanegara yang dimulai dari komunitas Afrika Amerika didirikan 2013, sebagai kelanjutan perjuangan tiada henti menentang kekerasan maupun rasisme sistemik terhadap orang kulit hitam.

Kasus Floyd  menjadi pendorong  momentum  konsolidasi baru warga kulit hitam. Mereka  tiba – tiba menemukan isu dan energi alam yang  spektakuler untuk mengukuhkan bangkitnya perlawanan  baru  lewat  kematian George Floyd. Trump diibaratkan sedang menghadapi jalan terjal yang berliku tersaput oleh awan hitam rentetan gerakan unjuk rasa berujung kerusuhan. Mengacaukan Amerika hari ini.

Unjuk rasa itu ditengarai dimanfaatkan kubu Joe Biden berbaur dengan pembenci Trump. Sebuah medan yang tidak empuk bagi Trump yang dibentengi kubu Republik. Menyulitkannya sebagai petahana untuk kembali ke kursinya dengan mulus sebagai presiden periode kedua. Sebuah kondisi yang bertolak belakang di awal pemerintahannya. Ketika itu Trump dengan gagah perkasa mengumumkan lima langkah drastis pemerintahannya. Terutama kebijakan luar negeri yang kontroversial di sepanjang 2017.

Sebutlah, (1). Kebijakan imigrasi yang membatasi jumlah imigran muslim masuk ke AS; (2). Memerintahkan pembangunan tembok di perbatasan Amerika dan Meksiko; (3). Menganggap perubahan iklim dan pemanasan global sebagai isu yang tidak penting dan menarik diri dari perjanjian Paris; (4). Menarik AS keluar dari Kemitraan Trans-Pasifik; (5). Memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem. Malah di awal kepemipinannya itu, dia juga mengancam mencabut  failitas layanan kesehatan ACA (Affordable Care Act), kebijakan buah kepemimpinan Obama yang disebut Obamacare.

Kemungkinan besar latar belakang Trump sebagai pengusaha konglomerat raksasa Amerika sukses yang dijuluki  “raja properti” selama kurang lebih 40 tahun (1971 – 2011), yang menjadi faktor utama menjadi pemicu mengerasnya karakter kontroversial dalam dirinya. Membuatnya bermental petarung. Berani tabrak lari. Gemar mencetak musuh.

Perwatakan kontroversial pribadinya itu nampaknya bersenyawa dengan karakter dunia usaha  yang memuliakan  kata “spekulasi” sebagai “ayat suci” mereka. Gabungan dua watak unik itu yang dihayatinya terimplementasikan dalam hampir semua kebijakan politiknya. Menimbulkan dugaan sukses besar di bidang properti itulah menguatkan pula  jiwa rasisnya.

Pernah tidak mengizinkan orang kulit hitam membeli perumahan di kawasan propertinya. Ada yang memperkirakan, di tangan Trump jargon America First lah yang menjadi peta jalan yang menyuburkan politik identitas. Merujuk kepada pendirian kebijakan luar negeri di Amerika Serikat yang umumnya memuja nasionalisme, unilateralisme, proteksionisme, dan isolasionisme.

Yang menarik untuk dicatat, Trump adalah presiden AS pertama yang tidak pernah memegang jabatan yang dipilih publik alias tidak pernah jadi senator. Tidak pernah  bertugas di militer. Malah pernah dimakzulkan (impeachment) oleh DPR, tapi dimentahkan di sidang Senat. Ketika dilantik sebagai presiden ke-45 AS pada 20 Januari 2017, usianya 70 tahun 7 bulan. Mengalahkan Ronald Reagan presiden AS ke 40 kelahiran Februari 6 Februari 1911, yang ketika dilantik  20 Januari 1981 dalam 69 tahun 11 bulan.

Mantan presiden Barrack Obama, pada Rabu (03/06) waktu setempat sempat berpidato sebagai ungkapan dukacita dan empati atas kematian George Floyd. Obama berkata, sekarang aku ingin berbicara langsung pada pemuda pria dan wanita kulit berwarna di negara ini, yang telah menyaksikan terlalu banyak kekerasan dan terlalu banyak kematian, dan terlalu sering beberapa dari kekerasan itu berasal dari orang-orang yang seharusnya melayani dan melindungi Anda. “Dan bagi mereka yang berbicara tentang protes, ingat saja, negara ini didirikan karena adanya protes. Itu disebut revolusi,” tegas Obama yang mantan jaksa itu.

Dalam perkembangannya sekarang ini terlihat sasaran rasisme tidak lagi bernada tunggal sebagai bentuk kebencian terhadap warna kulit tertentu semata. Rasisme terlihat sedang bermutasi ke mana-mana. Ia bisa ditemukan dalam  bentuk “wajahnya” yang lain seperti: intrik, fitnah, adu domba, dan ujaran kebencian yang kesemuanya bersumber dari hulunya, yaitu  politik identitas.

Rasisme dan “wajah – wajahnya” yang  lain  itu  adalah  “anak kandung” politik identitas, kini memegang peran sentral sebagai “senjata pemusnah” lawan politik untuk memproteksi kekuasaan. Indonesia sangat beruntung mendapat pelajaran gratis dan terbuka dari Amerika lewat jendela dunia. Menyaksikan praktik rasisme itu beroperasi menyusup ke dalam demokrasi dan merusaknya.

Teman pengirim WhatsApp itu mendesak supaya menulis ulang lagi kalimat ini: Hari ini Trump tentu saja masih bisa tersenyum, sekalipun senyumnya itu hanya sekadar menunda tangis.

*).  Wartawan senior dan pemerhati masalah sosial budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *